
Direktur Utama Pos Indonesia Faizal Rochmad Djoemadi bedah buku Thriving on Turbulence: Agile Leadership untuk Sukses Melewati Disrupsi, pada Minggu (9/6).
JawaPos.com–”Dalam kondisi krisis, kita tidak bisa bicara visi. Semua daya fokus menaikkan performansi,” kata Direktur Utama Pos Indonesia Faizal Rochmad Djoemadi.
Hal itu dia sampaikan dalam acara cangkrukan bersama alumni ITS dan bedah buku terbarunya, Thriving on Turbulence: Agile Leadership untuk Sukses Melewati Disrupsi, pada Minggu (9/6), di Kampi Hotel, Surabaya.
Buku itu adalah kristalisasi pengalamannya dalam memimpin Pos Indonesia saat periode pandemi. Menurut Faizal, pandemi bentuk nyata dari krisis.
”Kepemimpinan di tengah krisis membutuhkan pendekatan yang berbeda. Tidak bisa dilakukan dengan kepemimpinan yang biasa,” ujar Faizal Rochmad Djoemadi.
Faizal menuturkan, pertama kali bagi dirinya dan Pos Indonesia mengelola perusahaan di dalam lingkungan bisnis yang betul-betul ekstrem, kacau, dan bergolak. Sederhananya penuh turbulensi. Kala itu perusahaan mengalami double crisis.
”Yakni, lingkup eksternal dan internal. Di sisi eksternal, industri dihantam pandemi Covid-19,” papar Faizal Rochmad Djoemadi.
Faizal menilai, suasana itu membuat semua orang bingung. Sebab, itu adalah fenomena baru yang tidak dipahami banyak orang.
”Tetapi yang jelas, pandemi membuat aktivitas bisnis dan industri lumpuh,” ucap Faizal.
Di lain pihak, lanjut dia, di sisi internal perusahaan mengalami permasalahan yang kompleks. Ada tiga hal yang dia soroti sebagai faktor-faktor yang jadi penyebab merosotnya performa Pos Indonesia. Pertama, performansi finansial.
”Pos Indonesia mengalami pelemahan finansial. Revenue perusahaan berada di angka yang memprihatinkan,” terang Faizal Rochmad Djoemadi.
Kedua, menurut dia, performansi bisnis. Pos Indonesia kalah bersaing dengan kompetitor. Portfolio bisnis di bidang jasa kurir dan logistik boleh dikatakan keok. Tidak dapat mengesankan konsumen, sehingga konsumen beralih ke brand lain.
”Ketidakpercayaan konsumen membuat market share Pos Indonesia tergerus turun,” kata Faizal Rochmad Djoemadi.
Penyebab lain menurunnya performa bisnis juga selaras dengan hal ketiga yakni hancurnya disiplin operasional. Salah satu faktornya adalah indikator capaian pengiriman yang jauh dari kata memuaskan.
”Dalam kondisi krisis seperti ini, kita tidak boleh bersikap biasa-biasa saja. Harus extraordinary,” tandas Faizal Rochmad Djoemadi.
Bagi Faizal strategi memimpin di tengah krisis adalah agilitas kemampuan untuk bertindak lincah, cepat, dan tepat. Agilitas itu harus diamplifikasikan ke dalam lima aspek yakni agile leadership, agile culture, agile digitalization, agile inno-collab, dan agile execution.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
