
Persebaya Future Lab dan Forward Football. (Media Persebaya)
JawaPos.com–Bertahan kurang greget atau serangan tidak tumpul, adalah frasa yang sering muncul pasca pertandingan. Sayangnya, frasa-frasa ini tidak menjelaskan apa pun secara konkret, bahkan di kalangan pelatih profesional sekalipun.
Sepak bola yang dibahas hanya lewat istilah kabur membuat evaluasi sulit dilakukan. Tanpa bahasa universal yang objektif, arah peningkatan tim pun jadi tak menentu. Bayangkan pelatih membuat program latihan peningkatan greget atau ketajaman serangan. Tentu ini mustahil, karena tak ada ukuran pasti untuk istilah semu tersebut.
Albert Einstein pernah berkata, Jika Anda tak bisa menjelaskan sesuatu secara sederhana, maka Anda belum benar-benar memahaminya. Ungkapan itu sangat relevan dengan kondisi analisis sepak bola modern saat ini.
Belanda menjadi contoh negara yang unggul dalam urusan ini lewat tokoh seperti Jan Tamboer. Dia memperkenalkan Football Theory yang mengedepankan analisis berbasis aksi dan bahasa sepak bola universal. Pendekatan ini membuat sepak bola berkembang ke arah yang lebih konstruktif dan ilmiah. Evaluasi jadi berbasis aksi nyata, bukan asumsi atau opini personal.
Filosofi ini kini mulai diterapkan di Indonesia lewat Persebaya Surabaya yang terus bergerak mengikuti perkembangan zaman. Melalui Persebaya Future Lab yang dikepalai Ganesha Putera, klub ini menggandeng Forward Football untuk mengeksplorasi teknologi mutakhir dalam sepak bola.
Salah satu teknologi yang digunakan adalah Football Motion Tracking System yang dapat merekam dan menganalisis data pertandingan secara detail. Sistem ini terbagi menjadi dua model utama, yakni GPS dan LPM (Local Positioning System).
GPS yang digunakan oleh tim utama Persebaya Surabaya mampu mencatat data fisik pemain seperti jarak tempuh dan intensitas lari. Sementara LPM menyajikan data lebih akurat karena sinyal dikirim ke terminal di lapangan dengan frekuensi tinggi.
LPM mampu menangkap posisi seluruh pemain sepanjang pertandingan dalam koordinat yang presisi. Bila dikombinasikan dengan video, data ini jadi alat analisis taktik yang sangat bermanfaat.
Namun, kelemahan utama dari sistem ini adalah hanya menyajikan data fisik mentah. Ketika seorang pemain berlari sejauh 13 kilometer, tidak ada konteks apakah itu untuk menyerang, bertahan, atau hanya lari tanpa kontribusi. Data mentah ini ibarat dokter bedah yang hanya punya sepotong informasi sebelum operasi. Tentu bukan pendekatan yang ideal untuk mencapai performa maksimal.
Forward Football kemudian mengambil langkah lebih maju dengan menambahkan unit pelacak pada bola. Sekarang, bukan hanya 22 pemain yang terlacak, tapi juga satu bola yang menjadi pusat permainan. Inovasi ini membuka era baru analisis sepak bola modern berbasis struktur dan intensi aksi. Misalnya, formasi 1-4-3-3 yang menghadapi 1-4-4-2 bisa dianalisis secara langsung dalam platform mereka.
Ketidakseimbangan posisi seorang winger atau jarak antar lini yang terlalu lebar akan terlihat jelas di data. Pelatih kini bisa mengambil keputusan taktik berbasis fakta, bukan hanya intuisi atau dugaan.
Jan van Loon, pelatih yang berpengalaman di klub-klub besar Eropa, memastikan semua data yang dikumpulkan diterjemahkan ke dalam bahasa sepak bola. Istilah seperti breaking line pass atau third man run kini bisa dilacak dengan akurat lewat platform teknologi tersebut.
Ini bukan sekadar analisis angka, tapi analisis aksi yang kontekstual dan berguna. Monitoring sepak bola akhirnya benar-benar jadi milik sepak bola. Belanda memang terkenal sebagai negara yang kuat dalam filsafat dan berpikir kritis. Dalam kehidupan sehari-hari maupun sistem pendidikan mereka, kebebasan berpikir dan eksplorasi ide sangat dijunjung tinggi.
Itulah sebabnya mereka bisa menciptakan banyak terobosan dalam sepak bola dunia. Teori bukan sekadar hafalan, tapi lahir dari praktik nyata di lapangan. Begitu pula pendekatan Forward Football dan Brainsfirst yang lahir dari permainan itu sendiri. Mereka mengembangkan teknologi berdasar kebutuhan sepak bola, bukan hanya eksperimen laboratorium.
Dari praktek, lalu teori, dan kembali lagi ke praktek itulah siklus yang ideal. Filosofi inilah yang kini coba diadopsi Persebaya Surabaya. Dengan semangat berpikir terbuka seperti Belanda, sepak bola Indonesia harus mulai berpijak pada praktik di lapangan. Evaluasi harus berdasar aksi, bukan asumsi.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
