Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 22 Maret 2020 | 22.00 WIB

Wawancara Khusus dengan 'Penemu' Bakat Kento Momota, Imam Tohari (1)

Kento Momota saat tiba di Narita Airport, pada 15 Januari 2020. Momota pulang dari Rumah Sakit di Malaysia setelah terlibat dalam kecelakaan lalu lintas. (Kazuhiro Nogi/AFP) - Image

Kento Momota saat tiba di Narita Airport, pada 15 Januari 2020. Momota pulang dari Rumah Sakit di Malaysia setelah terlibat dalam kecelakaan lalu lintas. (Kazuhiro Nogi/AFP)

JawaPos.com-Imam Tohari menjalani karier yang sangat menarik. Bersama Emma Ermawati, Imam pernah merebut medali perunggu ganda campuran pada Kejuaraan Dunia 1997.

Namun, pada awal perjalanannya sebagai pelatih, Imam memulai semuanya di Jepang. Pada 2002, Imam menangani tim Kyushu International University di Fukuoka.

Setelah lima tahun berada di sana, Imam menerima pinangan Tomioka Badminton Club. Dia menjadi pelatih kepala perkumpulan yang juga mengembangkan talenta-talenta belia dari para pemain Tomioka Dai-ichi Junior High dan Middle School (sekarang bernama Futaba Future School).

Dari sekolah yang berada di Prefektur Fukushima itulah, pada 2008, Imam untuk kali pertama bertemu dengan Kento Momota. Saat itu, Momota baru berusia 14 tahun. Imam langsung merasa bahwa anak inilah yang bakal mengubah sejarah bulu tangkis Jepang.

Dan intuisi Imam ternyata tak meleset. Momota adalah tunggal putra pertama Jepang yang menjadi juara dunia level junior, juara dunia senior, dan kampiun All England.

Wartawan Jawa Pos Ainur Rohman berbicara dengan Imam untuk mencari tahu bagaimana kelahiran salah seorang tunggal putra paling dominan dalam sejarah dunia, Kento Momota.

Wawancara dengan pelatih yang saat ini membesut PB Djarum itu, dibagi dalam dua bagian. Dan ini adalah fragmen yang pertama.

Apakah Mas Imam yakin Kento Momota bisa kembali bangkit setelah dia mengalami kecelakaan lalu lintas Januari lalu?

Begini, waktu kejadian itu saya sempat kontak dengan dia. Momota bilang tidak apa-apa. Saya chat, waktu dia di rumah sakit. Dia bilang kepada saya selalu tidak apa-apa.

Momota ini kan public figure di Jepang. Jadi, berita apapun soal dia, selalu masuk koranlah, masuk TV-lah. Jadi, ada yang ngasih tahu saya selain Momota juga.

Momota sih selalu bilang tidak apa-apa, tidak apa-apa. Selalu seperti itu. Pas mulai latihan pertama lagi (setelah kecelakaan), Momota melihat ada bayangan waktu dia melihat kok. Jadi koknya ada dua, kayak ada bayangannya gitu. Lalu dia masuk rumah sakit lagi.

Sekitar seminggu atau dua minggu lagi, dia sudah mulai latihan seperti biasa.

Setelah kejadian, ini sih melihat karakter anaknya ya, saya yakin dia masih bisa kembali. Jadi dia akan mulai dari bawah lalu ke puncak. Kejadian ini kan yang kedua kali nih (setelah kasus judi ilegal pada 2016). Tapi bedanya, saat ini dia ada di posisi nomor satu dunia. Ya menurut saya, kalau melihat karakter anaknya, dia akan bisa kembali lagi.

Kalau kasus judi ilegal itu kan lebih ke serangan mental. Sekarang, masalahnya ada dua yakni fisik dan mental. Menurut Mas Imam, bagaimana cara Momota bisa bangkit dan mengatasi trauma pasca kecelakaan ini?

Yang jelas, pasti akan ngefek ke mental. Pasti sedikit shock. Apalagi waktu kecelakaan, sopir yang meninggal itu berada persis di depan dia. Mungkin itu bisa jadi pikiran. Kayak dia pergi ke luar negeri, pas berangkat atau pulang bisa trauma seperti itu. Itu sih bisa.

Tapi kalau di lapangan saya lihat, menurut saya sih, saya yakin dia bisa kembali lagi. Apalagi dia masih posisi ranking satu dunia. Saya lihat, Mei ini Momota sebetulnya sudah bisa come back. Ya di Piala Thomas itu. Tetapi kan sekarang kejuaraannya mundur lagi. Ajang internasionalnya kapan juga masih belum jelas karena virus korona.

Photo

Kento Momota saat tiba di Narita Airport, pada 15 Januari 2020. Momota pulang dari Rumah Sakit di Malaysia setelah terlibat dalam kecelakaan lalu lintas. (Kazuhiro Nogi/AFP)

Mas Imam bertemu untuk kali pertama dengan Momota saat kelas 1 SMP, kesan pertama waktu seperti apa?

Saya merasa dan sempat bilang bahwa anak ini bakal mengubah sejarah bulu tangkis Jepang. Dia bakat punya, karakter punya. Karakter orang Jepang itu sangat luar biasa. Waktu itu saya yakin sekali dia larinya akan menjadi pemain nomor satu dunia. Jadi saya tidak terkejut dengan pencapaian dia. Karena sejak awal, saya yakin dia akan akan menjadi pemain nomor satu dunia.

Momota kabarnya sempat mau dikeluarkan dari SMA. Dan ketika itu Mas Imam yang mempertahankan dan memperjuangkan? Benar seperti itu?

Iya benar. Waktu itu memang ada masalah. Ya soal indisipliner. Masalah anak SMA biasa lah. Dia indisipliner dan ada sanksinya kalau di sana. Terus saya dipanggil sama kepala SMA Tomioka. Saya bilang, kalau misalnya anak ini disanksi, tentu saja akan berpengaruh kepada mentalnya. Jadi nggak bisa fokus. Sebab setelah ini dia akan menghadapi kejuaraan Asia Junior lalu World Junior. Kalau anak ini disanksi, saya bilang Jepang bakal nggak punya juara dunia. Saya bilang begitu. Lalu kepala SMA-nya bilang 'Ya terserah pelatihnya saja, tapi kamu yang mbenerin.' Gitu kan istilahnya.

Kalau dia bukan Momota, kesalahan seperti itu bisa berdampak siswa dikeluarkan dari sekolah ya?

Kalau anak tidak ada basic ekstrakulikuler seperti badminton, mungkin bisa dioutkan. Karena bagi mereka, aturan ya aturan. Tapi karena ini kasusnya khusus anak ekstrakulikuler, dilihat dulu kasusnya seperti apa. Jadi memang tidak bisa dipukul rata juga kan.

Momota ini kan sosok atlet yang menarik. Dia pernah diskorsing karena judi ilegal bersama Kenichi Tago. Pernah juga kepergok satu kamar dengan Yuki Fukushima. Walau keterangan resminya, di dalam kamar itu mereka cuma ngobrol. Momota ini memang seantik itu?

Antik sih enggak. Kalau kasusnya dengan Kenichi Tago itu memang murni diajak. Karena saya tahu benar itu.

Kalau hanya diajak, mengapa sampai enam kali dia pergi ke tempat judi ilegal?

Begini Mas, di Jepang itu terkenal dengan istilah hubungan senpai-kohai (senior dan junior, Red). Jadi memang ada senioritas. Dan di sana itu agak kentel. Apalagi, Tago adalah nomor satunya Jepang. Istilahnya, sebelum Momota, yang menggebrak di dunia itu Tago duluan.

Tapi kan dia belum pernah nomor satu, belum pernah jadi juara dunia. Sudah merasa (hebat) dulu dia. Otomatis, Tago itu menjadi panutan. Waktu itu, Momota masih junior saat Tago mulai naik. Akhirnya, sampai dia masuk ke NTT (Nippon Telegraph and Telephone East, Red) itu ya gara-gara Tago juga. Akhirnya, yang saya khawatirkan Momota ikut-ikutan Tago itu terjadi.

Dan Tago diketahui sampai masuk 60 kali ke rumah judi ilegal itu...

Jadi sebenarnya gini, yang diincer itu memang Momota. Karena yang naik itu dia. Ya setelah menjadi juara dunia junior. Yang mengincar, ya model-model Yakuza itu. Mereka melihat, kok ada pemain badminton (yang keluar-masuk casino).

Memang awalnya nggak terlalu terekspos karena waktu itu Tago nggak terlalu terkenal. Selain itu, Tago mukanya memang nggak menjual. Dan ketika Momota keluar-masuk, nah ini, makanya dia yang diincer. Sebenarnya, waktu itu Momota sudah public figure. Sebenarnya kalau judi ilegal, sampai saat ini di Tokyo juga masih banyak dan membeludak. Tapi gara-gara ini Momota, jadinya diekspos.

Langsung kontak tak lama setelah kejadian itu?

Iya, kontak. Paginya saya ditelepon sama orang-orang bulu tangkis Jepang. Saya ditanya, sudah denger kasus itu tidak? Terus di TV Jepang seharian full beritanya dia. Telepon saya berdering terus. Dua hari kemudian, orang tuanya yang telepon saya.

Jadi, waktu itu rasanya memang seperti sudah habis. Seperti sudah tidak bisa berkarier lagi di bulu tangkis karena kasus ini. Tapi saya bilang ke orang tuanya, kalau Tago iya dia bisa habis. Tapi kalau Momota, nggak bakal. Karena bulu tangkis Jepang masih berharap kepada dia. Kalau sudah tidak bisa berkarier di Jepang, ya pindah ke sini saja (ke Indonesia). Orang tuanya tanya kepada saya, bisa nggak? Ya bisa lah. Tinggal Jepangnya ngasih apa nggak? Kan gitu?

Waktu itu belum ada kepastian skorsingnya sampai kapan. Tetapi pasti akan diskorsing. Saya yakin Momota tidak akan habis, karena setelah ini Olimpiade akan di Tokyo. Kalau Tago kan masalahnya bukan cuma ini. Banyak banget masalahnya. Jadi, kalau Tago dicut ya nggak apa-apa. Tapi kalau yang ini (Momota) ya nggak mungkin.

Dan kenyataannya memang begitu. Kalau nggak salah, saya pernah bilang ke Fung (Permadi, Manajer Tim PB Djarum). ‘Koh kalau Momota nggak bisa main gimana, bisa pindah ke sini nggak?’ ‘Gampang itu, bilangin Koh Yoppy (Rosimin, Ketua PB Djarum) aja.' Begitu jawab Fung.

Dan benar, akhirnya memang ditahan Jepang. Sayang sekali, he..he.. he...Nah, begini Mas Imam, setelah itu Momota kan dalam kondisi yang di bawah sekali. Gagal ikut Olimpiade Rio 2016, dan lain-lain. Tetapi kok bangkitnya cepat sekali. Bahkan setelah skorsing bisa langsung juara Asia dan juara dunia back-to-back pada 2018 dan 2019. Apa faktor terbesar sehingga dia bisa bangkit cepat itu?

Nah itu, kalau mau juara memang harus nakal dulu, Mas ha..ha..ha..

Jadi gini, setelah kejadian itu Momota sebenarnya tidak mikir yang terlalu dalam. Jadi, santai saja. Cuek. Waktu kena kasus itu, di media saya lihat kan santai saja mukanya. Jadi, kenapa bisa bangkit cepat? Ya karena dia bisa menyikapi masalah dengan baik. Rasanya memang kayak nggak ada masalah.

Photo

Kento Momota adalah tunggal putra pertama dalam sejarah Jepang yang menjadi juara All England. Dia menjadi kampiun pada 2019. (BWF)

Cuek, nakal, tidak terlalu memikirkan masalah. Menarik. Tetapi itu tidak berlaku di latihan kan?

