Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 November 2023 | 18.39 WIB

Legislator Sebut Seni Ludruk Perlu Regenerasi Agar Tetap Eksis di Surabaya

Wakil Ketua Komisi B DPRD Surabaya Anas Karno (dua dari kiri) pada acara kesenian ludruk di perkampungan Kota Surabaya belum lama ini. - Image

Wakil Ketua Komisi B DPRD Surabaya Anas Karno (dua dari kiri) pada acara kesenian ludruk di perkampungan Kota Surabaya belum lama ini.

JawaPos.com–Legislator Kota Surabaya menilai kesenian tradisional seperti ludruk perlu ada regenerasi agar tetap eksis di tengah kepungan seni modern. Ludruk merupakan kesenian yang berakar pada kearifan budaya lokal.

”Di masa pemerintahan kolonial, ludruk menjadi sarana perjuangan aspirasi rakyat lewat parikan-parikan dan lakon yang dipentaskan,” kata Wakil Ketua Komisi B DPRD Surabaya Anas Karno seperti dilansir dari Antara di Surabaya, Selasa (28/11).

Anas mengatakan, pada masa lampau, ludruk merupakan seni tradisional yang banyak diminati masyarakat. Pementasan ludruk dengan berbagai lakon, menarik pengunjung untuk menyaksikan. Lakon yang terkenal, yaitu Sarip Tambak Oso, yang menceritakan perjuangan pemuda melawan lurah, karena menjadi tangan kanan pemerintah kolonial Belanda.

Seiring dengan berjalannya waktu, dengan kehidupan masyarakat yang kian modern, pementasan ludruk semakin jarang dilakukan, bahkan hampir punah. Untuk itu, Anas mendorong agar kesenian ludruk di Surabaya tidak punah.

Dia mengapresiasi regenerasi yang dilakukan kelompok-kelompok ludruk di Surabaya agar tetap eksis. ”Dengan pementasan yang menampilkan anak-anak muda dan gaya anak muda, bisa menarik minat generasi muda untuk melihat pementasan ludruk,” ucap Anas Karno.

Anas berharap dukungan penuh berbagai pihak untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian ludruk di Surabaya. ”Kalau nanti kawasan THR (taman hiburan rakyat) selesai direvitalisasi, saya berharap ludruk bisa pentas reguler di lokasi tersebut,” tutur Anas Karno.

Salah satu seniman ludruk, Noniati mengatakan, pementasan ludruk di Surabaya saat ini mengandalkan ajakan Dinas Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disbudporapar) Kota Surabaya.

”Kami menyampaikan terima kasih kepada Disbudporapar, karena akhir-akhir ini grup ludruk mengisi bergiliran acara sedekah bumi di Surabaya Barat. Tapi, menunggu giliran lama, setahun sekali, paling banyak dua kali,” ujar Noniati.

Sampai era pengujung 90-an, ludruk, lanjut dia, masih pentas reguler hampir tiap hari di gedung kesenian THR Surabaya. Bahkan, Kelompok Ludruk Irama Budaya, melakukan pementasan di gedung permanen di kawasan Pulo Wonokromo.

”Kelompok-kelompok ludruk di Surabaya saat ini kondisinya cukup memprihatinkan. Sehingga, butuh kepedulian pihak-pihak terkait. Kalau mengandalkan tanggapan jarang,” ujar istri almarhum seniman ludruk, Cak Lupus itu.

Noni menambahkan, kelompok ludruk di Surabaya yang mempunyai tanda daftar kesenian (TDK) banyak yang tercatat di Disbudporapar Surabaya. Namun, banyak juga yang mati suri.

”Mereka kekurangan anggota, bahkan tidak punya anggota, sehingga harus mencomot sana sini saat pentas. Boleh dibilang kolaborasi dengan grup lain,” terang Noniati.

Meski di tengah impitan arus modernisasi, kata dia, kelompok ludruk di Surabaya tidak patah semangat agar tetap eksis. Salah satu caranya dengan melakukan regenerasi.

”Karena pemain ludruk senior sudah semakin berkurang. Kami meregenerasi. Di Arboyo, pemain ludruk sampai pengrawit, ada yang anak SD, SMP, SMA, dan mahasiswa. Demikian juga di Ludruk Putra Taman Hira, itu mayoritas pemain masih muda,” kata Noni.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore