JawaPos.com – Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Swasta Surabaya berkomitmen untuk meningkatkan literasi digital bagi siswa dan guru melalui program Vokasi Digital Literasi. Program ini bertujuan untuk tidak hanya memperkenalkan teknologi digital, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan menciptakan konten digital yang bermanfaat bagi dunia pendidikan dan karier mereka di masa depan.
Ketua MKKS SMK Swasta Surabaya, Yusuf, menekankan bahwa literasi digital tidak boleh berhenti pada sekadar konsumsi media sosial.
"Kami ingin para siswa tidak hanya menjadi pengguna pasif di platform seperti YouTube, TikTok, atau Instagram, tetapi juga mampu menghasilkan konten berkualitas. Mereka bisa menulis cerita digital, membukukan karya tulis mereka secara daring, atau bahkan membuat materi pembelajaran digital yang bisa diakses oleh lebih banyak orang," ujar Yusuf, Kamis (6/2).
Salah satu fokus utama dalam program ini adalah melatih siswa untuk menulis esai ilmiah dan cerpen yang nantinya akan dipublikasikan melalui platform digital. Untuk mendukung publikasi karya tersebut, MKKS juga menggandeng Gramedia agar tulisan-tulisan siswa bisa menjangkau khalayak yang lebih luas.
Tidak hanya bagi siswa, guru juga menjadi sasaran utama dalam program ini. Yusuf menegaskan bahwa tenaga pendidik harus dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi agar metode pembelajaran lebih interaktif dan menarik.
"Kami ingin para guru tidak hanya mengandalkan cara mengajar konvensional, tetapi juga memahami bagaimana memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. Mereka bisa membuat materi interaktif, video edukatif, hingga mengelola platform digital yang bisa diakses oleh siswa," jelasnya yang juga merupakan Kepala SMK Saintren Al-Hasan.
Dalam pelaksanaannya, setiap sekolah mengirimkan satu tim yang terdiri dari seorang guru pendamping dan dua siswa untuk mengikuti pelatihan literasi digital. Meskipun jumlah peserta utama terbatas, mereka diharapkan dapat membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada tim yang lebih besar di sekolah masing-masing.
Direktur Politeknik Ubaya, Agung Sri Wardhani, menilai program ini sebagai langkah positif dalam mempersiapkan siswa SMK menghadapi dunia kerja. Menurutnya, pemahaman digital tidak hanya penting dalam dunia akademik, tetapi juga menjadi keterampilan esensial di industri yang semakin terdigitalisasi.
"Program ini sangat bermanfaat karena membekali siswa dengan kompetensi digital dan literasi yang lebih baik. Selain itu, guru pendamping juga mendapatkan manfaat dari pelatihan yang diberikan," ungkap Agung.
Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi antara SMK, perguruan tinggi, dan industri sangat penting dalam menciptakan lulusan yang siap bersaing di dunia kerja.
"Baik SMK maupun politeknik memiliki pendekatan berbasis praktik, sehingga tujuan akhirnya adalah membekali siswa dengan keterampilan yang dapat langsung diterapkan di dunia kerja. Dengan adanya program seperti ini, diharapkan lulusan SMK lebih mudah terserap oleh industri," tambahnya.
Meski demikian, Yusuf mengakui adanya tantangan dalam penerapan program ini, terutama terkait dengan keterbatasan infrastruktur digital di beberapa SMK swasta. Ia berharap dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, dapat membantu memperkuat sarana dan prasarana pendidikan berbasis digital.
Program Vokasi Digital Literasi ini telah dimulai sejak Januari 2025 dan akan berlangsung hingga April 2025. Ke depannya, MKKS berencana mengadakan program serupa di tingkat SMP guna menanamkan budaya literasi digital sejak dini.