
Dedi Kusnandar saat menjuarai Liga 1 2023/2024. (Instagram Dedi Kusnandar)
JawaPos.com-Tak banyak pemain yang bisa bertahan dan tetap relevan dalam waktu panjang di level tertinggi sepak bola Indonesia. Namun Dedi Kusnandar adalah pengecualian.
Pemain yang akrab disapa Dado ini bukan sekadar gelandang bertahan biasa. Dia adalah penyeimbang permainan Persib Bandung dan aktor penting di balik sukses tim dalam meraih back to back champions.
Nomor punggung 11 yang dikenakannya bukan sekadar angka, tapi simbol konsistensi dan dedikasi. Peran vitalnya dalam transisi bertahan ke menyerang membuatnya nyaris tak tergantikan di lini tengah Pangeran Biru.
Namun di balik pencapaian gemilangnya, jalan karir Dado jauh dari kata mulus. Dalam program Behind the Story di Persib TV, Dado membuka lembaran perjalanan karirnya yang penuh dengan pilihan sulit, konflik keluarga, dan keputusan yang membentuknya hingga menjadi tulang punggung tim kesayangan Bobotoh.
Sejak kecil, Dado telah mencicipi manisnya gelar bersama Persib. Dia menjadi bagian dari skuad muda yang menjuarai Piala Haornas 2005 dan Piala Soeratin 2006. Tapi mimpi besar itu sempat harus dibelokkan.
Pada 2008, Dado memutuskan meninggalkan Diklat Persib demi peluang di Pelita Jaya U-21. Keputusan tersebut membuat hubungannya dengan sang ayah memanas, karena sang ayah berharap putranya membela Persib U-21.
Namun langkah berani Dado membuahkan hasil. Dia menjuarai Liga Super Indonesia U-21 2008/2009 dan promosi ke tim senior Pelita Jaya, berkesempatan bermain dengan para bintang seperti Firman Utina dan Supardi Nasir.
Menariknya, Dado sempat tiga kali menolak tawaran bergabung dengan Persib. Tawaran pertama datang saat masih bersama Pelita Jaya, tapi belum merasa cukup matang secara mental.
Tawaran kedua datang saat dia membela Arema Indonesia (2012–2013), sebuah musim yang juga membawanya ke panggilan Timnas Indonesia. Namun, dia memilih melanjutkan petualangan ke Persebaya United untuk memperkaya pengalaman.
"Saya belum siap mental untuk membela Persib. Bukan cuma soal teknik, tapi main di Persib itu soal mental. Tekanannya beda," tutur Dado.
Baru pada tawaran ketiga, Dado mantap menerima pinangan Persib. Dia tahu risikonya besar banyak pemain bintang yang mengisi lini tengah, Dia siap membuktikan diri.
Debutnya berlangsung sempurna melawan Felda United.Ttampil penuh dan menyumbang assist di hadapan ribuan Bobotoh yang dulu hanya bisa dia saksikan dari tribun.
Sayangnya, kompetisi resmi saat itu tidak berjalan. Piala Presiden hadir sebagai pengganti. Dado turut membawa Persib menjadi juara.
Pada 2016, dia sempat kembali hengkang ke Malaysia memperkuat Sabah FA. Penampilan apiknya di Liga Super Malaysia membuatnya ditawari kontrak perpanjangan. Tapi Dado memilih pulang.
"Saya kembali karena janji. Saya sudah berjanji akan membela Persib kembali. Jadi saya pulang ke Bandung," kata Dado.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
