
Photo
JawaPos.com-Salah satu kunci terpenting perjalanan karier Kento Momota adalah ketika Imam Tohari mengajak dia berlatih ke tempat Taufik Hidayat. Dari sana, Momota sangat terinspirasi.
Menurut istilah mantan pelatih tunggal putra pelatnas PP PBSI periode 2013 sampai 2016 itu, pikirannya menjadi sangat terbuka.
Dan dengan semua keunggulan yang dimiliki Indonesia, Imam yakin suatu saat tunggal putra kita akan bangkit untuk kembali merajai dunia. Ini adalah fragmen kedua wawancara 'penemu' bakat Kento Momota, Imam Tohari, bersama wartawan Jawa Pos Ainur Rohman.
Mas Imam pulang dari Jepang pada 2013. Tetapi masih mengikuti perkembangan Momota dan kawan-kawan?
Setelah pulang dari Jepang pada 2013 itu, saya masih melatih PP PBSI. Jadi, waktu kejuaraan atau apa, masih sempat dan sering ketemu. Pada waktu itu, Momota masih pertama terjun ke ajang Superseries. Istilahnya masih belum bisa menang.
Momota bertanya kepada saya ‘Kenapa saya kok nggak bisa menang?’ Ya saya bilang ke dia, ‘Kamu itu anak kemarin sore kok mau menang?’ Paling enggak, kamu itu setahun, dua tahun, dan baru tahun ketiga baru bisa masuk level ini. Nggak bisa kamu dari level junior, walaupun kamu seorang juara dunia, naik ke senior langsung juara. Ya nggak mungkin itu! Tahun-tahun pertama ini, kamu dibuat sakit dulu.
Di tahun kedua, kalau cepet bisa. Tapi tahun ketiga, ya harus sudah berprestasi. Jadi tahun 2015 dia baru juara Superseries itu. (Juara Singapore Open, Indonesia Open, dan World Superseries Finals. Momota menjadi juara dunia junior pada 2012, Red).
Artinya, Momota sempat frustrasi dalam proses transisi setelah menjadi juara junior lalu masuk ke level senior?
Iya, padahal itu cuma setahun.
Dengan kata lain, itu menunjukkan bahwa Momota ini adalah orang yang punya ambisi sangat besar?
Iya, betul sekali. Baru naik ke level senior pasti akan hancur dan dibikin sakit. Tetapi tahun ketiga ya harus prestasi. Dan memang benar, kenyataannya memang seperti itu. Pada tahun ketiga itu selain menjadi juara Superseries, dia sudah mulai rutin masuk semifinal. World Championships 2015 juga sudah masuk ke semifinal. Tapi pernah juga dia jadi penentu Jepang juara Piala Thomas 2014. Itu masih tahun kedua ya.
Photo
Kento Momota merayakan keberhasilannya menjadi juara Fuzhou China Open 2019. (BWF Badminton)
Walaupun Mas Imam sudah jadi pelatih Pelatnas PP PBSI, tapi Momota masih tetap minta saran?
Iya, karena saya kayak orang tua sih ya. Kakak iya, orang tua iya.
Kembali lagi ke belakang. Waktu bertemu Momota saat dia SMP, memang anak ini terlihat sangat spesial?
Sebetulnya saat itu bukan hanya Momota ya. Yang spesial dari orang Jepang itu karakternya. Nggak mau kalahnya, semangatnya. Dan karakter-karakter itu yang berpengaruh kepada Momota. Karena dari skill, Momota itu memang di atas rata-rata pemain Jepang yang lain. Terus didukung dengan karakter yang mumpuni, yang sangat bagus untuk seorang pemain bulu tangkis.
Saat itu, ada 16 anak yang datang untuk kali pertama di bawah asuhan Mas Imam. Salah satunya Momota. Sudah terlihat bahwa dia yang paling istimewa?
Iya. Tidak ada yang sespesial dia.
Sejak kecil, Momota ini sudah ada karakter bandelnya?
Bandel sih. Tapi ya bandel wajar. Bukan bandel yang kelewatan. Bukan itu.
Lalu, cara membentuk dia menjadi seorang pemain kelas dunia seperti apa?
