
Puspita Mustika Adya (kiri) saat sesi pengukuran sepeda. (Dok. Puspita)
JawaPos.com - Puspita Mustika Adya mengalami kecelakaan yang membuatnya dioperasi empat-lima kali saat karier kepelatihannya sedang tinggi-tingginya. Tawaran melatih dari luar negeri sebenarnya tetap datang, tapi dia merasa lebih menjadi bike doctor, membantu orang menikmati sepeda.
Balap sepeda adalah cinta sepanjang masa Puspita Mustika Adya. Dan, hidupnya juga benar-benar seperti roda sepeda yang dia kayuh.
Satu kayuhan membawanya ke titik tertinggi sebagai atlet dan pelatih balap sepeda: langganan juara nasional, medali emas SEA Games, tiket ke Olimpiade, sampai dipercaya menjadi pelatih tim nasional Brunei Darussalam. Di kayuhan berikutnya, dia terempas ke titik terendah: koma, amnesia, lumpuh, dan beberapa kali operasi di kepala.
Tapi, sebagaimana judul novel biografisnya, “Tak Ada Garis Finish”, puluhan tahun menggeluti balap sepeda melatih Puspita menjadi petarung tangguh. Sudah berkali-kali dia mencapai garis finis dan berkali-kali pula memulainya lagi dari nol.
“Menjadi juara butuh pengorbanan,” kata pria kelahiran 28 April 1966 itu kepada Jawa Pos di Surabaya pada Kamis (11/6) pekan lalu.
Juara tak selalu berarti medali yang terkalung di leher. Tapi, bisa juga bermakna impian yang tercapai. Atau menjalani jalur hidup yang dikehendaki.
Di usianya yang telah menginjak 60 tahun, Puspita setia di jalan sepeda yang telah dia geluti sejak masih berusia awal belasan tahun pada akhir 1970-an di kota kelahirannya, Malang. Kini ia lebih dikenal sebagai The Bike Doctor. Dokter sepeda.
Dokter yang memeriksa hubungan antara tubuh manusia dan sepedanya. Ia melakukan bike fitting. Mengukur panjang kaki, lebar bahu, panjang lengan, posisi duduk, serta keseimbangan tubuh kanan dan kiri.
Menurutnya, banyak orang membeli sepeda mahal, tapi mengabaikan faktor terpenting: tubuh pengendaranya. “Karena itu, sepeda harus menyatu dengan tubuh pemiliknya. Kalau tidak seimbang, risiko cedera meningkat. Kalau tidak sesuai anatomi tubuh, tenaga terbuang percuma,” katanya.
Semuanya bermula dari sepeda mini semasa masih duduk di bangku SD di Malang. Kayuhannya ternyata membawanya melesat jauh. Pada SEA Games 1989, misalnya, dia meraih emas dari nomor 1.000 meter individual time trial, mengalahkan Rosman Alwi, juara bertahan dari Malaysia, sekaligus memecahkan rekor SEA Games dan rekor nasional.
Tiket ke Olimpiade 1992 di Barcelona, Spanyol, juga dia raih, meski akhirnya dia mengundurkan diri. “Saya ingin mundur sebagai juara setelah bisa mengalahkan Rosman Alwi. Di Olimpiade, saya harus realistis, mungkin hanya bisa masuk 10 besar,” katanya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kejam, Sopir Truk Dibakar Oleh Atasan dan Alami Luka Bakar Sampai 68 Persen
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri
MK Diminta Batalkan Jabatan Wapres Gibran, Syarat Pendidikan Dipersoalkan
Mahfud MD Balas Sindiran Prabowo: Banyak juga Presiden yang Goblok

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022