alexametrics

Sukses di Lapangan Hijau, Arena Basket, dan Layar Konsol

Agar Sponsor Dapat Benefit Tambahan
10 Januari 2021, 11:34:01 WIB

Klub-klub sepak bola di tanah air mulai mengepakkan sayap bisnis dengan mengelola tim e-sport dan basket. Buntut tren dunia yang berubah.

BEGINI cara PSIS Semarang memandang masa depan: logo dan nama sponsor tidak cuma bertebaran di lapangan hijau, tapi juga melekat pada tim mereka yang bertarung di depan layar konsol dan TV LED.

”Jadi, sponsor dapat benefit tambahan. Semua yang masuk pasti melekat di kegiatan PSIS,” kata Chief Executive Officer (CEO) Yoyok Sukawi.

PSIS, seperti juga banyak tim lain di strata teratas kompetisi sepak bola tanah air Liga 1, memang sudah mulai mengepakkan sayap bisnis. PSIS, Si Mahesa Jenar, yang pernah jadi kampiun Kompetisi Perserikatan dan Liga Indonesia, memang tetap sebagai ”core business (bisnis inti)” alias jualan utama. Tapi, di sisi lain, mereka juga mulai merambah sepak bola virtual melalui tim e-sport. Setia Widianto, player mereka, tahun lalu membawa nama mereka di Indonesian Football e-League (IFeL) edisi pertama.

Mahesa Jenar, kata Yoyok, di tangan manajemen saat ini selalu mencoba terus berkembang. ”Khususnya teknologi. Bisnis kami pelan, tapi pasti akan berkembang ke arah e-sport juga,” jelasnya kepada Jawa Pos.

Roda bergerak, disrupsi terjadi di mana-mana, tak terkecuali di sepak bola. Bayangkan kalau klub-klub di tanah air memilih bersikap anakronistis (berseberangan dengan zaman). Ketika kompetisi tak jelas seperti sekarang ini, mereka bakal megap-megap karena tak ada pemasukan jika tak coba berdiversifikasi mengepakkan sayap bisnis.

Sudah pasti mendirikan entitas bisnis baru butuh biaya. Tapi, di sisi lain, itu juga membuka lahan baru untuk menampung sponsor. Setidaknya bendera perusahaan yang selama ini cuma dipikul tim sepak bola kini juga ikut dikibarkan tim dari cabang olahraga (cabor) lain. Dan itu bisa jadi nilai plus di mata sponsor.

Arema FC juga sudah berpartisipasi di IFeL tahun lalu. Sudarmadji, media officer klub yang berbasis di Malang itu, mengatakan, walau belum maksimal, setidaknya manajemen sudah mencoba mengelola cabor lain di luar sepak bola yang animonya sangat besar. ”Saat ini banyak yang datang ke Arema untuk bersinergi mengelolanya agar lebih kompeten,” ucapnya.

SEPAK BOLA, LALU BASKET: Persib Bandung saat meluncurkan skuad musim 2020. Persib dan klub basket Prawira Bandung dinaungi perusahaan yang sama. (ANGGER BONDAN/JAWA POS)

Persib Bandung dan Bali United malah tak cuma merangkul e-sport, tapi sudah menaungi klub basket. Bali United sebagai pendatang baru di Indonesian Basketball League, kompetisi olahraga profesional yang dijadwalkan paling awal bergulir di tahun ini, menunjukkan ambisi dan keseriusan mereka dengan merekrut nama-nama berpengalaman.

Seperti Yerikho Tuasela yang didatangkan dari Pacific Surabaya dan Daniel Wenas yang bergabung dari Louvre United. ”Target kami sementara ini (di IBL) tembus playoff. Tapi, tidak tertutup kemungkinan buat target lebih,” kata Manajer Bali United Sigit Sugiantoro membeberkan bahwa target tim sementara adalah tembus playoff. ”Tapi, tidak tertutup kemungkinan buat target lebih,” katanya.

Jauh sebelum mendirikan klub basket, Bali United yang tim sepak bolanya menjuarai Liga 1 2019 sudah lebih dulu masuk ke ranah e-sport. Mereka resmi mendirikan tim e-sport bernama Island of Gods.

Bali United bahkan sempat mengadakan turnamen e-sport dengan memainkan mobile game yang sedang tenar seperti PUBG hingga Mobile Legends. ”Melihat tren dunia berubah, lalu harus ada kejelasan antara yang suka sepak bola dan e-sport. Jadi, saya rasa kami harus jadi pionir untuk masuk ke dunia e-sport,” jelas Pieter Tanuri, owner Bali United.

Diversifikasi atau sejenis multisports club, klub yang menaungi berbagai cabor, ini sudah jamak di Eropa, Amerika Latin, dan sejumlah negara Asia. Real Madrid dan Barcelona di Spanyol, misalnya, tak cuma punya tim sepak bola, tapi juga, di antaranya, basket dan bola tangan. Begitu pula Palmeiras di Brasil dan River Plate di Argentina.

Real Madrid Baloncesto dan Barcelona Basquet, tim basket kedua klub, misalnya, sama suksesnya dengan tim-tim sepak bolanya. Baloncesto 35 kali menjuarai liga domestik dan sekali jawara Eropa. Basquet dua kali berjaya di Eropa dan 18 kali kampiun Spanyol. Masing-masing bermain di arena milik sendiri yang selalu dipenuhi penonton.

Tentu Real Madrid dan Barcelona berada di galaksi yang berbeda dibandingkan klub-klub Indonesia yang baru mulai melangkah ke arah diversifikasi. Tapi, apa salahnya bermimpi dan berusaha keras mewujudkan mimpi itu?

Di jagat sepak bola virtual, misalnya, Ketua IFeL 2020 Putra Sutopo Putra mengakui, belum semua tim mengerti betapa besarnya pasar e-sport. Karena itu, pihaknya rela memberikan subsidi lebih dulu agar klub-klub mau melihat bagaimana menguntungkannya dunia e-sport di Indonesia, khususnya virtual football. ”Gaji pemain, fasilitasnya, tempat latihannya, akomodasi dari tempat mereka asal, makan, semua kami yang atur dulu. Tapi, di musim yang baru tahun ini kami akan mencoba hal baru lagi,” katanya.

IKUTI TREN: Skuad Persija 2020. Sejak beberapa bulan lalu Persija juga punya tim e-sport. (ANGGER BONDAN/JAWA POS)

Putra bersyukur klub-klub Liga 1 perlahan kian memberikan perhatian. Beberapa bulan lalu Persija Jakarta ikut mendirikan tim e-sport. ”Persita Tangerang juga lanjut sampai sekarang,” katanya.

Ketika kompetisi masih belum jelas juntrungannya, kenapa tidak memindahkan animo dari lapangan hijau ke layar LED dan gawai? Bendera klub tetap terkerek dan siapa tahu cuan menyusul kemudian.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c9/ttg


Close Ads