Jadi begini. Bulu tangkis Jepang itu saat saya di sana, tidak seperti sekarang. Karena prestasi di Jepang bukan seperti di Indonesia. Kalau di Indonesia kan, dulu, level dunia itu sudah wajib. Waktu itu, sempat saya bawa Momota ke tempat Taufik Hidayat. Maksudnya buat ngisi kepala dia. Karena di Jepang sendiri nggak ada contoh bagi dia untuk menjadi pemain kelas dunia. Tidak ada role model.
Nah, saya bawa ke tempatnya Taufik, saya tunjukkan, ini lho juara Olimpiade, juara dunia. Waktu itu dia masih kelas 3 SMP. Itu yang pertama. Lalu saya bawa lagi pas kelas 1 SMA. Jadi, dua kali. Itupun dengan biaya PBSI-nya Jepang sana.
Karena di sekolah itu tidak ada biaya. Maksudnya, saya minta itu buat biaya dia. Buat tiket, bayar latihan, dan lain-lain. Pertama saya ditanyain, bisa maju nggak kalau latihan di sana. Ya saya jawab, mana bisa maju kalau latihannya cuma dua minggu di tempatnya Taufik Hidayat. Waktu itu belum ada GOR Taufik Hidayat Arena seperti sekarang. Tapi tempatnya di Ciracas. Intinya, saya ingin menunjukkan kepada dia, ini lho juara Olimpiade dan juara dunia.
Photo
Imam Tohari bersama Kento Momota setelah dia menjadi juara dunia junior 2012. (Bulutangkis News/Twitter).
Setelah itu bagaimana hasilnya?
Baru setelah itu, pikiran Momota mulai terbuka. Dia tahu bagaimana agar bisa menjadi pemain top, menjadi seorang pemain juara dunia dan juara Olimpiade. Dan akhirnya, dia menjadi tunggal putra pertama Jepang yang juara dunia level junior. Di level senior juga dia. Makanya, yang membuat sejarah badminton Jepang sebetulnya adalah Momota.
Kesan Momota waktu latihan di tempat Taufik Hidayat itu bagaimana?
Ya sangat kebuka (pola pikirnya). Setelah itu saya tawari, mau nggak ke Taufik Hidayat lagi? Langsung dia mau. Tadinya sih nggak mau. Karena awalnya kan dia masih kecil. Jadi agak takut. Ya, namanya juga anak kecil.
Kultur Jepang apakah bisa diterapkan untuk para pemain kita? Bisa nggak kita contoh?
Budaya Jepang itu sudah sangat mengakar. Misalnya disiplin. Keseharian sejak kecil mereka sudah seperti itu. Jadi sudah kayak mengakar. Seperti anak kecil yang sekolah sudah tidak diantar orang tua. Itu sejak TK. Kalau jarak dekat mereka naik sepeda. Kalau jaraknya jauh mereka akan naik bus umum atau bus sekolah.
Mereka sudah berangkat sendiri. Memang sejak kecil sudah dibentuk seperti itu sih ya budayanya mereka. Itu yang luar biasa.
Lalu kalau dari sistem pembinaan bulu tangkis, di Jepang itu sekarang seperti apa?
Ya ada sejak sekolah, SD, SMP, SMA. Basisnya memang sekolah. Lepas SMA, baru ke instansi seperti ke Unisys atau NTT. Kalau nggak mau ke instansi, misalnya yang mau kuliah dulu, ya kuliah.
Namun bagi atlet badminton, kuliah itu biasanya buang waktu empat tahun. Makanya seperti Momota itu, lulus SMA langsung ke NTT. Di Jepang, cuma ada beberapa klub yang fokus dan bener lah. Kalau di Indonesia kan ada Djarum, Jaya Raya, misalnya. Nah, sekolah juga sama di sana. Yang fokus itu cuma ada beberapa sekolah.
Waktu Mas Imam datang ke Jepang pada 2002, kultur bulu tangkis di sana tidak seperti sekarang. Lalu, cara memulainya bagaimana?
Wah susah, Mas. Jangankan ngomong juara dunia. Menang di level internasional saja rasanya kayak mimpi. Padahal masih tahun 2002. Ya karena nggak ada yang prestasi. Lalu setelah Olimpiade Athena 2004, pengurus badminton Jepang punya pemikiran untuk mempromosikan badminton lewat media.
Diambillah pemain yang berparas cakep. Waktu itu namanya Reiko Shiota, Shintaro Ikeda, dan Kumiko Ogura. Nah tiga pemain ini memiliki paras yang oke dan prestasi yang lumayan lah. Lalu dibikinkan promosi di TV. Memang sengaja dipromosikan. Karena mereka ingin badminton ini maju di Jepang. Apalagi setelah Olimpiade 2020 dipastikan di Tokyo (pada 2013, Red).
Photo
Reiko Shiota (kiri) dan Kumiko Ogura. (Badminton Connect)
Jika dibandingkan, program latihan Momota dengan misalnya yang ada di PB Djarum sekarang, apa bedanya?
Program latihan badminton di mana-mana yang sama saja. Smes ya gitu. Netting ya gitu. Kalau di Jepang malah lebih pendek. Kalau di sini pagi dan sore. Kalau di sana kan terpotong sekolah. Maksimal ya tiga jam latihan sehari.
Di sini malah lebih lama ya? Jadi mengapa Jepang akhirnya punya pemain sekelas Momota?
Yang membedakan ya cara masuk ke lapangannya. Fokus latihan atau cuma kegiatan sehari-hari? Latihan atau cuma absen rutin saja? Absen rutin kalau sehari dua kali, sehari sampai tiga kali, ya percuma. Kalau nggak ada fokus dan tujuan, ya percuma juga.
Tunggal putra Indonesia terakhir mendominasi dunia pada era 1990-an. Bisa nggak tunggal putra Indonesia di top level lagi?
Kalau nggak bisa ya nggak masuk akal. Kebangetan! Karena sumber daya manusia ada. Fasilitas ada. Program ada. Kita juga punya sejarah. Bagaimana bisa pikirannya mau terbuka, kalau sejarah saja tidak punya?
Waktu saya kecil, main badminton ya saya melihat kayak Joko Suprianto, Liem Swie King. Kan gitu. Kalau sekarang yang top ya Momota. Mungkin adalah saingannya Momota. Seperti (Anthony Sinisuka) Ginting di Indonesia. Anak-anak pengen seperti Ginting. Tapi kan dalam prestasi, memang Momota sekarang jauh di atas. Tapi pasti bisa kok. Anak-anak kita ini punya skill kok. Skill Indonesia kalau digabung dengan karakter Jepang, ya nggak ada matinya.
Menemukan bibit pemain itu pasti tidak mudah. Kalau cara Mas Imam mencari bibit pemain muda yang mungkin bisa bersinar menjadi pemain kelas dunia itu bagaimana?
Masing-masing pelatih itu berbeda. Kalau saya, selama ini sih berdasarkan pengalaman. Jadi semacam sense. Waktu di Tomioka ada Takuro Hoki, Yugo Kobayashi, ada Watanabe Yuta, ada Arisa Higashino, ada Ohori Aya. Mereka adik kelasnya Momota semua. Cuma, selain Momota, mereka rasanya memang susah jadi nomor satu dunia. Oke final. Oke juara. Oke ranking dunianya tinggi. Tapi untuk jadi seperti Momota itu agak sulit.
Momota ini memang sangat spesial anaknya. Dan kalau dibandingkan dengan Momota ya memang beda. Dan yang akan mengubah sejarah Jepang ya anak ini. Dan yang paling penting juga adalah menjaga anak ini. Menjaga semuanya. Termasuk dari mental dan pikirannya.
Katakanlah dari Audisi (Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis, Red) muncul seperti Kevin (Sanjaya Sukamuljo). Ini sudah sangat luar biasa. Dari berapa ribu anak, muncul kayak Kevin satu. Awalnya, Kevin ini kan kecil dan nggak menarik bagi para pelatih. Pada awal, semua pemain kan diproyeksikan ke singlenya. Jadi Kevin ini terkesan nggak menarik. Kalau double, ya belum ada pikiran ke sana. Single kalau badan kecil itu bagaimana coba? Ya sulit sekali.
Photo
Imam Tohari bersama Takuro Hoki (kiri), Aya Ohori (dua dari kanan), dan Yugo Kobayashi. (PP PBSI).
Nah, karena sudah menyebut Yuta Watanabe, saya ingin tahu pengalaman Mas Imam dengan Yuta ini seperti apa. Dia punya badan kecil juga...
Begini, waktu saya melatih Momota, Watanabe Yuta ini datang. Dua-duanya, baik Momota dan Watanabe itu pakai tangan kiri. Watanabe Yuta itu juniornya Momota. Kalau saya lihat dari fisik dan postur, dia sebetulnya nggak jelek singlenya.
Meskipun kecil, dia bagus banget singlenya. Waktu saya balik ke Indonesia saya bilang ke pengurus dan orang tua Watanabe Yuta. Ngobrol gitu, lalu saya sempat bilang, kalau anak ini diterusin di single akan sayang. Ini anak punya bakat di atas rata-rata. Jadi, lebih baik fokus di mixed double atau double. Karena, sejak umur 15 tahun ke bawah itu, sudah kelihatan bakat besarnya. Anak ini punya kelebihan di atas rata-rata.
Waktu Yuta bersama Endo mengalahkan Marcus/Kevin di final All England 2020, Mas Imam nonton? Bagaimana Mas Imam merefleksikan permainan dia?
Oh iya, saya nonton Mas. Sebelumnya, waktu masih di kelas junior saya merasa ini anak bakal menjadi pemain double level atas. Kalau Momota kan khusus single.
Waktu Momota kelas 3 SMA, Watanabe Yuta ini kelas 3 SMP. Jadi memang beda tiga tahun. Adik kelas Momota ada lagi ganda putra yang finalis World Championships 2019 (Takuro) Hoki/(Yugo) Kobayashi yang lawan Hendra/Ahsan. Dua-duanya itu adik kelas Momota persis.
Waktu itu, memang kalau dibandingkan dengan Watanabe Yuta, dua anak ini masih di bawah untuk ke depannya. Dari skill, dari kemampuan, keduanya masih di bawah Watanabe Yuta.
Waktu itu saya sempat ngomong gitu ke orang tuanya. Lebih baik fokus Watanabe Yuta ini ke ganda. Kalau single sih sangat berat untuk level dunia. Dari segi postur, dari segi fisik akan lebih mendukung di ganda. Itu yang saya bilang. Partnernya yang mixed itu Arisha Highashino, juga dari Tomioka.
Photo
Yuta Watanabe merayakan kemenangannya atas Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo pada final All England 2020. (Oli Scarff/AFP)
Yuta memang dahsyat sekali waktu di All England 2020. Namun, untuk konsisten di papan atas dunia seperti Marcus/Kevin, misalnya, apakah bisa?
Nah, Yuta itu sekarang tergantung pada pasangannya. Pasangannya, si Endo ini kan sudah senior. Jauh, beda 11 tahun ya. Bahkan, Endo ini kan lebih tua dari (Mohammad) Ahsan.
Kayaknya, memang pasangan ini (bertahan) sampai Olimpiade Tokyo. Nah setelah Olimpiade, pasti akan dirombak lagi. Watanabe Yuta akan cari pasangan lagi. Kevin/Marcus, saya rasa juga sama. Marcus kayaknya sampai Olimpiade. Setelah itu ke depannya juga kita belum tahu.
Menurut saya, kalau kayak Kevin kalau kayak Watanabe Yuta, dipartnerin dengan siapapun, gampang sih ya Mas. Karena dua-duanya sudah punya skill di atas rata-rata. Tinggal cari partner, yang agak safe dan ada gebukannya. Itu sudah cukup.
Marcus itu kan di belakang dan safe. Itu sudah cukup buat Kevin. Watanabe Yuta juga sama. Di Jepang kan banyak pemain yang sepantaran dengan dia. Pasti ada lah yang bisa dipasangin. Karena memang, Yuta dan Kevin kalau dari skill individu, memang di atas rata-rata.
(Bagian pertama bisa dibaca di sini)

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
