
Nelayan beraktivitas di muara Sungai Tambak Wedi yang penuh busa putih di Surabaya, Minggu (29/3). Didik Suhartono/Antara
JawaPos.com–Busa yang dalam beberapa hari terakhir muncul di Sungai Tambak Wedi di Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur, terjadi akibat cemaran limbah rumah tangga.
Kepala Seksi Pemantauan dan Pengendalian Kualitas Lingkungan Hidup DLH Kota Surabaya Ulfiani Ekasari seperti dilansir dari Antara di Surabaya mengatakan, sekitar 80 persen dari polutan yang masuk ke Sungai Tambak Wedi berasal dari rumah tangga. Hal itu menyebabkan muara sungai berbusa karena kandungan surfaktan menurunkan tegangan di permukaan air.
”Nah, surfaktan ini akan menurunkan tegangan permukaan ketika ada pengadukan atau misal dari pompa yang jalan dan sebagainya. Jadi karena ada polutan yang masuk terutama dari organik detergen, sehingga kalau ada pengadukan itu timbul busa,” terang Ulfiani Ekasari.
DLH, menurut dia, memantau dan memeriksa busa di muara Sungai Tambak Wedi dan menyimpulkan bahwa polutan itu berasal dari rumah tangga.
”Sungai Tambak Wedi rutin kita ambil sampling. Kita sudah susuri bersama pihak kepolisian juga. Pengendalian memang harus dilakukan dari sumbernya, rumah tangga,” ujar Ulfiani Ekasari.
Dalam upaya mencegah pencemaran sungai, dia mengatakan, Pemerintah Kota Surabaya telah mendorong masyarakat membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal.
”Total IPAL komunal di Surabaya ada sekitar 200-an. Tujuannya untuk mengendalikan polutan di rumah tangga, dari greywater (air bekas mandi, cuci, kaskus),” kata Ulfiani.
Selain itu, lanjut dia, DLH berusaha memastikan perusahaan-perusahaan di dekat aliran sungai memiliki IPAL saat mengajukan izin operasi. ”Kami juga melakukan pengawasan yang ketat,” tutur Ulfiani Ekasari.
Pemerintah kota, menurut dia, juga membantu pembangunan IPAL di puskesmas serta sentra usaha. Tujuannya untuk mengendalikan polutan yang masuk ke sungai.
Namun demikian, Ulfiani menekankan, upaya yang paling efektif untuk mencegah pencemaran sungai adalah mengelola limbah rumah tangga.
Dia juga mengemukakan pentingnya sinergi antar pemerintah daerah dalam mengatasi masalah pencemaran sungai. ”Kalau terkait dengan sungai kita tidak bisa kerja sendiri, karena harus menyeluruh, dengan kabupaten atau kota lain,” papar Ulfiani Ekasari.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=cHYeDTUTISI

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
