Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 19 Maret 2017 | 19.23 WIB

Subsidi untuk Klub-klub Liga 1 Masih Terlalu Kecil

Kubu Mitra Kukar salahs atu yang menganggap subsidi untuk klub-klub Liga 1 masih terlalu kecil. - Image

Kubu Mitra Kukar salahs atu yang menganggap subsidi untuk klub-klub Liga 1 masih terlalu kecil.

JawaPos.com - Kontestan Liga 1 Indonesia 2017 yang digulirkan 15 April mendapat subsidi operator sebesar Rp 7,5 miliar. Jumlah tersebut meningkat jauh dibandingkan Indonesia Super League (ISL) 2015 yang berkisar Rp 3,5 miliar. Meski demikian, subsidi tersebut dinilai masih terlampau kecil.


CEO Mitra Kukar Endri Erawan menjelaskan, subsidi dari pihak operator sepenuhnya digunakan untuk biaya operasional tim. Termasuk biaya akomodasi setiap Naga Mekes melakoni partai away, gaji pemain plus bonus setiap memenangi laga kandang maupun tandang. Untuk kontrak pemain, manajemen Kota Raja setidaknya menghabiskan biaya hingga Rp 4–5 miliar.


Artinya, subsidi tidak banyak menutupi kebutuhan tim. Meski demikian, Endri bersyukur. Setidaknya, subsidi membuat tanggungan manajemen lebih ringan. "Tetap harus disyukuri karena operator masih memberi subsidi. Untuk kekurangannya, kami cari sponsor dan mengandalkan tiket laga kandang," jelas pria berkacamata itu.


Untuk itu, Endri berharap, masyarakat Kukar bisa membantu keuangan klub dengan menonton langsung setiap laga kandang Mitra Kukar di Aji Imbut, Tenggarong Seberang. "Semoga di kompetisi resmi, animo masyarakat Kukar ke stadion bertambah. Sebab, dengan begitu mereka telah membantu kelangsungan tim di Liga 1," imbuh Endri.


Mengelola klub untuk satu musim memang bukan perkara gampang, terutama di Indonesia. Angka minimal bisa mencapai Rp 20 miliar untuk menyelaraskan target dan daya tahan tim bertarung di kompetisi nasional.


Dengan kata lain, subsidi Rp 7,5 miliar terbilang kecil bagi tim yang ingin bersaing di papan atas kompetisi. Pengeluaran klub bisa jauh lebih besar bila mendatangkan pemain-pemain top.


Presiden PBFC Nabil Husein Said Amin menuturkan, bantuan Rp 7,5 miliar kurang ideal lantaran musim ini liga sudah diakui. Beda halnya jika hanya sebatas turnamen seperti Indonesia Soccer Championship 2016. "Ya, jika kemampuan operator hanya segitu, klub tidak bisa menuntut banyak. Kompetisi tetap harus jalan," tutur Nabil.


Musim lalu, setiap klub hanya mendapat Rp 5 miliar. Jumlah tersebut memang cukup kecil, namun bisa dimaklumi lantaran sekadar turnamen dengan format kompetisi. Walhasil, kualitasnya memang di bawah standar liga yang diakui federasi sepak bola nasional atau internasional.


‎"Musim ini sudah ada sistem promosi dan degradasi. Selain itu, ada jaminan tampil di AFC Cup. Jadi, setiap klub pasti jor-joran untuk pengeluaran semusim," imbuhnya.


Subsidi Rp 7,5 miliar, disebutkan Nabil, hanya meringankan sedikit biaya operasional klub. Memainkan 34 pertandingan, dana operasional jauh lebih besar. "Ya, sebenarnya dibagi untuk gaji pemain juga," tambahnya.


Terkait nominal anggaran PBFC musim ini, Nabil enggan membeber. Namun, dari targetnya yang ingin memperebutkan tiket AFC Cup, pengeluaran tim diperkirakan lebih Rp 20 miliar.


Meski tak sesuai ekspektasi, subsidi Rp 7,5 miliar yang dijanjikan PT Liga Indonesia Baru (LIB) disambut hangat manajemen Persiba Balikpapan. Nominal tersebut tetap sangat membantu operasional tim ketika mengarungi kompetisi tertinggi Tanah Air. “Sebenarnya semua tim meminta Rp 10 miliar. Tapi, operator hanya menyanggupi segitu. Jadi, mau tak mau harus menerima,” kata Manajer Persiba Bambang Suhendro.


Kendati demikian, ada peluang jumlah tersebut bertambah. Sesuai hasil rapat di Jakarta, PT LIB mengutus beberapa orang untuk mencari sponsor baru. “Kalau dapat, bisa jadi jumlahnya bertambah. Tapi, untuk saat ini, yang pasti hanya Rp 7 miliar,” sambungnya.


Menurutnya, subsidi operator tidak sampai separuh kebutuhan tim. Salah satu contohnya ketika Persiba ambil bagian dalam gelaran TSC 2016. Saat itu, pengeluaran tim mencapai Rp 12 miliar, meliputi konsumsi, sewa mes, gaji pemain dan ofisial, serta biaya saat menjalani laga away. “Dana itu jauh dari kebutuhan tim, tapi tetap disyukuri,” tutur Bambang.


Untuk teknis penyaluran, akan dibahas dalam manager meeting yang rencananya digelar akhir Maret. “Biasanya dibagi berkala, tidak sekaligus sesuai aturan,” sambung Bambang. (don/abi/ndu/bby/k11/ira/JPG)

Editor: Irawan Dwi Ismunanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore