Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 Maret 2025 | 04.42 WIB

Dikejar sampai ke Restoran Lalu Dipukul, 25 Massa Aksi Demo Tolak UU di Surabaya Diamankan sebelum Dipulangkan pada Menjelang Subuh

Demo Tolak UU TNI di depan Grahadi, Surabaya yang berujung ricuh. (Riana Setiawan/ Jawa Pos) - Image

Demo Tolak UU TNI di depan Grahadi, Surabaya yang berujung ricuh. (Riana Setiawan/ Jawa Pos)

JawaPos.com-Sebanyak 25 massa aksi dini hari tadi (25/3), pukul 03.30 dini hari secara berangsur keluar dari Markas Polrestabes Surabaya. Dengan kepalan kedua tangan diacungkan ke atas, sebagian massa aksi tersebut beranjak keluar disambut ratusan kawan seperjuangan yang menanti di tepi jalan. Ratusan massa demonstran yang lain begitu setia menunggu sejak Senin (24/3) malam begitu mendapati kabar sebagian rekan mereka diamankan kepolisian. 

Baca Juga: Jurnalis Suara Surabaya Diintimidasi, Dipaksa Hapus Foto Massa yang Diamankan Polisi saat Demo Tolak UU TNI di Grahadi Surabaya
Lagu perlawanan "Buruh Tani, Mahasiswa, Rakyat Miskin Kota,” langsung menggema menyongsong 25 massa aksi yang baru saja menjalani rangkaian pemeriksaan. Lagu ciptaan Safi’i Kemaman yang dipopulerkan band punk Marjinal tersebut telah menjadi bagian tak terpisahkan bagi massa aksi. Termasuk ketika menyuarakan aspirasi penolakan terkait UU TNI di depan Gedung Grahadi pada Senin (24/3) sore.

Salah seorang massa aksi yang keluar dengan senyum semringah adalah Mamat, bukan nama sebenarnya. Mahasiswa salah satu PTN di Surabaya tersebut bersama teman-teman kampus beranjak mengikuti aksi demonstrasi pada Senin sore. Unjuk rasa yang awalnya berjalan damai itu kemudian beranjak ricuh menjelang adzan maghrib berkumandang. 

Mendapati suasana yang tak lagi kondusif, Mamat beserta rekannya Abe (nama samaran) langsung mengamankan diri ke arah Jalan Pemuda. Di sana mereka membaurkan diri sebagai dengan pengunjung di salah satu rumah makan di kawasan tersebut. ”Kami sudah mau pergi tapi masih dikejar,” ungkapnya. 

Di restoran tersebut mereka kemudian didatangi oleh sejumlah personel kepolisian. Kendati sudah berusaha membaurkan diri dengan para pengunjung, Abe tetap diseret oleh petugas keamanan yang menyisir di sekitaran lokasi pada Senin (24/3) petang. ”Dikiranya saya termasuk massa perusuh. Padahal saya sudah bilang kalau bukan,” ungkap Abe.

Mahasiswa PTN di Surabaya itu kemudian mengaku menerima beberapa hadiah pukulan pada bagian wajah dan perut. Akibatnya pada bagian pelipis dari mahasiswa angkatan 2023 tersebut masih tersisa bekas memar-memar kecil. ”Perut saya juga masih sakit sampai sekarang ini rasanya nyeri,” imbuhnya.

Tak kuasa melihat temannya menjadi bulan-bulanan aparat, Mamat bermaksud untuk melerai. Namun alih-alih beranjak kondusif, dia justru gantian menjadi sasaran petugas keamanan. Mahasiswa asal Bojonegoro itu lantas digelandang oleh personel kepolisian untuk diamankan ke Mapolrestabes Surabaya.

''Saya awalnya mau nolongin teman saya itu, tapi malah saya yang diamankan. Teman saya (Abe) berhasil lolos,” paparnya. Mamat menjadi salah satu dari 25 massa aksi yang diamankan. Perinciannya, 12 orang mahasiswa, 12 orang pekerja, serta satu orang pelajar SMK. Kedua puluh lima massa aksi itu digelandang ke Mapolrestabes Surabaya untuk dimintai keterangan.

Dalam proses permintaan keterangan itu, Mamat menuturkan bahwa dirinya bersama sejumlah massa aksi lainnya sempat mendapatkan pemukulan dari aparat kepolisian. Insiden itu dialami saat dia bersama rekan-rekan lainnya baru saja menginjakkan kaki ke kantor kepolisian. ”Mungkin karena ngiranya kami yang provokasi waktu kejadian ricuh,” ujar lelaki 19 tahun tersebut. 

Mahasiswa jurusan ilmu politik itu menjalani rangkaian pemeriksaan kurang lebih selama tujuh hingga delapan jam. Sebelum akhirnya mendapatkan pendampingan hukum dari KontraS Surabaya. ”Kami sempat dihalangi tidak boleh masuk. Baru kemudian bisa memberikan pendampingan sekitar pukul 01.00 pagi tadi (kemarin, Red),” terang Koordinator KontraS Surabaya Fatkhul Khoir.

Sementara itu Polrestabes Surabaya membantah adanya pemukulan kepada massa aksi. Kasihumas Polrestabes Surabaya AKP Rina Shanty Dewi mengungkapkan bahwa dalam pemeriksaan 25 massa aksi personel kepolisian telah didampingi oleh Provost. ”Sudah diwanti-wanti juga sama Pak Kapolrestabes untuk tidak melakukan kekerasan,” tuturnya.

Rina menambahkan bahwa aksi penganiayaan justru dialami oleh personel kepolisian. Total terdapat 15 anggota kepolisian yang mengalami luka akibat dilempari batu oleh massa aksi. ”Satu orang personel kami dari Satreskrim bahkan masih menjalani rawat inap di RS Bhayangkara,” imbuh Rina. (*) 

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore