
Ilustrasi buku nikah. Dok JawaPos
JawaPos.com–Tiap 10 November, baju-baju cokelat atau baju seragam pertempuran zaman dahulu dipilih masyarakat untuk menyemarakkan Hari Pahlawan.
Menurut desainer Batik TW Tikno Wiroyudho mengatakan, pakaian para pejuang yang digunakan masyarakat saat ini, sudah melalui modifikasi yang cukup lama. Mayoritas sudah mengubah jenis bahan pakaian yang digunakan.
”Kalau untuk model dan cutting, sudah pakem baju-baju pejuang. Jadi kesannya tegas dan gagah. Yang banyak dimodifikasi adalah bahan,” tutur Tikno, Rabu (10/11).
Sebab, baju pejuang zaman peperangan masih menggunakan bahan kain goni. Untuk bahan baju pejuang yang digunakan saat ini, masyarakat banyak menggunakan bahan katun. Menurut Tikno, masyarakat cenderung memilih pakaian yang minim modifikasi. Harapannya, ketika baju pejuang digunakan di momen 10 November, pengguna akan terlihat seperti pejuang, effortlessly.
”Baju pahlawan model itu banyak digunakan karena dalam pemahaman masyarakat sejak dulu, baju pahlawan ya pakaian cokelat yang gagah seperti ini,” jelas Tikno.
Tikno mengaku sempat terisnpirasi dari pakaian para pejuang. Inspirasi itu dituangkan dalam beberapa koleksinya. Salah satunya adalah koleksi bertajuk Lirak Lirik Lurik yang ditampilkan dalam Surabaya Fashion Week 2021 minggu lalu.
”Potongannya terlihat gagah. Membuat pemakai karismatik. Bahannya dari kain lurik, kain batik khas Indonesia,” tutur Tikno.
Hal senada diungkapkan Anne Yuliantina, desainer dari brand Sheza by Anne. Menurut Anne, masyarakat banyak yang memilih untuk mengenakan baju pejuang di Hari Pahlawan. Sebab, sering melihat di buku, foto, media cetak atau digital, film dan dokumentasi sejarah. Sehingga masyarakat beranggapan bahwa baju pejuang seperti gambar tersebut.
”Model-model yang digunakan para pahlawan banyak menggunakan cutting yang simpel dan agak longar karena menyesuaikan dengan kondisi bahwa pejuang butuh banyak gerak,” papar Anne.
Misalnya, untuk celana, para pejuang menggunakan cutting busk pant, harem, cargo pants, uncle pants. Semua cutting itu, menurut Anne, sangat nyaman untuk dipakai sehari-hari.
”Begitu juga untuk atasannya, bahan yang digunakan juga bahan yang nyaman seperti katun, viscos dan katun linen. Seiring berjalannya waktu, dunia fashion cepat sekali berkembang, tentunya model dan bahan disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini,” terang Anne.
Konsep itu yang dituangkan Anne dalam koleksi bertajuk Energy. Dalam koleksi yang pernah ditampilkan pada 2019 itu, Anne menggunakan model atasan yang dibuat mirip dengan baju para pejuang. Namun, dengan sentuhan berbeda.
”Sosok pamakianya terlihat tangguh seperti pejuang, berkarakter tapi tetap terlihat feminin dan anggun,” ucap Anne.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
