Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Februari 2017 | 19.44 WIB

Sebuah Tanya untuk Suporter Gresik

ARSIP: Pemberitaan Jawa Pos tanggal 3 Desember 2005 tentang kelahiran Gresik United. - Image

ARSIP: Pemberitaan Jawa Pos tanggal 3 Desember 2005 tentang kelahiran Gresik United.


JUMAT, 2 Desember 2005. Sejak saat itu tak ada lagi Persegres Gresik. Juga Petrokimia Putra Gresik. Tidak ada lagi Laskar Joko Umbaran. Begitupula Kebo Giras. Dua julukan yang lekat pada kedua kesebelasan asal Kota Pudak tersebut.



Persegres dan Petrokimia sepakat melebur. Bersalin rupa menjadi Gresik United. Sekali lagi Gresik United. Fusi yang sebenarnya cukup disayangkan. Sebab, keduanya memiliki sejarah yang tak pendek. Bukan saja di kota kelahirannya, tapi juga di sepak bola nasional.



Petrokimia bahkan punya prestasi yang mentereng. Kesebelasan yang dibangun pabrik pupuk tersebut pernah menahbiskan diri sebagai juara Liga Indonesia musim 2002. Di awal bergulirnya Liga Indonesia musim 1994/1995 mereka mengakhiri kompetisi di posisi kedua. Di bawah Persib Bandung.



Gelar juara memang terbang ke Bandung, tapi Petrokimia-lah yang memenangkan hati masyarakat. Publik sepak bola nasional pun menyematkan gelar juara tanpa mahkota kepada mereka.



Tak hanya berprestasi, Petrokimia juga memiliki fasilitas yang mumpuni. Bahkan bisa dibilang yang paling komplit untuk ukuran kesebelasan sepak bola Indonesia. Petrokimia mempunyai stadion sendiri. Kapasitasnya pun tak sedikit. Bisa menampung tak kurang dari 30.000 penonton.



Petrokimia juga memiliki lapangan latihan. Tidak hanya satu malah. Tapi, dua lapangan. Satu berada di sisi timur stadion. Satunya lagi terdapat di tengah komplek perumahan Petrokimia. Mereka juga memiliki fasilitas gym, kolam renang, serta mes pemain yang representatif.



Bagaimana dengan Persegres? Mereka memang tak memiliki fasilitas seperti Petrokimia. Namun, Persegres mempunyai apa yang tidak dimiliki Petrokimia. Persegres memiliki kompetisi internal. Menggelar kompetisi atau turnamen yang rutin setiap tahunnya. Bukan hanya pertandingan untuk pemain senior, tapi juga untuk anak-anak.



Sebelum sekolah sepak bola (SSB) menjamur seperti saat ini, Persegres sudah menaungi cukup banyak SBB. Dan dari sanalah -kompetisi dan SSB- bakat-bakat sepak bola Gresik lahir dan terasah. Tak terhitung jari pemain-pemain yang dilahirkan Persegres.



Mungkin saya salah, tapi satu diantaranya yang dikenal generasi saat ini adalah Agus Indra Kurniawan. Jepang -begitu Agus Indra Kurniawan akrab disapa- memang muncul bersama Petrokimia. Namun, sejatinya dia lahir dari rahim Persegres.



Tapi, keputusan sudah diambil. Persegres dan Petrokimia sepakat melebur dengan identitas baru Gresik United. Meski cukup disayangkan, tapi peleburan itu adalah jalan terbaik. Merger itulah jalan satu-satunya agar sepak bola Gresik tidak benar-benar mati. Sebab, saat itu sepak bola di daerah yang ditempati makan dua wali -Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim- tersebut berada di titik nadir.



Petrokimia ketika itu sudah menegaskan bakal menarik diri dari kompetisi Liga Indonesia musim 2006. Istilah mereka, memilih cuti begitu menyelesaikan kompetisi Divisi I musim 2005. Tanpa Petrokimia, Gresik tentu akan sepi dari riuh rendah stadion. Apalagi, Persegres juga hanya bermain di kasta yang lebih bawah yang tentu tak terlalu menarik minta banyak orang datang ke stadion.



Unjuk rasa pun bergema di seantero Gresik kala itu. Masyarakat ramai-ramai berharap pemerintah kabupaten mau cawe-cawe. Mau menyelamatkan eksistensi Petrokimia. Tak hanya sekali-dua kali Ultrasmania -suporter Petrokimia- turun ke jalan agar ada penyelamatan tim kesayangannya.



Desakan itu direspon pemerintah kabupaten Gresik. Juga DPRD Gresik. Setelah melalui beberapa kali diskusi, manajemen Petrokimia sepakat melebur dengan Persegres. Jumat, 2 Desember 2005, nama baru Gresik United diumumkan di Pendopo Kabupaten Gresik.



Tokoh-tokoh sepak bola Gresik hadir di sana. Dua diantaranya yang masih saya ingat -saya hadir di sana saat itu- adalah Sastro Soewito yang merupakan Ketua Pengcab PSSI Gresik dan manajer yang membawa Petrokimia juara Liga Indonesia 2002 Imam Supardi.



”Gresik kan juga merupakan salah satu barometer sepak bola Indonesia, masak kami membiarkan begitu saja kevakuman itu terjadi,” kata Sastro Soewito kala itu. ”Kami ingin sepak bola Gresik tetap eksis di kancah persepak bolaan nasional,” imbuhnya.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore