Banjir parah melanda Kota Surabaya setelah diguyur hujan deras selama empat jam. (Dok/DPKP Kota Surabaya)
JawaPos.com - Hujan deras yang mengguyur pada Selasa sore hingga menjelang petang (24/12), membuat hampir seluruh wilayah Kota Surabaya terendam banjir. Ketinggian genangan airnya bahkan sempat mencapai 80 centimeter.
Koordinator Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi; dan Geofisika (BMKG) Maritim Tanjung Perak Surabaya, Ady Hermanto mengatakan bahwa banjir parah di Surabaya, disebabkan oleh banyak faktor.
Mulai dari curah hujan yang tinggi, kondisi pasang air laut, hingga terbentuknya awan cumulonimbus yang dipengaruhi gelombang kelvin dan rossby. Ditambah, kondisi geografis Surabaya yang merupakan area hilir.
"Kan saat ini banyak daerah yang terjadi hujan. Ada ketambahan debit air dari sana, lalu mengalir ke lautan. Itu lah kenapa,meskipun curah hujan di Surabaya tidak tinggi, tapi kok terjadi banjir,” ucapnya, Kamis (26/12).
Curah hujan yang tinggi di Surabaya, lanjut Ady, lebih dominan disebabkan oleh terbentuknya awan cumulonimbus, yang sering terjadi antara sore hari hingga menjelang petang. Durasi kemunculan awan ini satu sampai empat jam.
Pasang air laut di kawasan pesisir Kota Surabaya juga menjadi salah satu faktor penyebab. Kondisi ini berisiko memperparah kejadian banjir, sebab air tidak bisa mengalir bebas hingga ke laut.
“Jadi dia (air laut) terhambat, jadi tidak ada aliran ke laut, sehingga mengapa banyak laporan dari masyarakat terjadinya banjir, karena berbarengan dengan adanya pasang air laut," imbuhnya.
Ady kemudian mengatakan bahwa banjir yang merendam wilayah Surabaya pada Selasa (24/12) kemarin belum puncaknya. BMKG memperkirakan akan ada banjir yang lebih parah pada akhir Desember ini.
"Apalagi pada 28-29 Desember ini pasang laut mencapai nilai maksimumnya, antara 130-140 centimeter dari permukaan air laut,” ujar Ady. Kondisi ini membuat Surabaya berpotensi terjadi banjir rob. Terutama di kawasan pesisir.
Masyarakat lantas diimbau untuk melakukan pembersihan drainase dan memperluas serapan air secara rutin. “Karena ketika air tidak bisa bebas mengalir ke laut, otomatis diharapkan air ini bisa mengalir ke dalam tanah,' tukas Ady.