Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 8 Juli 2021 | 04.00 WIB

Pemkot Surabaya Cegah Hewan Kurban dari Wilayah Persebaran Antraks

Petugas dari Dinas Ketahanan Pangan Kota Tangerang melakukan pemeriksaan di tempat penjualan hewan kurban kawasan Salapajang, Kota Tangerang, Sabtu (27/6/2020). Pemeriksaan tersebut memastikan kondisi hewan sehat dan layak untuk dijual keperluan kurban pa - Image

Petugas dari Dinas Ketahanan Pangan Kota Tangerang melakukan pemeriksaan di tempat penjualan hewan kurban kawasan Salapajang, Kota Tangerang, Sabtu (27/6/2020). Pemeriksaan tersebut memastikan kondisi hewan sehat dan layak untuk dijual keperluan kurban pa

JawaPos.Com – Menjelang Idul Adha, petugas Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya memastikan kesehatan hewan kurban yang dijual. Pengecekan kesehatan hewan kurban itu dimulai kemarin (7/7).

Plt Kabid Peternakan dan Penyuluhan DKPP Rahmad Kodariawan menjelaskan, ada dua tim yang diterjunkan. Masing-masing beranggota dua orang. Petugas itu memiliki keahlian dalam pemeriksaan hewan ternak tersebut. ’’Kami mengerahkan dokter hewan,’’ jelasnya.

Petugas menyisir Jalan Dr Ir H Soekarno dan Karang Pilang. Pemeriksaan kesehatan itu sangat dibutuhkan. Tujuannya melindungi konsumen agar tidak salah membeli hewan kurban. Sebab, ada kemungkinan hewan kurban yang dijual tersebut terpapar penyakit. Selain itu, upaya tersebut dilakukan sebagai antisipasi warga membeli hewan yang belum layak dikurbankan.

Menurut Rahmad, ada sejumlah penyakit hewan yang harus diwaspadai. Salah satunya antraks. Jika tidak diantisipasi, virus pada hewan itu bisa menular ke tubuh manusia. Selain itu, cacing hati. Hewan ternak kerap terpapar penyakit tersebut. Faktor pemicunya berasal dari makanan.

Tanda-tanda hewan kurban yang tidak sehat bisa dilihat lewat pemeriksaan sejumlah bagian tubuh. Misalnya, memelototi mata dan lidah. ’’Pemeriksaan kotoran juga bisa mendeteksi hewan itu sehat atau sakit,’’ terangnya.

Selain pemeriksaan hewan, DKPP melakukan langkah lain. Yaitu, menelaah asal usul hewan kurban tersebut. Hewan yang berasal dari wilayah persebaran antraks ditolak. Salah satunya dari Jawa tengah (Jateng).

Sementara itu, Kepala DKPP Surabaya Yuniarto Herlambang menjelaskan, pemantauan hewan kurban terus berjalan. Dimulai kemarin sampai hari H kurban. Bahkan, selepas penyembelihan. Pemantauan pasca penyembelihan sangat penting. Sebab, saat itu petugas bisa melihat langsung penyakit hewan tersebut. ’’Contohnya, cacing. Biasanya ada di hati sapi,’’ paparnya.

Dia meminta penyedia hewan kurban tidak asal menjual hewan. Hewan yang sakit dilarang diperjualbelikan. ’’Kami beri tanda hewan yang sakit agar konsumen tidak salah memilih,’’ ucapnya.

Editor: M Sholahuddin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore