
Jun Qian Motorsport for Jawa Pos
JawaPos.com – Francesco Bagnaia menebar senyum dari dalam garasi Ducati sebelum sesi kualifikasi GP Valencia digelar tadi malam.
Tak jauh dari sana, sang rival Fabio Quartararo mendengarkan musik melalui earphone. Sesekali dia terlihat bernyanyi.
Tapi, dari sorot mata keduanya, tekanan berat tak bisa disembunyikan.
Hasil kualifikasi sedikit banyak menjelaskan tekanan itu. Kedua rival yang bakal berebut gelar juara dunia MotoGP 2022 nanti malam (start pukul 20.00) tersebut gagal meraih posisi start ideal.
Quartararo start dari P4. Pecco –sapaan karib Bagnaia– lebih buruk, yakni memulai lomba dari P8.
Pantas jika keduanya tertekan. Sejak MotoGP era modern dimulai pada 2002, baru empat kali gelar juara dunia ditentukan sampai balapan terakhir (2006, 2013, 2015, dan 2017).
Dan GP Valencia malam nanti adalah yang kelima.
Dalam tiga tahun terakhir, gelar juara MotoGP tidak pernah didominasi oleh satu pembalap. Tradisi itu bisa berlanjut jika pembalap jagoan Ducati Bagnaia keluar sebagai juara.
Sebaliknya, jika juara bertahan Quartararo menjadi kampiun, tradisi tersebut patah.
Bagnaia juga berburu rekor lain. Jika menjadi juara dunia, dia menjadi pembalap Italia pertama yang sanggup menjadi juara dunia dengan menggunakan motor pabrikan Italia.
Catatan tersebut bahkan gagal diraih mentornya sendiri, yakni Valentino Rossi. Satu-satunya pembalap Italia yang bisa jadi juara dunia di kelas premium menggunakan motor Italia adalah Giacomo Agostini.
Itu terjadi 50 tahun silam pada 1972. Saat itu, Agostini mengendarai motor MV Agusta. ”Sudah 50 tahun berlalu, aku berharap Bagnaia bisa mengulanginya kali ini,’’ ucap Agostini dilansir Motorcyclesports.
Sang mentor Rossi berada di Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, akhir pekan ini. The Doctor ingin menjadi saksi torehan besar itu diraih anak asuhnya.
Apalagi jika menjadi juara dunia, Bagnaia akan menjadi rider Italia pertama yang bisa merajai MotoGP sejak Rossi 13 tahun lalu atau pada 2009.
Pecco juga punya sejarah apik di Valencia. Tahun lalu dia adalah peraih podium tertinggi di sirkuit tersebut.
Meski demikian, Pecco mengakui bahwa sejak sesi latihan bebas pertama di sirkuit itu, dirinya tidak bisa tampil lepas karena tak mau mengalami insiden apa pun.
”Harus aku akui, pikiranku tentang juara dunia membuat catatan waktuku berkurang,’’ ucap Bagnaia dilansir Motorsport.
Di sisi lain, Quartararo berjanji akan bertarung sampai titik terakhir. Dia butuh meraih podium tertinggi dan berharap Bagnaia finis di posisi ke-15 atau lebih buruk untuk jadi juara dunia.
”Aku sudah bilang ke semua anggota tim, apa pun yang terjadi, kami akan bersenang-senang. Yang pasti, aku tidak akan meninggalkan sirkuit ini tanpa bertarung lebih dulu,’’ ujarnya.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
