
tony syarifudin ( 45 ) bersama Rio akbar ( 1015 ) saat berlomba di even banyuwangi internasional bmx 2018 di sirkuit muncar - galihcokro/jawapos
JawaPos.com – Balap sepeda sama sekali bukan cabor andalan Indonesia di pentas Olimpiade. Bisa dapat tiket saja sebenarnya sudah disyukuri.
Para pembalap Merah Putih memang belum mencapai level dunia. Untuk itu, PB ISSI ingin membuat perubahan. Induk organisasi sepeda sport tanah air tersebut ingin bisa bersaing di Olimpiade. Caranya dengan merekrut superkonsultan Frederic Magne.
’’Kami merasa PB ISSI ini di level yang nggak bisa coba-coba lagi. Jadi, kami mencari yang terbaik dari yang terbaik,’’ ucap Ketua Umum PB ISSI Raja Sapta Oktohari di kantor NOC Indonesia kemarin.
’’Kita sudah punya velodrom dan trek terbaik di dunia. Begitu juga dengan fasilitas-fasilitas lain. Sekarang tinggal programnya. Kami coba lobi Frederic Magne, mantan direktur World Cycling Center. Dia setuju,’’ papar Okto, sapaan Raja Sapta.
Magne, yang berasal dari Prancis, adalah mantan pembalap trek top. Dia merebut gelar juara dunia tujuh kali. Dari disiplin kirin dan tandem. Pria yang kini berusia 50 tahun itu juga pernah tampil di empat edisi Olimpiade.
Tugas Magne adalah mendesain program yang akan dijalankan ISSI. Mulai rekrutmen sampai mengantarkan lolos kualifikasi Olimpiade. Targetnya ialah Olimpiade 2032, jika Indonesia berhasil menjadi tuan rumah. ’’Kami sadar balap sepeda itu olahraga yang sangat tidak bisa dilakukan secara instan. Harus by design,’’ jelas Okto.
Magne bukan orang baru bagi ISSI. Dia pernah menangani program beberapa pembalap Indonesia. Sebut saja Elga Kharisma Novanda, Toni Syarifudin, dan Popo Ario Sejati. Tentu dia sudah paham karakter balap sepeda Indonesia. Jika dia bisa membuat program latihan yang mumpuni, PB ISSI tidak perlu jauh-jauh mengirim pelatih menimba ilmu ke luar negeri.
Magne menyatakan komitmennya menangani para rider Indonesia. ’’Saya akan mengembangkan balap sepeda di sini. Saya penyuka tantangan. Saya bisa lihat dunia balap sepeda Indonesia punya potensi yang besar,’’ ujar Magne.
Desain yang direncanakan Magne itu adalah merekrut pembalap sejak berusia 13 tahun. Diharapkan, ketika menginjak usia 17 tahun, si rider sudah bisa mengikuti ajang Youth Olympic. Lalu, di usia 21 tahun, mereka mampu menembus kualifikasi Olimpiade Los Angeles. Nah, puncak performanya diharapkan bisa muncul pada Olimpiade 2032.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
