
Photo
JawaPos.com - Indonesia hanya bisa meringis di level Asia Junior Championships (AJC) 2015. Pulang dengan menggenggam sekeping perunggu pastinya bukan prestasi hebat.
Hasil itu menjadi evaluasi besar bagi PP PBSI dalam mengembangkan pemain mudanya menyongsong masa depan.
Persiapan kontingen untuk kejuaraan beregu di level junior yang dilakukan PP PBSI mungkin tidak seserius di tataran senior.
Padahal, pemain junior itulah yang menjadi ujung tombak Indonesia pada masa mendatang.
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PP PBSI Rexy Mainaky mengatakan, pihaknya sedang berjuang memperbaiki sistem pembinaan atlet junior.
Mulai pengiriman, penentuan atlet, hingga penjaringan bibit junior. Binpres pun tidak lupa bekerja sama dengan Bidang Pengembangan PP PBSI yang dinakhodai Basri Yusuf.
Untuk level junior, PP PBSI sebenarnya sudah menggenjot sejak 2013. Misalnya, menggelar kejuaraan khusus untuk pemain terbaik tanah air di level U-17 dan U-19 yang bertajuk Junior Masters.
Pemain yang boleh mengikuti ajang itu harus masuk peringkat sepuluh besar di setiap kategori dan sektor. Bahkan, pada 2014, ada tambahan kriteria kualitas fisik dari pemain junior.
Memang, sistem yang dibangun pada era Gita Wirjawan ini tidak bisa langsung sukses. Rexy bahkan menuturkan, baru bisa dipetik hasil ’’benar’’ dan tertatanya level junior itu mungkin pada Olimpiade 2020 atau bahkan 2024.
’’Untuk ke depan, kami harus mempersiapkan pemain level junior lebih lama dan awal. At least satu tahun. Kita lihat Tiongkok mempersiapkan skuad juniornya dengan demikian. Kami usahakan seperti itu,’’ kata pria asal Ternate itu.
Rexy sebenarnya sudah mencoba menggodok sistem agar lebih baik dengan membagi status pemain pelatnas menjadi dua pada 2014. Yakni, prestasi dan potensi.
Namun, kenyataannya, pembagian tersebut tidak diiringi dukungan penuh PP PBSI berupa pengiriman atlet potensi ke turnamen level international challenge atau grand prix.
Kabid Pengembangan PP PBSI Basri Yusuf menilai, pihaknya sudah sedikit demi sedikit menata ulang sistem pembinaan di daerah.
Bapak tiga anak itu hampir setiap dua pekan berkeliling Indonesia untuk meninjau model kepelatihan dan pembinaan di level klub atau pengprov.
Berdasar temuan Basri, memang tidak semua pengprov menerapkan sistem pelatihan yang sesuai dengan standar PP PBSI. Tidak banyak di antara mereka yang punya pikiran menguatkan skill dasar para pemain muda.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
