JawaPos.com – Banjir akibat luapan Kali Surabaya semakin meluas. Setelah kemarin (25/2) puluhan rumah di Gang Gelatik II, Karangpilang, terendam air dengan ketinggian lebih dari 75 cm, hari ini (26/2) genangan juga melanda permukiman di Jalan Raya Waru Gunung, RW 1 dan RW 2. Data dari BPBD Surabaya mencatat sebanyak 200 kepala keluarga (KK) atau sekitar 577 jiwa terdampak dengan ketinggian air bervariasi antara 20 hingga 80 cm.
Salah satu warga terdampak, Astin (65), mengalami kesulitan karena kondisi kesehatannya. Ia hanya bisa terbaring di kasur akibat stroke yang menyerang kaki dan tangannya. “Saya cuma bisa baring di kasur, air makin naik, saya takut tapi mau bagaimana lagi?” ujarnya kepada JawaPos.com, Rabu (26/2).
Astin yang tinggal bersama suaminya, Waloyo (67), awalnya menolak dievakuasi meskipun air terus naik. Namun, setelah dibujuk, ia akhirnya dipindahkan ke posko di Balai RW 1. “Saya sudah tua, cuma berdua sama istri yang sakit. Kalau air makin tinggi, saya nggak kuat bertahan di rumah,” kata Waloyo yang juga kesulitan menyelamatkan barang-barang mereka karena kondisi fisiknya.
Ketua Tim Operasional Kedaruratan BPBD Surabaya, Arif Sunandar, mengatakan bahwa laporan pertama masuk ke nomor darurat 112 sekitar pukul 06.00 WIB. Petugas kemudian mengecek lokasi dan mendapati air sudah masuk ke rumah-rumah warga. “Kami langsung melakukan asesmen cepat dan menemukan dua RW yang terdampak cukup parah. Yang pertama kami lakukan adalah mengevakuasi kelompok rentan, seperti lansia, anak-anak, dan warga yang sakit,” jelasnya. Hingga sore ini, BPBD telah mengevakuasi empat orang, termasuk Astin, ke lokasi pengungsian.
Sebagian besar warga memilih bertahan di rumah meskipun air terus naik. Namun, BPBD telah menyiapkan tiga lokasi pengungsian, yakni di Balai RT, Balai RW 1, dan Panti Asuhan Muhammadiyah. “Karakteristik warga di sini memang lebih memilih bertahan karena khawatir barang-barang mereka hanyut atau hilang. Tapi kami tetap memantau situasi dan mendirikan posko siaga bencana agar bisa cepat merespons jika keadaan semakin buruk,” tambah Arif. Ia juga mengimbau warga agar tidak beraktivitas di sekitar bantaran sungai, terutama anak-anak, demi menghindari risiko terseret arus.
Menurut BPBD, banjir ini terjadi akibat curah hujan tinggi di wilayah hulu, terutama Mojokerto dan Jombang, yang menyebabkan debit air sungai meningkat drastis. “Wilayah selatan, khususnya Mojokerto, mengalami hujan deras sejak kemarin, sehingga Surabaya mendapat kiriman air. Saat ini, pintu air Karah sudah dibuka penuh untuk mempercepat aliran ke laut, tapi kondisi ini diperparah dengan adanya rob atau naiknya air laut akibat fase bulan purnama,” jelas Arif. Pihaknya akan terus melakukan pemantauan hingga kondisi kembali normal dan memastikan bantuan bagi warga terdampak tetap tersedia.