
Pemkot Surabaya melakukan penanaman sembilan bahan pangan pengganti padi.
JawaPos.com–Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melakukan penanaman sembilan bahan pangan pengganti padi. Langkah itu dilakukan sebagai upaya mewujudkan ketahanan pangan sekaligus antisipasi menghadapi fenomena iklim El Nino.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, penanaman sembilan bahan pangan pengganti padi dilakukan dengan memanfaatkan lahan idle atau aset-aset tidur milik Pemkot Surabaya.
”Kita juga menanam pangan ya, ada sembilan bahan pengganti padi. Kami juga menanam jagung, sagu, di lahan-lahan punya pemkot yang idle. Tapi kami juga berkoordinasi dengan daerah-daerah lain, karena memang wilayah pertaniannya lebih besar,” kata Wali Kota Eri Cahyadi, Minggu (30/7).
Selain itu, Wali Kota Eri Cahyadi menyebutkan, Pemkot Surabaya memiliki Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Salah satu tugas adalah untuk mencegah atau mengantisipasi kenaikan harga pokok di pasaran.
”Jadi kita ini sudah ada Tim Inflasi (TPID). Tim Inflasi ini salah satu tugasnya adalah melihat harga pasar setiap minggu, mulai cabai dan macam-macam,” jelas Eri.
Nah, untuk mencegah kenaikan harga barang, Wali Kota Eri Cahyadi menyatakan, Pemkot Surabaya menjalin kerja sama dengan sejumlah daerah penghasil bahan pokok. Kerja sama dilakukan untuk mendapatkan bahan pokok dengan harga dari produsen.
”Untuk mencegah kenaikan barang, kita kerja sama dengan daerah-daerah penghasil, seperti telur dengan Blitar, bawang putih dan merah dengan Nganjuk. Itu sudah kita lakukan,” jelas Eri.
Menurut dia, kerja sama dengan daerah lain itu dilakukan karena Kota Surabaya bukan daerah penghasil, melainkan pemakai. Itu dilakukan supaya Surabaya bisa mendapatkan harga lebih murah tanpa melalui tengkulak atau pihak ketiga.
”Karena Surabaya ini bukan penghasil, tapi pemakai. Jadi kami kerja sama dengan daerah lain,” ucap Eri.
Wali Kota Eri menyebut, apabila harga bahan pokok di Surabaya mengalami kenaikan karena pupuk atau cuaca, pemkot tidak bisa mencegah. Namun, jika kenaikan harga barang itu disebabkan faktor bahan bakar minyak (BBM), pemkot akan melakukan subsidi.
”Kalau di sini naik karena pupuk atau lainnya, kami tidak bisa lagi menahan kenaikan harga. Tapi kalau transportasi (BBM) yang naik, kami bisa melakukan subsidi. Tapi kalau pupuk naik dan menyebabkan harga tinggi, kami akan tetap mempertahankan harga kulak,” papar Eri.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
