
Mantan Atlet bulu tangkis Taufik Hidayat usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Kamis (1/8/2019). Taufik diperiksa KPK untuk pengembangan kasus korupsi di lingkungan Kemenpora. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com
JawaPos.com-Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) PP PBSI 2021 telah diselenggarakan di Hotel Ayana Midplaza, Sudirman, Jakarta Pusat. Ada beberapa poin yang menjadi pembahasan dalam mukernas ini. Yakni, pemaparan laporan tahun 2021 dan rencana bidang-bidang PBSI pada 2022.
Rencana terbesar adalah menuju puncak prestasi pada Olimpiade Paris 2024.
Legenda bulu tangkis Indonesia Taufik Hidayat menilai, apa yang sudah dilaporkan pada mukernas itu hanya standar.
Taufik yang juga menjabat Waketum Pengprov PBSI Jawa Barat meminta Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) tidak hanya mengurusi pusat. Sebab, atlet di daerah juga harus mendapat lebih banyak program.
Peraih medali emas Olimpiade Athena 2004 itu menyadari bahwa prestasi bisa dilihat dari pelatnas. Tetapi tanpa andil daerah, menurut pendapat Taufik, pusat tidak akan berjalan dengan maksimal.
Taufik sendiri telah mengundurkan diri dari Staf Ahli Binpres PP PBSI per Maret 2022. Kenapa mundur? Juara dunia 2005 itu merasa sudah tidak sejalan dengan sistem pembinaan PP PBSI.
Dia mengungkapkan, ada beberapa kali masalah internal yang dirinya tidak dilibatkan. Karena itu, dia berkirim surat untuk mundur.
Taufik memang vokal mengkritisi pembinaan di daerah yang memiliki 34 pengprov di seluruh Indonesia. Taufik menuturkan, pemain ataupun pelatih yang tidak bisa mengantar juara di pelatnas harus langsung diganti.
Menurut dia, masih banyak pemain lain yang bisa dibina. Selain itu, banyak pelatih teknik dan fisik potensial yang belum dicoba oleh pelatnas PP PBSI.
Berikut adalah kutipan pernyataan lengkap Taufik Hidayat dalam obrolan dengan wartawan di Jakarta kemarin (14/4).
Apa alasan Anda memutuskan mundur dari staf ahli binpres PP PBSI?
Alasannya kenapa mundur dari PBSI karena saya tidak sejalan dengan sistem pembinaan di Binpres. Dan banyak lah. Ada beberapa kali masalah internal, tapi saya tidak dilibatkan disitu. Jadi saya berkirim surat untuk mundur.
Toh ada saya atau tidak ada saya, PBSI juga tetap baik-baik saja. Tidak ada pengaruhnya. Lebih baik bagi saya mundur. Saya juga tidak mau ada di situ jadi pajangan aja, tapi tidak berkontribusi.
Dalam pandangan Anda, apa yang harus diperbaiki dalam tubuh PBSI?
Harusnya kalau memang diperbaiki, ya di pelatnas yang memang menjadi sorotan masyarakat. Tapi jangan lupa, ada kaki tangan dan anggota yang ada di daerah. Pengurus pusat ini membawahi 34 provinsi. Di daerah kan induknya ke pusat. Harus dimanfaatkan programnya.
Di pelatnas sendiri, mereka harus benar-benar membedah kesalahan. Ada apa sih kok dari tahun ke tahun sama saja. Kalau pemain yang sudah lama tidak ada prestasi, masih banyak kok pemain lain yang bisa dibina lagi.
Masih banyak pelatih entah teknik dan fisik yang belum dicoba.
Marilah dirembukin. Jangan berasumsi sendiri. Dan saya juga tidak suka kalau memang ada yang ditarik ke situ (pelatnas) berdasarkan kedekatan. Harus ada kriterianya entah pemain dan pelatih.
Harus diperbaiki juga pola cara berlatih. Sport science-nya juga jangan judulnya doang ya. Harus dijelaskan sport science itu apa dan standarnya gimana.
Yang saya lihat, pemain, pelatih teknik, dan pelatih fisik, seperti tidak sejalan. Harusnya, untuk satu program kan ada rembukan.
Misalnya (Anthony) Ginting dan Jonatan (Christie) pola latihannya harusnya beda. Kalau memang ada sport science kan seharusnya beda. Jonatan beratnya segini, Ginting segini. Pelatih fisiknya juga kan harus diperkuat. Latihan di gym-nya, saya kira kurang dikuatkan.
Pelatih teknik dan fisik saya kira tidak sejalan. Banyak lah pelatih yang curhat, akhirnya berjalan sendiri. Sebab latihan tidak disesuaikan dengan daya tahan tubuh.
Bagaimana pandangan Anda soal Mukernas PP PBSI?
Yang dilaporan standar aja ya. Kalau laporan yang sudah-sudah, masih dalam suasana Covid-19. Mereka juga hanya melaporkan yang sudah berjalan di PBSI pusat saja. Jadi kebanyakan di pelatnas.
Program ke depannya kalau di sisi binpresnya, saya yang mewakili Jawa Barat mohon banget binpres jangan di atas saja. Di daerah juga butuh program.
Tidak ada pelatnas, kalau di daerah tidak berjalan. Kalau di daerah mati, tidak mungkin juga ada pelatnas. Jadi saya minta pengurus pusat tidak hanya pelatnas. Memang, hasil akhir prestasi dilihat di pelatnas.
Tapi di daerah juga harus dibuat program. Di daerah punya, pusat punya. Karena kita menginduk ke pusat.
Dulu dijanjikan apa ketika ditunjuk sebagai staf khusus binpres?
Jadi, sebenarnya ada pengurus yang lama yang terlibat lagi pada kepengurusan sekarang. Saya kan juga mewakili Pengprov Jabar dan dari situlah saya diminta untuk menjadi staf binpres.
Nggak pernah dijanjiin sih, tapi harapannya mudah-mudahan berubah. Nggak kayak dulu-dulu. Maksudnya, jangan dipanggil di PBSI tetapi cuma nama doang. Itu sih berharapnya. Apalagi, masa sih saya nggak mau diminta PBSI.
Kan selama ini, bulu tangkis yang gedein saya. Yang bikin saya kayak sekarang ya karena karena bulu tangkis. Kalau dituntut dan ditaruh di binpres, ya memang kita ahlinya. Dan memang pernah mengalami. Tapi nggak pernah dijanjiin apa-apa.
Selain suara yang tidak pernah didengar, apa yang paling membuat kecewa sehingga memutuskan mundur dari PBSI?
Jadi bersambung ya, kebetulan ada pengurus yang memang orang lama jadi kejadiannya begitu-begitu lagi. Nggak pernah diajak kasih masukan dalam hal resmi, dalam rapat resmi, ketika akan memutuskan sesuatu yang resmi.
Soal pelatih yang didegradasi, ya nggak dilibatin juga. Itu kan hal krusial tapi saya nggak pernah diajak diskusi. Yaudahlah, ngapain lagi di sana. Sayang bener namanya jadi pajangan doang, lebih baik nggak di situ. Di luar kan bisa berkontribusi yang lain.
Kita tetap mengkritik yang membangun biar lebih baik lagi. Mudah-mudahan, saya nggak di situ, mereka nggak ada beban. Mereka jadi bisa lebih bagus. Saya nggak mau keberadaan saya mengganggu kinerja mereka.
Tidak sayang meninggalkan PBSI?
Sekarang begini, saya kan nggak ada tanggung jawab lagi. Justru kalau saya di situ, misalnya PBSI bagus, tapi amit-amit jelek, kan saya juga terlibat juga.
Saya sudah nggak mau, jadi lebih baik saya nggak usah di situ. Meskipun tidak di PBSI, saya juga masih bisa dedikasi di bulu tangkis daerah.
Yang pasti asal diingat, dedikasi saya sudah cukup lah buat Indonesia lewat bulu tangkis. Itu kan pas zaman main. Tapi kan sekarang nggak nyari kerjaan dari olahraga juga. Justru saya ingin, kalau saya punya masukan, kalau memang bagus ya minta tolong didenger. Tetapi kalau enggak, ya nggak masalah.
Sebagai Ketua PB SGS Bandung, bagaimana pandangan terkait kepindahan atlet?
Kalau atlet mau pindah ya silakan saja. Kalau bisa lebih berprestasi lagi. Yang penting, mereka pindah itu mereka harus bahagia dan berprestasi lagi. Jangan cuma perkara dia emosi, dia marah, terus pindah. Misalnya dalam soal bonus. Selama ini, klub yang mampu saja yang bisa memberi bonus. Tidak bisa disamaratakan. Bonus itu tetap sesuai dengan kemampuan klub.
Kalau pindah klub, pemain itu pakai sistem transfer atau bagaimana?
Ya ada transfernya. Karena kalau di PBSI pusat kan ada aturannya. Jadi ranking 1 sampai 5 dunia berapa, nomor 5 sampai 10 berapa. Kalau tidak salah, Fajar (Alfian) jika mau pindah, berdasarkan peraturan harus bayar Rp 2 M. Karena dia ranking 7. (Sekarang Fajar dan Muhammad Rian Ardianto berada di ranking 8 dunia, Red). Jadi, kalau naik ranking lagi, ya jumlahnya naik lagi.
(Menurut sumber Jawa Pos, Fajar Alfian kemungkinan bisa pindah dari PB SGS Bandung ke PB Jaya Raya Jakarta)
Uang transfer itu bisa buat pembinaan di PB SGS?
Wah banyak banget. Uang segitu bisa buat cari atlet lagi. Tapi tergantung lah, kan setiap orang pemikirannya lain-lain. Ada yang mikirin dirinya saja, ada yang mikirin kawan-kawannya, ada yang mikirin juniornya. Bebas.
Kalau Anthony Ginting bagaimana?
Enggaklah dia. Kalau pun dia mau pindah, ya tidak apa-apa. Sesuai aturan saja. Maksudnya bicara baik-baik saja. Kalau mereka nyaman, ya tidak apa-apa. Kadang di klub juga kan ada yang mau pindah. Kan dilihat dulu, yakin nih mau pindah. Asal baik-baik saja, jangan nyolot di awal ya. Karena kita juga bisa nyolot juga. Kalau baik, ya kita bisa lebih baik lagi. (*)

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
