
Soepangat membawa megafon ikut mengatur peserta tret tet tet suporter Persebaya Surabaya dalam Final Perserikatan di Jakarta pada 1987. (Kholili Indro/JawaPos)
JawaPos.com — Kesetiaan adalah kata yang paling tepat menggambarkan sosok Soepangat, MC dan komentator legendaris Persebaya Surabaya. Sosok yang begitu akrab dengan suara gemuruh suporter Bonek ini tak pernah tergoyahkan dalam mendukung tim kebanggaannya, meskipun Persebaya Surabaya sempat dilanda dualisme yang memecah klub menjadi dua entitas berbeda.
Di tengah hiruk-pikuk dunia sepak bola, Soepangat tetap teguh memegang prinsipnya: hanya ada satu Persebaya Surabaya, yaitu yang asli dari Karanggayam, Surabaya.
Persebaya Surabaya adalah napas dalam kehidupan Soepangat. Ketika konflik dualisme melanda klub ini, yang kemudian berimbas pada vakumnya aktivitas di markas legendaris Persebaya Surabaya di Karanggayam, banyak pihak mungkin tergoda untuk berpindah haluan.
Namun, tidak dengan Soepangat. Dia sama sekali tidak menunjukkan keinginan untuk bergabung dengan pihak lain yang saat itu muncul dengan nama Bonek FC, yang pada akhirnya bermetamorfosis menjadi Surabaya United. Kesetiaannya terhadap Persebaya Surabaya yang asli tidak pernah pudar.
Salah satu momen paling mengharukan yang dikenang banyak orang adalah ketika Soepangat kembali menyumbangkan suaranya untuk Persebaya Surabaya dalam pertandingan ekshibisi trofeo. Laga tersebut mempertemukan Persebaya Surabaya dengan Persibo Bojonegoro dan Merah Putih, yang digelar sebelum partai semifinal Piala Kemerdekaan 2015 antara Persiba Bantul dan Persinga Ngawi.
Di situ, Soepangat memulai kembali tugasnya sebagai MC dengan kalimat yang telah melekat di hati Bonek dan publik sepak bola Surabaya, "Mari kita sambut tim kebanggaan kita, Persebayaaa... Surrrabaya…," ujar Soepangat dikutip dari koran Jawa Pos edisi 6 November 2015.
Kalimat sederhana namun penuh makna itu langsung disambut dengan gemuruh tepuk tangan ribuan suporter Bonek yang hadir di Gelora Bung Tomo (GBT) pada 10 September 2015. Suara Soepangat yang khas dan menggelegar seolah membangkitkan kembali semangat yang sempat tertidur.
Atmosfer di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) saat itu terasa seperti kembali ke masa kejayaan Green Force pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, masa di mana Persebaya Surabaya mendominasi kompetisi sepak bola nasional.
Kembalinya suara Soepangat untuk Persebaya Surabaya bukan hanya memantik semangat suporter, tetapi juga menjadi pengingat bahwa Persebaya Surabaya yang asli akan selalu ada dan menjadi kebanggaan Surabaya.
Bagi Soepangat, tidak ada Persebaya Surabaya selain yang bermarkas di Karanggayam. Loyalitasnya kepada Persebaya Surabaya begitu kuat, hingga dia memilih untuk menjauh dari dunia MC sepak bola selama konflik dualisme berlangsung. Baginya, Persebaya Surabaya adalah identitas yang tidak bisa dikompromikan.
Pada saat pertandingan trofeo itu, Soepangat membuka dengan kata-kata yang langsung menyentuh hati para Bonek: "Yok opo kabare arek-arek Bonek? Sore ini kita datang di Gelora Bung Tomo untuk menjadi saksi sejarah kembalinya Persebaya Surabaya."
Kalimat pembuka yang penuh dengan emosi tersebut mencerminkan betapa pentingnya momen tersebut bagi Soepangat dan seluruh pendukung Persebaya Surabaya.
Kapten Persebaya Surabaya saat itu, Mat Halil, menyampaikan kesannya terhadap Soepangat. Bagi Mat Halil, sosok Soepangat adalah bagian integral dari Persebaya Surabaya, bukan hanya sebagai komentator, tetapi juga sebagai sosok yang mampu membakar semangat pemain dengan suaranya yang khas.
"Saya terkenang saat suara beliau memanggil nama-nama pemain yang akan masuk lapangan menjelang laga. Bisa bikin gemetar. Suaranya membakar semangat para pemain," kata Mat Halil, yang saat itu masih mengenakan nomor punggung 2 bersama Persebaya Surabaya.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Tubagus Dadang Kosasih dan Lilik "Grandong" Priyanto, dua Bonek yang hadir dalam pertandingan ekshibisi tersebut. Bagi mereka, kehadiran Soepangat kembali di tengah-tengah Persebaya Surabaya merupakan simbol bahwa loyalitas kepada klub tidak pernah pudar.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
