Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 22 April 2024 | 23.24 WIB

Memelihara Warisan Budaya, Inilah Jejak Sejarah dan Makna Tradisi Ngadu Bedug di Pandeglang

Pedagang bedug musiman menggelar barang dagangannya di trotoar sepanjang jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

JawaPos.com - Tradisi ngadu bedug, sebuah warisan budaya kuno, kembali dihidupkan melalui perhelatan yang meriah di Alun-alun Pandeglang pada Minggu (21/4). Hal ini bukan sekadar sebuah acara, tetapi sebuah perayaan akan sejarah dan makna mendalam dari kesenian yang berasal dari alam, khususnya dari tumbuhan seperti pohon kelapa.

Endang Suhendar, seorang seniman bedug ternama di Pandeglang, mengungkapkan bahwa tradisi gebrag ngadu bedug telah mewarnai kehidupan masyarakat sejak tahun 1865, ketika pertama kali dipertunjukkan dalam acara menyambut pernikahan seorang putri Bupati Pandeglang.

Penggunaan bahan dari kelapa tidaklah kebetulan, mengingat wilayah Gunung Karang yang kaya akan pohon kelapa, sehingga menjadi bahan utama dalam pembuatan bedug.

Bedug bukan hanya sekadar alat musik; dalam masa lalu, ia memiliki peran penting sebagai genderang perang dan sarana ritual.

Tradisi Pasundan, misalnya, memperlihatkan penggunaan bedug dalam berbagai upacara ritual yang dianggap sakral.

Hanya orang-orang tertentu yang dianggap layak memainkan bedug, menegaskan kedalaman makna dan pentingnya alat musik ini dalam kehidupan masyarakat.

Selain sebagai alat musik dan ritual, bedug juga digunakan sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam masa lampau, bedug digunakan untuk menandai berbagai acara keagamaan dan memberi isyarat atas berbagai kejadian penting, seperti waktu sholat dan kematian seseorang.

Asal usul tradisi ngadu bedug dapat ditelusuri hingga praktik Nganjor, di mana masyarakat saling berkunjung sebagai tanda solidaritas dan kebersamaan.

Namun, interaksi yang intens sering kali berujung pada konflik, bahkan hingga adu bedug yang serius. Konflik ini, meskipun sering terjadi, selalu berujung pada kesepakatan damai, dengan pembangunan saung sebagai simbol perdamaian.

Editor: Nicolaus Ade
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore