Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 17 Januari 2024 | 00.03 WIB

Viral! Video Paguyuban Jukir Surabaya Tolak Pembayaran Menggunakan Qris, Tuai Komentar Kontra Netizen

Video Jukir menolak pembayaran parkir menggunakan Qris. (Sumber: Instagram Asli Surabaya) - Image

Video Jukir menolak pembayaran parkir menggunakan Qris. (Sumber: Instagram Asli Surabaya)

JawaPos.com – Beredar video para Jukir (Juru Parkir) Surabaya serentak menolak kebijakan pemerintah membayar parkir menggunakan Qris.

Sayangnya respons netizen dalam menanggapi video tersebut banyak menuai komentar yang kontra terhadap protes Jukir.

Dalam video yang berdurasi sekitar satu menit itu, puluhan Jukir Surabaya berkumpul dan menyuarakan kegelisahannya.

Diwakili oleh salah satu Jukir yang berada di tengah barisan, dengan membawa pengeras suara, sang ketua pembicara menyerukan bahwa video ini dibuat untuk protes kepada Walikota Surabaya.

Pria berkemeja abu-abu dan bercelana hitam itu mengatakan bahwa kata-kata yang ia ungkapkan merupakan perwakilan dari seluruh Jukir Surabaya.

Dalam pidatonya yang singkat, sang Jukir menyerukan kepada Walikota Surabaya Eri Cahyadi untuk mendengarkan aspirasi mereka.

Para Jukir dengan lugas dan berulang menyerukan bahwa mereka menolak kebijakan Pemkot atas pembayaran parkir non-tunai.

“Dengan hormat Bapak Walikota Surabaya, kami Paguyuban Jukir Surabaya, mewakili seluruh Jukir, menolak pembayaran non tunai berada di Surabaya,” serunya.

Hal ini diungkapkan secara berulang dengan disambut seruan tanda setuju oleh para Jukir lain yang berada di sekitarnya.

Dilansir dari Instagram Asli Suroboyo, baru satu hari diunggah, video viral tersebut sudah mendapatkan satu juta penonton.

Tidak hanya itu, ada sekitar tujuh ribu lebih netizen mengungkapkan kata hatinya seolah tidak setuju dengan video tersebut.

Video yang diunggah oleh Instagram Asli Suroboyo, bertuliskan caption “yoopo pendapatmu rek” ini menuai banyak komentar warganet.

Hampir seluruh komentar netizen terkait video tersebut mengungkapkan pengalaman kecurangan dan keresahan warganet terhadap sikap para Jukir di lapangan.

Seperti soal ketidaksesuaian harga tarikan parkir dengan harga yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.
 
 
“Saya dukung non tunai. Ada tulisan parkir tiga ribu, tapi ditarik lima ribu,” ungkap akun @briansyahb.
 
Menanggapi komentar akun di atas, warganet lain mengaku mendapatkan pengalaman yang sama dan merasa geram.
 
“Masih mending, yang tulisan free parkir masih di tarik juga,” ungkap salah satu balasan komentar netizen @langitsyahdu.
 
 
Tidak hanya biaya parkir yang ditetapkan oleh pemerintah, para warganet juga mengungkapkan penarikan biaya parkir pada toko atau supermarket yang menuliskan tanda “parkir gratis”.
 
Hal itu membuat para warganet geram, karena terkadang mereka tidak belanja, namun parkir tetap harus bayar.
 
Ada juga warganet yang memberikan saran untuk para Jukir supaya mengikuti perkembangan zaman agar tidak ketinggalan.
 
 
“Jadi ingat dulu antara Ojol dan Opang kan juga gini, yang Opang menolak adanya Ojol,tapi akhirnya sekarang ya sudah perkembangan zaman, semua milih yang praktis. Ayo bapak-bapak, ikuti perkembangan zaman,biar tidak kegeser,” ungkap @ayumaharani88.
Editor: Nicolaus Ade
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore