JawaPos.com-Ada sebuah tradisi di Klenteng Sanggar Agung Surabaya yang penuh makna dalam setiap perayaan Imlek, yaitu melepaskan burung ke udara. Kegiatan ini tidak hanya sebagai simbol kebebasan, tetapi juga sarat dengan makna spiritual dan filosofi hidup. Eka, seorang sukarelawan di klenteng ini, menjelaskan bahwa tradisi melepaskan burung ini memiliki arti yang dalam dalam budaya Tionghoa.
"Tradisi ini dikenal dalam bahasa Mandarin sebagai fàng shēng, yang artinya melepaskan makhluk hidup. Fàng berarti 'melepaskan,' dan shēng berarti 'kehidupan' atau 'makhluk hidup'. Ini bukan hanya sekadar melepaskan burung, tetapi juga simbol dari memberi kebebasan dan kehidupan kepada makhluk hidup. Dalam filosofi ini, kita diajarkan untuk tidak menyengsarakan orang lain atau makhluk hidup lainnya," ujar Eka kepada JawaPos.com, Rabu (29/1).
Tradisi fàng shēng dalam perayaan Imlek ini menjadi cara untuk menunjukkan rasa syukur, menghargai kehidupan, dan mengingatkan umat untuk hidup dalam kedamaian. Menurut Eka, nerbangin burung merupakan bentuk tindakan baik yang memiliki tujuan untuk menciptakan keberkahan dan mendatangkan karma positif bagi si pembebas. "Dalam tradisi ini, kami diingatkan untuk lebih berempati dan tidak menyusahkan makhluk hidup. Dengan melepaskan burung, kita memberi kesempatan bagi mereka untuk hidup bebas," jelasnya.
Biasanya, burung yang dilepaskan adalah burung gereja, jenis burung kecil yang banyak ditemukan di sekitar klenteng. Burung-burung ini dijual oleh masyarakat sekitar dengan harga sekitar 1.500 rupiah per ekor.
"Masyarakat sekitar klenteng biasa menjual burung gereja kepada kami. Harga per ekor burung sekitar 1.500 rupiah, tetapi jumlah burung yang dibeli tergantung kemampuan masing-masing umat. Ada yang membeli satu ekor, dua ekor, bahkan ada yang membeli satu kandang burung untuk dilepaskan sekaligus," tambah Eka.
Namun, tak hanya burung gereja yang dilepaskan. Beberapa umat yang lebih berkecukupan secara finansial juga membeli hewan lain, seperti ikan atau bahkan sapi, untuk dilepaskan kembali sebagai simbol kebebasan.
"Beberapa umat ada yang mengumpulkan dana untuk membeli sapi di Rumah Potong Hewan (RPH) dan kemudian melepaskannya setelah dibeli kembali. Meskipun sudah melalui proses pemotongan di RPH, mereka membeli kembali dan membebaskannya. Ini merupakan bentuk rasa syukur dan kasih sayang terhadap kehidupan," kata Eka.
Lebih dari sekadar ritual agama, kegiatan nerbangin burung mengajarkan umat untuk menghargai kehidupan, baik itu kehidupan manusia maupun makhluk hidup lainnya. Tradisi ini mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap penderitaan makhluk lain dan memberikan kebebasan bagi mereka, baik secara fisik maupun spiritual. (*)