Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 13 November 2023 | 04.30 WIB

Kronologi Video Viral Anak Surabaya 11 Tahun Penjual Pentol

Ilustrasi anak-anak. - Image

Ilustrasi anak-anak.

JawaPos.com–Kepala DP3APPKB Surabaya Ida Widayanti menjelaskan kronologi video bocah penjual pentol viral di media sosial. Dari pengakuan Rido pada Rabu (1/11) sekitar pukul 15.00 WIB, dia berangkat bersama tantenya menuju depan Kelurahan Putat Jaya untuk berjualan pentol.

”Nah, saat sedang menunggu gerobak datang, tante Rido mendapatkan kabar dari juragan pentol bahwa akan ada konten kreator yang akan meliput. Rido pun bersedia untuk dilakukan pembuatan video,” kata Ida.

Kemudian pada pukul 16.00 WIB, juragan pentol mengantarkan gerobak jualan Rido dan mengkonfirmasi kembali terkait pembuatan video bersama konten kreator. Lalu pada pukul 19.00 WIB, konten kreator tersebut datang dan sempat berkomunikasi dengan tante Rido untuk pembuatan video.

”Jadi Rido ini mendapatkan tawaran sebagai penjual pentol dari tantenya. Nah, saat videonya viral, Rido mengaku dimarahi dan dilarang berjualan oleh ayahnya. Sehingga saat ini Rido memutuskan untuk tidak kembali berjualan,” terang Ida Widayanti.

Sebelumnya, Vernando Rido Wijaya akhirnya memilih untuk berhenti berjualan pentol di depan Kantor Kelurahan Putat Jaya Surabaya. Sejak 3 November, bocah berusia 11 tahun itu berhenti berjualan karena dimarahi ayahnya. Itu lantaran video Rido saat berjualan pentol yang dibuat konten kreator viral di media sosial.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya Ida Widayanti menyebut, pasca video itu muncul di media sosial, pemerintah kota langsung melakukan penjangkauan.

”Jadi anak ini (Rido), orang tuanya sudah berpisah. Anak ini tinggal bersama kakak, ayah kandung, dan tantenya, di Gadel Sari Tama, Kelurahan Karangpoh, Kecamatan Tandes, Surabaya. Ibu kandungnya tinggal di Malang,” kata Ida Widayanti pada Minggu (12/11).

Ida menerangkan, berdasar hasil penjangkauan, Rido mengaku, ingin mengikuti jejak kakaknya yang lebih dulu berjualan pentol. Keinginan itu dilakukan Rido karena ingin membantu keluarga. Sebab, pekerjaan ayahnya sebagai kuli bangunan tidak menentu.

”Jadi kakaknya dulu yang berjualan pentol, kemudian Rido ikut-ikutan. Informasinya ada penjual (juragan) pentol ini yang memberdayakan anak-anak. Jadi anak-anak itu diajak berjualan pentol. Nah, karena kebutuhan, Rido ini mau-mau saja,” ungkap Ida Widayanti.

Namun demikian, sejak 3 November, Rido berhenti berjualan pentol karena videonya viral dan ingin fokus mengenyam pendidikan di SDN Gadel II Surabaya. DP3APPKB dan Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya pun memberikan pendampingan agar anak tersebut tidak lagi berjualan.

”Sejak kita dampingi pada 3 November, anak ini sudah berhenti jualan pentol. DP3APPKB dan Dinas Pendidikan juga menyampaikan ke anaknya agar tidak jualan dan anaknya mau, sudah tidak jualan,” terang Ida Widayanti.

Selain memberikan pendampingan psikologis, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) juga memberikan intervensi kepada ayah Rido. Intervensi itu berupa tawaran pekerjaan kepada ayah Rido, yakni Harianto.

”Jadi selain pendampingan psikologis, rutilahu, dan tawaran pekerjaan untuk ayah Rido, Pemkot Surabaya juga memberikan intervensi terkait kebutuhan sekolah Rido,” tutur Ida.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore