Aksi suporter Arema di Gelora 10 Nopember kala itu. (JawaPos)
JawaPos.com — Pada 16 November 1997, sebuah pemandangan tak biasa terjadi di Stadion Tambaksari, Surabaya. Puluhan Aremania, suporter Arema Malang, hadir dan bersorak dengan aman di kandang Persebaya Surabaya.
Momen itu menjadi sejarah karena untuk pertama kalinya suporter lawan hadir di Surabaya dengan identitas jelas tanpa memicu kerusuhan besar. Hal ini semakin spesial karena rivalitas panjang antara Bonek dan Aremania sering kali diwarnai tensi tinggi.
Jawa Pos pada 17 November 1997 menyoroti momen tersebut dalam artikel berjudul "Pemandangan ‘Aneh’ di Tambaksari – Suporter Arema Aman Berjingkrak". Berita itu ditempatkan di pojok kiri bawah halaman khusus olahraga, mencatat bagaimana suasana saat itu jauh lebih damai dari biasanya.
Derbi Jawa Timur itu berakhir dengan skor 0-0, hasil yang sebenarnya kurang memuaskan bagi kedua tim. Namun, sorotan utama bukanlah pertandingan itu sendiri, melainkan sikap arif ribuan Bonek yang memilih menahan diri.
Alih-alih melakukan aksi kekerasan, Bonek hanya melontarkan olok-olok kepada Aremania yang menempati pojok kiri tribun VIP. Panitia pelaksana dari Persebaya Surabaya turut diapresiasi karena menyediakan tempat khusus bagi suporter tamu dan memastikan mereka keluar lebih awal dari stadion.
Pertandingan ini menjadi pembuka Liga Indonesia musim 1997/1998, sebuah musim yang penuh tantangan dan akhirnya berhenti di tengah jalan akibat situasi politik nasional. Meski demikian, momen damai di Tambaksari tetap dikenang sebagai tonggak positif dalam sejarah rivalitas Bonek dan Aremania.
Musim sebelumnya, tepatnya 26 Maret 1996, Persebaya Surabaya membantai Arema dengan skor telak 6-1 di Tambaksari. Namun, dalam laga 1997 ini, striker andalan Persebaya Surabaya, Jacksen F. Tiago, gagal mencetak gol meski mendapatkan empat peluang emas.
“Tuhan tak menghendaki kami menang, ya inilah hasilnya,” kata Jacksen dikutip Jawa Pos edisi 17 November 1997.
Setelah pertandingan di Tambaksari, Persebaya Surabaya mengawali musim dengan kurang baik. Sebagai juara bertahan, mereka hanya meraih hasil imbang 0-0 dalam dua laga awal melawan Arema dan Persiraja Banda Aceh.
Uniknya, kehadiran Aremania di Surabaya ternyata tidak diumumkan secara besar-besaran sebelumnya. Jawa Pos edisi 16 November 1997 hanya membahas kondisi teknis tim dan menyebut Persebaya Surabaya diunggulkan menang tipis meski lini tengah mereka bermasalah.
Keberangkatan Aremania sendiri diatur dengan rapi oleh Komandan Distrik Militer Kota Malang, Letkol Inf Sutrisno, yang juga Ketua Arema saat itu. Mereka berangkat pukul 10 pagi dari Stasiun Kota Baru dengan kawalan ketat petugas keamanan.
Momen tersebut membuktikan bahwa rivalitas sengit dalam sepak bola sebenarnya bisa diredam dengan pengelolaan yang baik. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah situasi damai ini bisa terulang di Malang saat putaran kedua.
Sayangnya, jawaban untuk pertanyaan itu adalah tidak. Ketika Persebaya Surabaya bertandang ke Stadion Gajayana, Malang, pada 12 April 1998, Bonek tidak diperbolehkan hadir.
Ratusan Bonek yang mencoba mendukung tim mereka di Malang dipulangkan dengan sepuluh truk militer ke Markas Kepolisian Daerah Jawa Timur. Situasi keamanan menjadi alasan utama pelarangan tersebut, mengingat tensi tinggi yang masih membayangi.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
