
Pelatih Persib Bandung, Bojan Hodak, sudah memiliki cara tersendiri untuk mengantisipasi kepadatan jadwal yang dialami timnya. (Dok. Persib)
JawaPos.com-Dalam ruang ganti Persib Bandung musim ini, perbedaan usia, bahasa, dan budaya, tidak menjadi kendala berarti. Justru di tangan Bojan Hodak, keanekaragaman itu menjelma menjadi kekuatan kolektif yang menjaga harmoni dan semangat tim tetap utuh.
Musim 2025 menjadi tantangan tersendiri bagi pelatih asal Kroasia tersebut. Di skuad Persib, terdapat 31 pemain dengan rentang usia 17 hingga 38 tahun, serta beragam latar belakang negara, mulai dari Brasil, Argentina, Prancis, Italia, Inggris, hingga Irak.
Di dalamnya juga terdapat pemain naturalisasi dan deretan bintang lokal berpengalaman.
“Perlu pendekatan individual dan tim agar ruang ganti tetap harmonis,” ujar Hodak menegaskan pentingnya manajemen manusia dalam tim modern.
Dia memahami betul bahwa komunikasi dengan pemain muda berusia 17 tahun tentu berbeda dengan pemain senior seperti Achmad Jufriyanto yang sudah berusia 38 tahun.
Hodak menyadari, membangun tim bukan sekadar merancang taktik di lapangan. Lebih dari itu, ia menempatkan psikologi dan kepercayaan antarindividu sebagai fondasi keberhasilan.
“Kadang mereka butuh dorongan, kadang pelukan, kadang rasa percaya diri,” kata Bojan Hodak.
Inspirasi pendekatan humanis itu tak datang begitu saja. Mantan pelatih Sabah FA itu mengaku banyak belajar dari mendiang Ken Shellito, mantan pelatih Chelsea yang sempat bekerja bersamanya di AFC. Dari sosok tersebut, Hodak mendapatkan pelajaran berharga tentang memperlakukan pemain seperti keluarga sendiri.
“Vicente del Bosque (mantan pelatih Spanyol) juga bilang, ruang ganti sehat lebih penting daripada taktik,” ujar Hodak menirukan pesan pelatih legendaris itu.
“Bagi saya, menjaga grup tetap bersatu, seimbang, dan saling menghormati adalah kunci kontrol ruang ganti,” ujar dia.
Kata-kata itu bukan sekadar teori. Di bawah Hodak, Persib terlihat solid di tengah jadwal padat dan tekanan publik Bandung yang tinggi.
Para pemain muda seperti Muhammad Rhaka Bilhuda dan Nazriel Alfaro Syahdan, yang baru berusia 17 tahun, mendapat kesempatan berkembang tanpa kehilangan rasa percaya diri. Di sisi lain, pemain senior seperti Marc Klok dan Luciano Guaycochea tetap menjaga peran sebagai pemimpin lapangan.
Perpaduan lintas generasi dan lintas budaya itu menciptakan keseimbangan yang unik. Hodak berhasil membangun suasana saling menghargai di ruang ganti, sesuatu yang kerap menjadi tantangan di klub-klub besar dengan banyak pemain asing.
Kepemimpinan Hodak menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah tim tidak selalu diukur dari papan skor, tetapi juga dari kemampuan menjaga keseimbangan antara ego, ambisi, dan kebersamaan.
Di balik performa stabil Persib musim ini, ada kerja senyap seorang pelatih yang tahu kapan harus menjadi taktis, kapan harus menjadi ayah, dan kapan harus sekadar menjadi pendengar.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
