Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 20 Juli 2019 | 01.24 WIB

Wawancara Eksklusif dengan Mantan Pemain PSMP Krisna Adi Darma (1)

Krisna Adi Darma, PSMP Mojokerto - Image

Krisna Adi Darma, PSMP Mojokerto

Mendung kesedihan mencekik kehidupan Krisna Adi Darma.

Dia pernah menjadi objek hujatan dan kemarahan nasional karena melakukan tendangan penalti hantu saat timnya, PS Mojokerto Putra, mengalah kepada Aceh United pada laga terakhir babak delapan besar Liga 2 2018.

Komisi Disiplin PSSI menyatakan Krisna bersalah. Dia dituding sengaja tidak memasukkan tendangan penalti pada menit ke-87 di Stadion Cot Gapu, Bireuen, 19 November 2018. PSMP kalah 2-3. Padahal, hasil seri saja, membuat tim tersebut melaju ke semifinal. Krisna mendapatkan hukuman sangat berat; sanksi larangan bermain sepak bola seumur hidupnya.

Pada hari yang sama ketika sanksi itu turun, nasib menjebloskan Krisna semakin dalam ke jurang kenestapaan. Dia mengalami kecelakaan sangat parah di Jalan Wates Km 7, Gamping, Sleman pada 23 Desember 2018.

Sekarang, delapan bulan setelah skandal itu, kondisi fisik Krisna sudah pulih. Tetapi kabut kesedihannya masih pekat. Kepada wartawan Jawa Pos Radar Jogja Ana R. Dewi, Krisna untuk kali pertama mencurahkan segala kegelisahan tak tertahankan yang menggerogoti seluruh sendi kehidupannya.

Tujuh bulan berlalu paska sanksi Komdis PSSI dan kecelakaan itu. Apa saja aktivitasmu sekarang?

Jujur saya lagi cari-cari kegiatan. Yang jelas, saya masih latihan sepak bola. Kadang seminggu tiga kali saya ikut latihan klub amatir Liga 3 namanya HUMY. Hanya Ikut latihan saja. Dulu dari kecil saya sering mengikuti latihan HUMY. Ya, bisa dibilang itu klub masa kecil saya.

Kecelakaan yang kamu alami cukup parah. Bahkan harus dua kali naik meja operasi. Bagaimana bekas operasi di kepalamu?

Alhamdullilah bekas operasi sudah tidak apa-apa. Bahkan saat latihan sudah bisa buat heading. Hanya bagian kepala saja yang parah, bagian tubuh yang hanya luka ringan saja.

Setelah menerima sanksi dari Komdis PSSI, apa kamu masih ingin bermain sepak bola lagi?

Saya pengen sekali, namun takut ada pro kontra dari masyarakat. Yang jelas, tekad bermain sepak bola masih membara. Saya mempunyai keinginan dan semangat yang penuh. Namun seandainya nanti tidak ada keadilan dari sanksi yang kemarin, ya sudah saya legowo. Namun kembali lagi, apapun yang terjadi saya tetap yakin kepada Yang Kuasa. Semoga ada jalan.

Saat sebelum dan sesudah mendapat sanksi Komdis PSSI, apa yang kamu rasakan?

Perbedaan sangat terasa sekali. Dulu bermain dan latihan bersama klub. Kalau sekarang, hanya latihan-latihan untuk mengobati kerinduan saya dengan sepak bola.

Kasus tendangan penalti itu sempat viral. Kamu bahkan mendapat hujatan di media sosial dari seluruh rakyat Indonesia. Apa sebetulnya yang terjadi?

Kami satu tim sebelum pertandingan dibriefing dan semua pemain tahu. Dan itu tidak ada yang ditunjuk (sebagai eksekutor). Jadi, diatur skornya draw asalkan Semen Padang mengalahkan Kalteng Putra dengan margin tak lebih dari satu gol. Lalu diatur kick off-nya lebih dulu (di kandang) Semen Padang? Padahal sama-sama dari Sumatera. Lalu, kenapa duluan Padang?

Jadi mengapa? Seperti apa skenarionya?

Jadi begini. Kick off itu ditunda seolah-olah pemain Aceh United belum mendapat gaji. Itu hanya skenario, supaya kick off-nya lebih lambat agar bisa melihat situasi seperti apa di pertandingan lainnya. Saat itu, Kalteng kalah 3-1 dan gol Semen Padang di menit-95. Saat menit ke-93, skor masih 2-1. Dan posisi PSMP Mojokerto juga kalah 2-3. Nah, selisihnya satu gol. Wasitnya mengira Semen Padang sudah full time 2-1 sehingga (PSMP) diberi penalti. Ternyata injury time di Padang lima menit, dan di menit-95, mereka mencetak gol lagi. Skor menjadi 3-1. Sehingga mendadak (PSMP) diberi penalti. Dan tidak masuk. (Hasil itu membuat Semen Padang dan Kalteng Putra lolos ke semifinal Liga 2. Kedua tim, bersama PSS Sleman akhirnya promosi ke Liga 1 2019).

Mengapa kamu yang menjadi eksekutor penalti?

Pertama Andre Dio yang sekarang bermain di Persiba Balikpapan (yang akan mengambil penalti). Namun tidak jadi. Kemudian Indra (Setiawan) yang menjadi top skor. Tetapi dia ragu. Ya sudah, akhirnya saya yang mengambil, tanpa disuruh siapapun. Saya spontanitas. Niat saya hanya dua, yakni menyelamatkan nama baik Indra seandainya dia yang akan menendang penalti. Dan alasan yang kedua, belum bisa saya sebutkan.

Editor: Ainur Rohman
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore