Alimudin saat bertugas menangani Persebaya Surabaya. (Media Persebaya)
JawaPos.com - Kedatangan Eduardo Perez Moran ke Persebaya Surabaya membawa berkah bagi Muhammad Alimudin. Setelah dilepas Green Force, dia justru dipinang untuk menjadi pelatih fisik Indonesia U-23.
Ketika Eduardo Perez Moran dikabarkan bakal menukangi Persebaya Surabaya, Muhammad Alimudin sudah gelisah. Dia tahu kalau posisinya sebagai pelatih fisik bakal terancam.
Dia meyakini Eduardo akan bakal membawa asisten pilihannya. Dan, yang dia khawatirkan itu benar-benar kejadian. Eduardo membawa Shin Sang-gyu dan Felipe Americo. Kontrak Ali -sapaan Alimudin- yang habis pada akhir Mei kemudian tidak diperpanjang oleh manajemen Green Force.
Dia lalu pamitan melalui akun instagram-nya pada 3 Juni lalu. Tapi dasar rezeki, baru saja pamitan, tawaran melatih berdatangan. "Ada beberapa tawaran yang datang. Tapi yang saya terima hanya tawaran dari Indonesia U-23. Bukan menolak (tawaran lain), tapi karena timnas selalu jadi prioritas utama saya," kata Ali saat dihubungi Jawa Pos.
Tawaran itu diterima dua pekan setelah dia dilepas Persebaya. Karena itu, dia tidak pernah menyesali kepergiannya dari staf kepelatihan Green Force. Sebab, dari situlah dia malah bisa mewujudkan salah satu impian besarnya. "Jujur, salah satu cita-cita saya adalah bisa melatih pemain tim nasional. Dan ini adalah kesempatan besar bagi saya," ungkapnya.
Sudah begitu, Ali juga punya keuntungan lain. Yaitu bisa lebih dekat dengan keluarga. Selama ini, keluarganya memang menetap di Jakarta. Kini, dia bisa lebih sering bertemu dengan istri dan kedua buah hatinya. "Tentu saya bersyukur bisa lebih dekat dengan keluarga. Tapi kalau boleh jujur, Surabaya itu sudah saya anggap sebagai rumah kedua saya," terang pria 37 tahun itu.
Ali sudah empat tahun menjadi pelatih fisik Persebaya. Selama itu, dia tinggal di mes bersama para pemain. Termasuk staf ofisial Green Force. Sebut saja kitman dan divisi operasional klub. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Bagi Ali, momen itulah yang membuatnya tidak bisa melupakan Surabaya.
Baca Juga: Bongkar Kurikulum Wani Football Persebaya Future Lab! Rahasia Pabrik Pemain Bintang Green Force
"Jelas yang saya rindukan adalah saat kumpul dengan teman-teman ofisial klub. Ada masa Danang (operasional), ada Cak Bodong (kitman), hingga Fawwas (tim media) dan banyak lagi yang lainnya," beber pria yang kini mengantongi lisensi Pelatih A AFC itu. Beberapa kegiatan memang sering dilakukan bersama. Mulai dari nongkrong hingga nonton bioskop.
Kini, sudah dua pekan Ali menukangi Indonesia U-23. Lalu, apakah pekerjaannya bersama timnas jauh lebih berat ketimbang di klub?
"Kalau melatih, pada prinsipnya sama. Yakni untuk membantu pelatih kepala. Saya sebagai pelatih fisik, yang menjadi pembeda hanya metode latihannya. Karena setiap pelatih, beda metode latihan fisiknya," tutup pelatih kelahiran 3 Agustus 1987 itu.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Profil Penang FC: Ujian Persebaya Jelang Super League, Ada Misi Khusus Bernardo Tavares
Profil Lengkap Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI
Finis P9 Moto3 Inggris 2026, Veda Ega Pratama Bongkar Kesalahan di Silverstone
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
