
Roger Federer
JawaPos.com – “Jelas saya sangat kecewa.” Kalimat itu meluncur pertama kali dari mulut Roger Federer sesaat setelah ia ditaklukkan oleh Novak Djokovic di partai final Grand Slam Amerika Serikat Terbuka 2015, Senin (14/9) dinihari WIB.
Maklum, di usianya yang sudah menginjak 34 tahun, peluang untuk tampil di final Grand Slam mungkin akan jarang sekali ia miliki. Padahal, ia masih berhatap bisa meraih titel Grand Slam ke-18 yang ia buru sejak tiga tahun lalu.
“Saya punya peluang lewat ayunan raket saya, tapi Novak melakukan tugasnya dengan baik untuk meredam semua pukulan saya. Ini adalah pertarungan yang hebat, dan saya senang orang tetap berada di lapangan walaupun harus menunggu hujan reda. Mereka tetap ada di sana ketika saya membutuhkan hingga momen terakhir,” kata Federer seperti dilansir situs resmi ATP.
“Dukungan penonton yang tak berhenti jadi alasan pasti kenapa saya akan terus bermain. Momen senang dan sedih bercampur aduk inilah jadi alasan saya kenapa masih bermain. Penonton sangat luar biasa malam ini, mungkin terbaik yang pernah saya rasakan,” imbuh Federer.
Sepanjang sejarah tenis dunia, hanya ada enam petenis yang bisa meraih enam gelar juara atau lebih pada satu turnamen grand slam. Federer sebetulnya punya kesempatan untuk jadi satu-satunya petenis dalam sejarah sejak era open dimulai, yang bisa memenangi enam titel dalam dua grand slam berbeda, tapi sayang peluang itu kandas di tangan Djokovic. Petenis terakhir sebelum era open yang bisa melakukannya adalah Ken Rosewall di tahun 1970.
Dukungan penonton di Flushing Meadows, New York, membantu sang maestro untuk mendapatkan 23 kali kesempatan mematahkan servis Djokovic. Tapi mereka harus dibuat kecewa karena petenis rangking dua dunia itu hanya mampu mengkoversi empat kesempatan mematahkan servis Djokovic dalam pertarungan grand slam ke-14 antar keduanya.
“Saya punya banyak sekali peluang mendapatkan break. Tentu saja beberapa di antaranya bisa saya selesaikan, tapi saya harusnya mendapatkan lebih banyak lagi. Djokovic tak memberikan saya kesempatan banyak, itu jelas, tapi saya yang harusnya berusaha lebih keras lagi,” keluh Federer.
Dengan kekalahan ini, petenis asal Swiss itu kini memiliki rekor seimbang, 21-21 melawan Djokovic. Ini akan jadi tahun ketiga buat Federer tanpa sekalipun meraih gelar grand slam semenjak terakhir kali juara di Wimbledon 2012 silam. Namun kesempatan untuk tampil di partai puncak AS Terbuka saja sudah membuatnya semringah karena ia terakhir kali bisa menembus final adalah tahun 2009, takluk juga di tangan Juan Martin del Potro.
“Saya senang masih bisa bertarung di level atas untuk waktu yang lama. Karena saya selalu menunjukkan kegigihan setiap bertanding dan terus berlatih keras saat tidak libur turnamen,” pungkas Federer yang masih memiliki tugas untuk mempertahankan gelarnya di Shanghai dan Basel, serta mencoba merebut gelar ketujuh di ATP Finals akhir tahun ini. (dim/JPG)

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Foto Prabowo-Gibran Dipasang di Salib Merah saat Demo di Monas, PMKRI: Simbol Dua Pendosa
