Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 18 April 2020 | 03.48 WIB

Upaya Warga Tambak Segaran Wetan II Mencegah Persebaran Covid-19

WAJIB MASKER: Ibu-ibu di Tambak Segaran Wetan II berkumpul di depan gang kemarin sore. (Santoso for Jawa Pos) - Image

WAJIB MASKER: Ibu-ibu di Tambak Segaran Wetan II berkumpul di depan gang kemarin sore. (Santoso for Jawa Pos)

Segala upaya dilakukan warga Kampung Tambak Segaran Wetan II, RT 7, RW 8, untuk menghalau Covid-19. Bukan hanya pengurus RT dan karang taruna yang terlibat. Mereka juga mengerahkan forum anak yang berusia di bawah 15 tahun untuk sama-sama menjaga kampung.

SALMAN MUHIDDIN, Surabaya

”Pak, pak. Mlebu kampung maskere digawe (masuk kampung maskernya digunakan), ”teriak anak-anak di ujung gang. Mereka menghalau pengendara motor tak dikenal yang hendak melintasi kampung mereka. Dengan sopan, mereka menunjukkan banner yang sudah terpasang di ambang gapura.

Spanduk putih itu ’’mengingatkan” setiap pengendara untuk tidak sembarangan masuk kampung tersebut. Saat pandemi Covid-19, seluruh protokol pencegahan yang sudah diatur pemerintah harus diterapkan hingga ke pelosok perkampungan.

Karena itu, yang tidak pakai masker tak boleh masuk. Tidak peduli warga kampung atau warga luar.

Mereka yang tergabung dalam forum anak RT 7 itu bak polisi yang berjaga di perbatasan kota. Mata mereka begitu awas terhadap siapa pun yang melintas. Telinga mereka juga peka terhadap suara mesin kendaraan yang mendekat meski diselingi dengan main monopoli, catur, atau karambol.

Kampung yang mereka jaga berada di kawasan padat penduduk, Kelurahan Rangkah, Kecamatan Tambaksari. Lokasinya dekat dengan rumah sakit terbesar milik Pemkot Surabaya, RSUD Soewandhie. Tak sampai 200 meter.

Meski lebarnya hanya 3 meter, jalan kampung tersebut banyak dilintasi. Sebab, itu adalah akses penghubung dengan jalan besar. Karena itulah, penegakan aturan kampung tidak bisa dikompromikan. ”Di sini padat penduduk. Padat banget. Makanya yang tidak pakai masker jangan lewat sini,” ujar Santoso, ketua RT setempat sekaligus pembina karang taruna dan forum anak.

Harga masker mahal. Sejumlah warga kampung tidak mampu membelinya. Namun, itu tidak menjadi masalah. Bu Jumiun, sang tukang jahit, siap membantu. Dia membuatkan 50 masker. Dibagikan gratis kepada para tetangganya. ”Jadi, di sini itu sudah seperti saudara semua,” lanjut Santoso.

Bukan hanya masker, sejumlah warga juga kesulitan untuk mencari makan. Situasi ekonomi kota memang merosot drastis. Mereka yang bekerja di pasar tak bisa lagi berjualan. Karyawan dirumahkan. Ojek online pun sepi penumpang.

Untungnya, beberapa warga setempat memiliki rezeki berlebih. Ada yang memberikan sembako untuk tetangganya. Ada juga yang berbagi makanan. ”Masak yang bisa makan yang punya uang saja. Kan enggak gitu,” lanjut wirausahawan itu.

Santoso juga menunjukkan satu lagi ikhtiar kampungnya. Warga ternyata membuat sendiri bilik sterilisasi. Boleh dibilang lebih canggih ketimbang bikinan pemkot. Sebab, bilik sterilisasi yang dipasang di ujung gang itu bisa menyemprotkan disinfektan secara otomatis.

Alat penyemprotan hingga pompa yang dipakai nyaris tak berbeda dengan bilik sterilisasi yang dibuat pemkot. Bedanya, warga menambahkan sensor inframerah. Setiap kali ada yang melintas, disinfektan akan menyembur secara otomatis. ”Untungnya, ada Pak Sugeng. Dia paham elektro,” lanjut ketua RT yang menaungi 90 KK itu.

Setiap Kamis dan Minggu warga berkumpul. Mereka melakukan penyemprotan disinfektan dan pengecekan suhu tubuh warga. Kalau ada yang suhu tubuhnya di atas 38 Celsius, pengurus RT langsung berkoordinasi dengan kelurahan dan puskesmas setempat. Pengecekan mandiri itu penting dilakukan untuk memangkas persebaran Covid-19.

Warga sudah punya thermo gun. Jadi, pengecekan suhu tubuh bisa dilakukan secara cepat dan akurat. ”Untung, sudah ada yang punya. Karena sekarang harganya mahal,” jelasnya.

Semua elemen warga bergerak untuk saling membentengi diri. Terutama para pemuda yang bisa menjadi carrier virus tanpa gejala. Para pemuda karang taruna yang pernah juara Kartar Surabaya 2017 dan 10 besar nasional itu begitu disiplin menaati aturan kampung. Tidak ada yang keluyuran tanpa alasan jelas.

Forum anak juga mau diajak menjaga kampung. Mereka bisa bermain sambil jadi pengawas. Santoso melihat kekompakan warga begitu diuji dalam wabah saat ini. Namun, menurut dia, semuanya lolos dalam ujian itu. Justru kekompakan semakin erat. Bagi mereka, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Bersama-sama dalam suka atau duka. Dalam senang atau susah.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore