JawaPos.com-Pesta dan pertarungan, keduanya adalah bagian tak terpisahkan dari dunia sepakbola. Namun, di balik sorak gembira dan perjuangan di lapangan, kadang-kadang ada cerita tragis yang menyertainya. Salah satunya adalah kisah tentang Eri Irianto, seorang legenda Persebaya Surabaya yang mengakhiri hidupnya di lapangan hijau, meninggalkan kesedihan mendalam bagi sepakbola Indonesia.
Bersama dengan rekan-rekannya seperti Jacksen F. Tiago, Widodo C. Putro, Carlos De Mello, dan lainnya, Eri Irianto berhasil membawa Petrokimia Putra finis di posisi pertama klasemen wilayah Timur pada gelaran Liga Indonesia edisi pertama. Mereka mencapai babak 8 besar dengan catatan yang mengesankan, meskipun harus menelan kekalahan pahit dari Persib Bandung di partai puncak.
Kemampuan Eri Irianto terus bersinar, dan ia dipercaya untuk memperkuat Timnas Indonesia, di mana ia menorehkan sejarah dengan penampilan gemilangnya di SEA Games ke-18 di Chiang Mai, Thailand. Dalam salah satu pertandingan, Indonesia menghancurkan Kamboja dengan skor telak 10-0, dengan empat gol dicetak oleh Eri Irianto sendiri.
Prestasi Eri Irianto tidak berhenti di situ. Pada kualifikasi Piala Asia 1996, ia kembali menunjukkan kepiawaiannya dengan membawa Timnas Indonesia mengalahkan India dengan skor 7-1, dan menahan imbang Malaysia 0-0. Kehadirannya di lini tengah membuat pertahanan lawan sulit untuk menembus, sementara kreasi serangan Indonesia seringkali dimulai dari kakinya. Tak hanya itu, dia dikenal memiliki tendangan geledek, yang seringkali menjadi solusi saat tim yang dibelanya mengalami kebuntuan
Namun, pada tahun 1996, Eri Irianto memutuskan untuk mencoba peruntungannya di luar negeri, dan ia bergabung dengan klub Malaysia, Kuala Lumpur FC. Tak lama setelah itu, ia kembali ke tanah air dan membela Persebaya Surabaya. Di sana, ia berjuang keras bersama timnya, mencapai partai final pada musim kompetisi 1998/1999, meskipun harus menyerah di hadapan PSIS Semarang.
Namun, takdir berkata lain pada tanggal 3 April 2000. Saat itu, Eri Irianto terlihat sehat saat bersiap untuk bermain melawan PSIM Jogjakarta di Station Gelora 10 November, Surabaya. Mendadak dalam pertandingan itu, satu menit sebelum jeda, Eri Irianto tiba-tiba terlihat limbung dan mengeluh sakit kepala pada menit ke-44. Ia segera ditarik keluar lapangan dan dibawa ke rumah sakit.
Meskipun awalnya kondisinya terlihat normal, namun Eri Irianto tiba-tiba mengalami sesak napas dan sakit kepala yang semakin parah. Setelah beberapa jam berjuang di rumah sakit, pada tanggal 3 April 2000, Eri Irianto mengembuskan napas terakhirnya.
“Kepalanya sempat kami kompres dan dia merasa lebih baik,” ujar dokter tim Persebaya Surabaya kala itu, dr Herry Siswanto dikutip dari Jawa Pos koran edisi 3 April 2016.
Saat itu Eri Irianto masih kuat berlari menuju ambulans yang akan membawanya ke rumah sakit. Ditemani sang istri yang baru dinikahinya selama dua minggu, Riska Putri Nilamsari, yang juga menonton Persebaya Surabaya bertanding, Eri Irianto kemudian dibawa ke IRD RSUD Dr Soetomo.
Pada sekitar pukul 17.00 WIB, Eri menjalani serangkaian pemeriksaan medis intensif di rumah sakit, termasuk rontgen, CT scan, dan pemeriksaan lainnya, setelah mengalami kondisi yang membuatnya sangat tidak nyaman.
Meskipun hasil pemeriksaan awal menyatakan bahwa kondisi fisiknya normal, Eri tetap merasa sangat sakit dan mengalami gejala tubuh yang tidak sesuai dengan suhu normal tubuhnya.
Kemudian, sekitar pukul 22.00 WIB, tim medis memutuskan untuk memindahkan Eri ke ruang observasi intensif (ROI) untuk memantau kondisi otaknya yang mungkin terpengaruh akibat benturan saat bermain.
Setelah hampir empat jam berada di ruangan tersebut, Eri, yang lahir di Sidoarjo pada tanggal 12 Januari 1974, akhirnya menghembuskan napas terakhir. Selama dirawat di rumah sakit, Eri sempat menyebut nama Rusdy Bahalwan, mantan pelatih Persebaya Surabaya.