Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 3 Mei 2020 | 02.30 WIB

Pemkot Surabaya Bantah Tuduhan Khofifah soal Lamban Tangani Covid-19

Wakil Koordinator Hubungan Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya M. Fikser dan Koordinator Bidang Pencegahan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya Febria Rachmanita (ANT) - Image

Wakil Koordinator Hubungan Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya M. Fikser dan Koordinator Bidang Pencegahan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya Febria Rachmanita (ANT)

JawaPos.com - Ratusan karyawan pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) di Rungkut, Kota Pahlawan, Jawa Timur diketahui positif Covid-19 berdasarkan rapid test. Puluhan orang di antaranya bahkan sudah terkonfirmasi positif berdasarkan tes swab gelombang pertama yang dimulai Jumat (1/5).

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya membantah ada keterlambatan informasi maupun penanganan terhadap para pekerja pabrik. Pernyataan tersebut merespons komentar Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di media massa.

Khofifah menduga ada keterlambatan penanganan Covid-19, hingga menyebabkan raturan pegawai pabrik tertular virus. "Pemerintah kota tidak pernah terlambat. Ibu Gubernur, tidak benar (ada keterlambatan penanganan)," kata Wakil Koordinator Hubungan Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya M. Fikser, dilansir dari Antara, Sabtu (2/5).

Menurut Khofifah, manajemen Sampoerna sudah melaporkan adanya dua karyawan positif Covid-19 ke Dinas Kesehatan Surabaya pada 14 April 2020. Namun laporan tersebut tidak segera ditindaklanjuti dengan meneruskannya ke Tim Gugus Tugas Covid-19 Jawa Timur.

Sementara itu menurut Fikser, Pemkot Surabaya selalu serius dan cepat tanggap, termasuk untuk kasus Covid-19 pada karyawan HMSP.

Bahkan, lanjut dia, Pemkot Surabaya yang memanggil pihak perusahaan untuk mendorong agar semua karyawannya dilakukan rapid test secara masif.

Fikser menjelaskan, awalnya salah seorang karyawan HMSP mengaku sakit dan berobat ke klinik perusahaan, pada 2 April. Seminggu berselang, pasien dirujuk ke rumah sakit, dan pada 13 April pasien melakukan pemeriksaan tes swab di rumah sakit yang berbeda.

Menurut dia, sejak saat itu Pemkot Surabaya mulai melakukan tracing atau melacak yakni dengan penyelidikan epidemologi di setiap rumah sakit. Bahkan setiap harinya, lanjut dia, petugas dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya melakukan pendataan dan pemantauan di setiap rumah sakit terkait perkembangan pasien Covid-19.

"Begitu kita ketahui, pada 16 April Dinkes memanggil perusahaan Sampoerna. Jadi, bukan perusahaan yang melapor, tapi kami yang memanggil. Kita yang menemukan. Silakan tanya ke Sampoerna," katanya.

Dalam pertemuan 27 April, pihak Sampoerna diminta melakukan penutupan sementara perusahaan. Tidak cukup sampai di situ, ia pun juga meminta data nama karyawan untuk dilakukan tracing kembali.

"Kami minta datanya sesuai nama dan alamat. Supaya kami bisa tracing kembali dan beri intervensi," kata Fikser.

Sementara itu, Koordinator Bidang Pencegahan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya Febria Rachmanita mengatakan, pihaknya langsung meminta HMSP melakukan rapid test dan mengisolasi mandiri karyawannya sekitar 506 orang.

"Saat itu puskesmas melakukan tracing dan ditemukan terdapat data kontak erat dengan karyawan. Begitu tahu satu orang sakit langsung kami cari siapa orang dalam pemantauan (ODP) mana dan pasien dengan pengawasan (PDP)," kata Febria.

Febria menyebut, setelah dilakukan rapid tes, dari 506 karyawan ditemukan 123 karyawan yang hasilnya positif. Kemudian, HMSP melakukan tes lanjutan yakni swab tes pada Jumat (1/5) yang dibagi menjadi dua gelombang.

Gelombang pertama dengan kuota sebanyak 48 karyawan. Dari 48 tersebut yang terkonfirmasi sebanyak 30 orang positif.

"Kami pun minta Sampoerna yang melakukan isolasi karyawannya di suatu hotel sehingga tidak tertular dengan yang lain," kata dia.

Kepala Dinkes Kota Surabaya ini juga memastikan, hingga saat ini Pemkot melalui puskesmas terus memantau perkembangan pasien. "Jadi, tidak benar kalau kami terlambat dalam penanganan Covid-19. Kami pun mencarikan tempat tidur mereka yang positif dan sudah dapat seratus untuk karyawan Sampoerna dan memantau sekitar 200 orang keluarga karyawan," katanya.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=MUMR7Sf2mac

https://www.youtube.com/watch?v=vOKBHdbG4sA

https://www.youtube.com/watch?v=9haQ6jkf5U0

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore