Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 17 September 2023 | 18.42 WIB

SAH yang Buta karena Matanya Dicolok Kakak Kelas dengan Tusuk Bakso Ternyata Dipalak Sejak Kelas 1 SD

TENANG: Samsul Arif (dua dari kiri) mendampingi SAH saat menunjukkan tempat kejadian penusukan mata kepada polisi di SDN 236 Gresik, Sabtu (16/9). - Image

TENANG: Samsul Arif (dua dari kiri) mendampingi SAH saat menunjukkan tempat kejadian penusukan mata kepada polisi di SDN 236 Gresik, Sabtu (16/9).

JawaPos.com – Saat di rumahnya Sabtu (16/9), SAH tampak sedih. Penglihatan anak pertama Samsul Arif dan Kiki Ramadani itu hanya berfungsi separo. Ketika mata kirinya ditutup, bocah 8 tahun tersebut tidak bisa melihat apa pun. Saat mata kanannya ditutup, SAH harus memosisikan mata kirinya dengan tepat untuk bisa melihat jelas. 

Kondisi itu terjadi setelah mata kanan siswa kelas II SDN 236 Gresik tersebut ditusuk dengan menggunakan tusuk bakso oleh siswa lain. Peristiwa tragis itu terjadi pada 7 Agustus lalu. Kala itu, SAH seperti terhipnotis ketika siswa laki-laki yang tidak dikenal memanggil namanya.

Dia pun menghampiri siswa yang kemudian membawanya ke lorong sekolah. Siswa itu meminta uang kepada SAH, lalu menusuk mata kanannya dengan tusuk bakso dari bambu hingga berdarah karena tak diberi uang.

Sekarang mata kanan SAH sudah tidak sakit. Tapi, mata itu tidak melihat apa pun. Rasa sakit dirasakan selama dua minggu pasca kejadian. Bahkan, untuk bisa dibuka, matanya perlu ditetesi obat terlebih dahulu. 

Aksi pemalakan terhadap SAH ternyata terjadi sejak dia kelas I. Namun, perundungan itu tak pernah diungkap. ’’Ada guru yang sering ngasih uang ke SAH karena tahu tidak punya uang. Tapi, tidak digali lebih jauh dan anaknya tidak pernah cerita ke kami,” ucap Samsul Arif, ayah SAH.

Sebelum berangkat sekolah, SAH selalu diberi uang saku oleh ibunya. Paling sering Rp 10 ribu. Tapi, dia tidak sering jajan saat jam istirahat lantaran uangnya diminta siswa yang menusuk matanya.

Kepada Jawa Pos, SAH mengaku pernah didorong hingga terjatuh oleh pelaku. Saat itu, dia enggan memberikan uangnya. ’’Saya tidak kenal siapa, tapi wajahnya tahu,” kata SAH.

Kini SAH sudah tidak masuk sekolah selama 42 hari. Dia trauma dan takut. Terlebih, pihak sekolah tidak memperhatikan kejadian tersebut dengan maksimal.

’’Bahkan, ketika melihat darah menempel di baju anak saya, malah terlontar itu cuma saus,” ujar Samsul. 

Bapak tiga anak itu bingung dengan masa depan anaknya. Mata kanannya tidak bisa melihat. Membaca dan mengaji pun kesulitan. Padahal, waktu kecil, SAH selalu bilang kepada ayahnya bahwa dia ingin pintar dan hafal Alquran.

Dia juga ingin menjadi polisi. ’’Biar bisa memenjarakan penjahat,” ucap SAH terus terang. 

SAH masih akan menjalani pemeriksaan akhir di RSUD dr Soetomo akhir bulan ini. ’’Katanya ada saraf yang terganggu. Penyebab sarafnya tidak berfungsi nanti diperiksa lebih lanjut,” ucap Samsul. 

Sementara itu, Kepala SDN 236 Gresik Umi Latifah enggan berbicara banyak setelah bertemu pihak Polres Gresik, dinas pendidikan (dispendik), dan orang tua korban kemarin.

Dia langsung masuk ke ruang guru sembari menghindari awak media. ’’Maaf, saya punya hak untuk tidak bicara,” tegasnya.(son/c7/may)

TENTANG KEKERASAN PADA SAH

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore