Bojan Hodak terpukul ketika Persib Bandung akhirnya menelan kekalahan perdana di tangan Dewa United. (PERSIB.co.id/Sutanto Nurhadi Permana)
JawaPos.com - Baru-baru ini pelatih tim Liga 1 Persib Bandung, Bojan Hodak mengeluhkan hal yang mendasar dari sebuah dunia sepak bola Indonesia. Menurut Bojan Hodak, pemain-peman sepak bola di Indonesia masih harus diajari sampai level dasar di saat sudah mencapai tingkat profesional.
"Ini masalah, tapi kemudian anda tahu, untuk pelatih di Indonesia anda perlu mengerjakan segalanya, teknik, taktik, kebugaran fisik juga masalah. Untuk kebugaran, anda punya banyak cedera di negara-negara Asia Tenggara dibandingkan Eropa dan Amerika Selatan," ungkap Bojan kepada media simamaung.
Selain itu, Bojan Hodak juga mengeluhkan mengenai kondisi fisik pemain yang belum siap untuk berkompetisi. Menurut Bojan, perkembangan fisik pemain seharusnya sudah dilakukan sejak usia dini, sehingga ketika datang ke sebuah klub, pemain tersebut akan menjaga dirinya dan menjadi lebih disiplin dalam menjalani berbagai laga.
Hal ini berkebalikan dengan negara saingan Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia Zona Asia lainnya, yaitu Jepang. Saat ini, Jepang memiliki struktur sepak bola yang tertata dengan rapi sampai ke liga amatir bahkan kompetisi antar SMA dari setiap perfektur. Kompetisi sepak bola di Jepang sendiri memiliki empat tingkatan.
Hal ini berkebalikan dengan negara saingan Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia Zona Asia lainnya, yaitu Jepang. Saat ini, Jepang memiliki struktur sepak bola yang tertata dengan rapi sampai ke liga amatir bahkan kompetisi antar SMA dari setiap perfektur. Kompetisi sepak bola di Jepang sendiri memiliki empat tingkatan.
Di tingkat pertama adalah tingkat profesional, seorang pemain dapat menunjukan bakatnya di liga profesional yang terbagi dalam beberapa liga dalam JLeague. Dimulai dari liga teratas yaitu J1, J2, sampai J3. Selain itu turun lagi ke kompetisi semi profesional, yaitu Japanese Football League.
JFL adalah divisi keempat dari liga sepak bola Jepang. Mereka telah beroperasi sejak tahun 1999 dan saat ini menggunakan sistem kompetisi penuh, yang menghasilkan juara liga di peringkat pertama, setelah sebelumnya menggunakan sistem round-robin. Klub JFL harus memenuhi beberapa persyaratan sebelum dapat naik ke J3.
Ada lagi kompetisi di bawah Japanese Football League, yang dibagi ke dua regional, yaitu Liga Amatir. Di dalam liga amatir akan terbagi menjadi dua regional, regional ini akan membagi dua wilayah, dari utara dan selatan. Biasanya akan diisi dari wilayah Hokkaido, Tohoku, Kanto, Hokushinetsu, Tokai, Kansai, Chuugoku, Shikoku dan Kyushu.
Kemudian di kasta terbawah Liga Sepak Bola Jepang adalah liga yang terbagi di setiap negara bagian atau prefecture. Di liga inilah diadakan kompetisi antar SMA di Jepang yang terbagi dalam 3 divisi, yaitu Prefecture League 1, Prefecture League 2 (Block A,B, dan C), dan Prefecture League 3 (Block A, B, dan C).
Di akhir bulan Desember 2024 (28/12) lalu, kompetisi ke-103 sepak bola antar SMA di Jepang telah diadakan. Kompetisi tersebut berjalan selama 2 minggu lebih untuk menentukan pemenangnya. Tidak tanggung-tanggung federasi Jepang memilih stadion dengan kapasitas besar untuk menyelenggarakan kompetisi antar SMA tersebut.
Seperti contohnya adalah Urawa Kobama Stadium di daerah Saitama, kemudian Nippatsu Mitsuzawa Football Stadium di Kanagawa, Komazawa Athletic Stadium dan National Stadium di Tokyo untuk menyelenggarakan partai pembuka, semi final, dan laga final. Di laga final pada tanggal 13 Januari 2025 kemarin, laga final ditonton ribuan pasang mata.
Tercatat, masyarakat Jepang yang antusias menyaksikan partai Final antara SMA Aomori Yamada dan SMA Ohmi sebanyak 55.019 pasang mata. Hal ini merupakan sebuah tanda yang luar biasa, bagaimana masyarakat Jepang dan federasi sepak bola Jepang yang berhasil menyedot perhatian masyarakat dan memiliki talent pool bagi sepak bola Jepang.
Kompetisi ini diikuti oleh 44 tim yang terbagi dari beberapa daerah di Jepang. Untuk menyelenggarakan kompetisi antar SMA ini, Japanese Football Association menggandeng sponsor besar, seperti Toyota Motor Corporation dan Fujifilm Business Innovation Co., Ltd.
“Indonesia kalau mau timnasnya bagus yah cara tercepat yah emang gini, tiap cabang olahraga harus emang ada lomba antar sekolah yg jelas dan terus berlanjut tiap tahunnya,” cuit akun MEBIUS di media sosial X menanggapi riuhnya penonton yang menyaksikan laga final kompetisi antar SMA di Jepang.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