Wah ya kalau latihan tetep. Bahkan Momota itu sering dijadikan contoh. Karena nggak pernah nggak fokus. Sangat fokus orangnya. Jadi nakalnya ya wajar. Nakal-nakal seorang atlet lah. Nakalnya ya di luar lapangan. Tapi wajar lah. Banyak kan terjadi kasus-kasus seorang juara yang bukan dari bulu tangkis saja. Kalau dibandingkan mereka, Momota ini bagi saya ya nggak seberapa.

Kalau saya lihat ya wajar. Ya karena sangat fokus bemain itu, mungkin ya menurut saya, dia santai saja dan nggak mikir. Jadi bagi dia mungkin pikirannya ‘Tujuan saya ini kok. Masa bodoh lah.’ Tapi waktu dia kena skorsing, latihannya rutin. Tetap. Jadi, tinggal pikiran dia saja. Saya tujuannya ke sini, ke sini. Kalau nggak latihan sama sekali ya nggak mungkin lah. Kan dia harus mengembalikan banyak hal. Ya dari segi fisik, segi feeling. Karena tiap hari dia didukung oleh latihan yang keras, jadinya ya nggak masalah.

Dalam sebuah wawancara dengan media Jepang, Momota mengaku bahwa yang bisa mengalahkan dia ya dia sendiri. Apa memang seperti itu?

Kalau dia merasa seperti itu ya memang iya. Tahun lalu juga sempet, waktu kejuaraan di tengah tahun 2019 saya bilang ke dia bahwa orang nggak akan bisa seperfect itu. Juara dan juara terus. Lalu saya bilang, tujuan kamu itu Olimpiade. Kalau sekarang mau juara, ya juara. Tapi ya memang harus lebih berpikir. Bukan sengaja ngalah loh ya. Beda. Tapi saya bilang, peak performance kamu ya ke Olympic.

Juara Superseires, tak terkalahkan, ranking satu dunia, ini, itu, tapi jangan sampai lupa peak performance kamu itu di Tokyo Olympic. Saya bilang begitu. Sebagai pemain dunia, sebagai pemain profesional ya tahu sendiri harus bagaimana kiprahnya. Tetapi saya bilang, jangan lupakan peak performance di Olympic. Karena cita-citanya, pasti ke situ.

Momota memang pemain luar biasa. Pemain yang sangat lengkap. Namun secara teknis, yang istimewa dari Momota ini menurut Mas Imam apa?

Momota paling istimewa itu feelingnya. Caranya membaca permainan, kecerdasannya. Itu termasuk di sana. Tetapi, dia juga didukung oleh fisik yang baik. Maksudnya stamina. Strokenya itu sudah mateng. Cara main dia itu sudah mateng.

Kapan harus nyepetin bola, pergerakan dia, kapan bola diturunin, kapan dia mengambil serangan. Dan itu dia ambil secara cepat dan sangat pas. Kenapa seperti itu? Ya karena sejak kecil fokusnya tidak pernah lepas. Jadi, makanya, sebelum mukul, dia akan mikir dulu. Nggak gampang itu. Itu hanya terjadi kepada orang-orang yang punya fokus sangat tinggi.

Fokus dan feeling seperti itu apakah bisa dibentuk?

Bisa dibentuk karena itu bagian dari budaya dia. Lama-lama, fokus itu bisa menjadi seperti karakter. Jadi, punya skill kayak gimanapun, kalau memang nggak fokus, ya berat. Apalagi pada zaman sekarang. Cara membentuknya ya dari latihan dan keseharian si atlet sendiri.

Idealnya, pembentukan karakter dan fokus itu dimulai sejak usia berapa?

Sekitar 15 tahun ke atas. Nah, dari usia itu kelihatan semuanya. Itu dari atlet cowok loh ya. Kalau Mia Audina umur 14 tahun bisa jadi penentu juara Piala Uber (1994, Red) ya itu beda kasus lagi. Bagi saya, itu usia-usia 15 tahun yang paling penting. Kalau anak kecil kan masih ada hasrat ingin main. Pikirannya ke mana-mana, itu ya wajar. Tetapi kalau 15 tahun, mesti difokuskan ke arah yang sudah sangat serius.

(bersambung ke halaman ini)

Editor: Ainur Rohman
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore