
PEJUANG KEMANUSIAAN: Tenaga kesehatan dari Puskesmas Krembangan Selatan Effendy (kanan) menyerahkan bantuan kebutuhan pokok kepada warga PPI yang dikarantina di Asrama Haji Sukolilo. (PUSKESMAS KREMBANGAN-PUSKESMAS NGAGEL REJO FOR JAWA POS)
Perjuangan tenaga kesehatan melawan Covid-19 tak terbatas pada tugas yang dimiliki saja. Mereka juga menyisihkan rezeki hingga tidak libur berminggu-minggu. Berkorban untuk kemanusiaan.
MUHAMMAD AZAMI RAMADHAN-RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya
PANDANGAN dr Dayanti tidak pernah luput dari status dan grup WhatsApp warga yang dikarantina di Asrama Haji Sukolilo. Perempuan yang menjabat kepala Puskesmas Krembangan Selatan itu tidak sedang melihat status akun jual beli online. Tetapi, memantau perkembangan. Baik situasi maupun kondisi warga Penampungan Pejuang Indonesia (PPI). Di sana warga sedang menjalani karantina mandiri.
Perempuan kelahiran Surabaya itu mengungkapkan, semua aktivitas terekam melalui status dan grup WhatsApp tersebut. Mulai keluhan warga, apresiasi warga, hingga sindiran halus. Semuanya terekam. Bentuk keluhan itu, kata Dayanti, beragam.
Mulai fasilitas yang kurang pas, lalu makanan yang kurang layak, hingga soal kebutuhan pokok lainnya. Dayanti mengungkapkan, awalnya keluhan warga itu membuat tim down. Sebab, kata dia, datangnya bertubi-tubi.
Namun, lambat laun pihaknya berusaha menerima. Dia menginisiatori iuran swadaya dari petugas puskesmas. Tujuannya, warga yang dikarantina tetap bisa tenang menjalaninya, baik yang berada di hotel maupun di asrama haji.
Besaran iuran, kata Dayanti, tidak dipatok. Semua dana yang terkumpul dari petugas Puskesmas Krembangan Selatan dibuat untuk memenuhi kebutuhan warga yang dikarantina. Mulai suplemen kesehatan, makanan tambahan, susu untuk balita, hingga popok. Sebab, ada juga warga PPI yang melakukan karantina bersama anaknya yang masih kecil. ”Iya, ada yang japri langsung. Dok, popok anak saya habis, susu habis, ini bagaimana, Dok,” katanya sambil membacakan teks percakapan itu.
Membaca percakapan itu membuat hatinya sesak. Sebab, bagaimanapun, mereka yang mengeluh tersebut berada di wilayahnya bekerja. Karena itu, beragam upaya dilakukan agar kebutuhan tersebut terpenuhi.
Fetty Trisnayanti, bidan Kelurahan Kemayoran, Puskesmas Krembangan Selatan, juga menjadi orang pertama yang menerima sambatan itu. Kala itu, keluhan yang paling banyak disampaikan warga adalah soal kebutuhan sehari-hari. Di antaranya, makanan untuk sahur dan berbuka. Dia mengungkapkan, karena waktu evakuasi itu berlangsung pada bulan puasa, keluhan mereka soal makanan. Tentu tim harus menemukan solusi atas beragam persoalan tersebut.
Yang membuat Fetty bahagia tidak terkira adalah ketika ada warga yang menghubungi secara langsung, baik melalui telepon maupun pesan pribadi. Menyampaikan rasa terima kasih karena telah dibantu dan diperhatikan selama proses karantina.
Sudah tiga minggu, Meka Wulandari tak punya waktu libur dan santai di rumah. Tugasnya sebagai ATLM (ahli teknologi laboratorium medis) di Puskesmas Ngagel Rejo membuatnya harus berjaga setiap hari. Terutama terkait pengadaan rapid test di kawasannya. ”Bahkan termasuk saat Lebaran, tidak mungkin kan puskesmas tidak stand by,” ujarnya.
Rapid test disesuaikan dengan kebutuhan. Kadang, bisa mendadak setelah tracing menunjukkan angka positif di satu wilayah. Kalau sudah begini, Meka siap melakukan rapid test hari itu juga. ”Pernah instruksi datang jam 8 pagi. Tes harus diadakan jam 12,” jelasnya.
Padahal, persiapannya butuh waktu lama. Mulai pengambilan alat hingga pemberitahuan kepada warga. Kadang, mereka harus meyakinkan warga untuk mau dites.
Sebagai satu-satunya ATLM di puskesmas tempatnya bekerja, Meka harus rela tak ambil libur. Dia bertugas mulai pengambilan spesimen darah, pengerjaan rapid test, hingga interpretasi hasil. Setiap tes dilakukan, Meka harus mengenakan tiga lapis hazmat suit. ”Ya karena kami yang langsung berhadapan dengan OTG, siapa tahu kan,” papar ibu dua anak itu.
Berhadapan langsung dengan sampel darah dari warga, yang bisa saja sudah tertular, punya risiko yang tinggi. ”Makanya kadang nyesek kalau petugas lab dianggap sepele. Padahal, penegakan diagnosis juga muncul di tangan kami,” tuturnya.
Dia juga harus berhadapan dengan 100−200 orang untuk mengambil sampel darah tersebut. Minimal empat jam waktu yang dibutuhkan Meka untuk bertahan di dalam hazmat suit hingga penuh keringat. Tanpa minum, tanpa bisa ke kamar mandi dengan leluasa.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=VBL9_FqQlVk
https://www.youtube.com/watch?v=d06TOGxhMBM
https://www.youtube.com/watch?v=0hWv6Jnnr7o

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
