M. Basri, pelatih legendaris yang pernah antarkan Persebaya Surabaya raih gelar juara Perserikatan. (Youtube Omah Balbalan)
JawaPos.com — Jejak sejarah M. Basri dalam sepak bola Indonesia tak bisa dilupakan jelang laga PSM Makassar menjamu Persebaya Surabaya di pekan ke-4 Super League 2025/2026 pada Minggu (31 Agustus 2025). Legenda PSM Makassar itu sukses mencatatkan prestasi gemilang bersama Persebaya Surabaya saat meraih gelar juara Perserikatan 1976-1978.
Final bersejarah itu digelar di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta pada 28 Januari 1978.
Persebaya Surabaya menumbangkan Persija Jakarta dengan skor 4-3, dan nama Basri tercatat sebagai pelatih kepala yang membawa Green Force meraih trofi bergengsi.
Keberhasilan ini semakin menegaskan kapasitas Basri sebagai sosok penting dalam perjalanan panjang sepak bola nasional. Sebab, ia bukan hanya pemain hebat di era 60-an, tetapi juga pelatih jenius yang menorehkan tinta emas.
Basri lahir di Makassar pada 5 Oktober 1942 dan memulai karier sepak bola dari klub amatir. Namanya mulai dikenal setelah membela MOS yang berkompetisi di liga internal PSM Makassar pada 1961.
Bakat besar Basri membuatnya cepat dipromosikan ke tim utama PSM Makassar. Di sana, ia bermain bersama legenda seperti Andi Ramang, Suwardi Arlan, Nursalam, dan Latandang.
Pada 1962, Basri mendapat kesempatan besar memperkuat Timnas Indonesia. Ia dipanggil oleh pelatih Tony Poganick setelah tampil gemilang melawan klub Uni Soviet, Patakhor, di Stadion Mattoanging.
“Setelah pertandingan, Poganick meminta saya ikut ke Jakarta untuk bergabung dengan Timnas Indonesia menghadapi Patakhor tiga hari kemudian," ujar Basri dikutip dari kanal YouTube Pinggir Lapangan, Kamis (28/8/2025).
Sejak saat itu, Basri menjadi langganan timnas selama lebih dari satu dekade. Ia tampil di berbagai ajang internasional seperti Asian Games, Piala Asia, Pra-Olimpiade, hingga Pra-Piala Dunia.
Bersama skuad Garuda, Basri mempersembahkan beberapa gelar internasional. Indonesia berhasil meraih juara di Anniversary Cup Jakarta, Kings Cup Bangkok, dan Pesta Sukan Singapura.
Prestasi di level klub juga tak kalah mentereng. Basri membawa PSM Makassar meraih dua kali juara Kompetisi Perserikatan pada musim 1964/1965 dan 1965/1966.
Namun, pada 1973 Basri memutuskan pensiun dari timnas. Dua tahun berselang, ia juga gantung sepatu lalu melanjutkan petualangannya di Surabaya.
"Pada 1973, saya memutuskan pensiun dari Timnas Indonesia. Ketika itu usia saya masih 30 tahun," tutur Basri.
Tidak berhenti di situ, Basri kemudian memulai kiprahnya sebagai pelatih. Awalnya ia menangani klub internal Surabaya seperti Suryanaga, Indonesia Muda, dan Mitra Surabaya.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Nathalie Holscher-Aripat Menikah, Sule Titip Pesan untuk Adzam, Balasan Nathalie Jadi Sorotan
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Analis Ungkap Strategi Iran Pilih Sasar Negara Teluk Tanpa Serang Kapal Induk AS
