
Rizky Ridho. Persebaya dikabarkan tengah berusaha untuk memulangkan Rizky Ridho. Kabar tersebut sudah beredar luas media sosial.
JawaPos.com - Pada 1991 di Manila, Filipina, Ferryl Raymond Hattu yang dibina di HBS memimpin rekan-rekannya merebut emas SEA Games.
Tiga puluh dua tahun berselang, produk El Faza, Rizky Ridho, gantian melakukannya di Phnom Penh, Kamboja.
HBS dan El Faza adalah bagian dari klub internal Persebaya Surabaya. Kompetisi internal tersebut dulu biasa dihelat di Lapangan Karanggayam, Surabaya.
Sistem pembinaan tak ubahnya mesin yang tak henti memproduksi pemain berkualitas. Di starting line-up final melawan Thailand tadi malam saja, ada tiga nama didikan Karanggayam: Rizky Ridho, Marselino Ferdinan, dan M. Haykal Alhafiz.
Mat Halil, pengasuh El Faza sekaligus legenda Persebaya, menuturkan tidak kaget dengan apa yang dicapai Ridho. Bakat pemain asli Surabaya itu sudah terlihat sejak dini.
”Sebagai pemain belakang, posturnya sangat menunjang. Dia punya ketenangan dan reading the game-nya bagus,” jelasnya kepada Jawa Pos kemarin (16/5).
KENANGAN MANIS DI MANILA: Para penggawa timnas SEA Games 1991 yang kala itu merebut emas.
Itu masih ditunjang bakat alam. Pemain yang saat ini berkostum Persija Jakarta itu juga punya kemauan yang keras. ”Dia ingin jadi pemain besar dan masuk tim nasional (timnas) sejak dulu,” ucapnya.
Pria yang identik dengan nomor punggung 2 ketika membela Persebaya itu menuturkan, Ridho juga tidak pernah lupa asalnya. Dia masih sering berkomunikasi dengan Mat Halil meski sudah menjadi pemain besar sekarang. ”Ngobrol biasa soal kabar. Dia sudah jarang latihan di El Faza meski libur kompetisi karena jadwalnya cukup padat di liga dan timnas,” katanya.
Direktur Amatir Persebaya Saleh Hanifa menyatakan, sudah dari generasi ke generasi klub-klub internal Persebaya selalu menghasilkan bintang-bintang bagi Merah Putih. ”Karena mereka mendapat jam terbang dan kesempatan bermain di internal. Persaingan juga ketat. Jadi, ketika keluar, mereka sudah punya pengalaman meski usianya muda,” ujarnya.
Selain kompetisi internal Persebaya yang sudah melahirkan banyak bintang untuk timnas, Akademi Borneo FC juga patut berbangga. Dari kawah candradimuka mereka, lahir Taufany Muslihuddin, penentu kemenangan atas Vietnam di semifinal. Di skuad sekarang juga ada dua pemain Borneo FC lain yang turut melejit: Fajar Fathurrahman dan Komang Teguh.
Direktur Akademi Borneo FC Firman Utina menuturkan, pihaknya menemukan Taufany ketika Akademi Elite Pro Borneo FC mulai berjalan. Pemain berusia 21 tahun itu pun dipromosikan ke senior.
Firman sangat percaya diri ke depan banyak lahir Taufany-Taufany lainnya di Akademi Borneo FC. ”Karena ini dampak dari kerja sama yang baik antara Asprov PSSI Kalimantan Timur dan Borneo FC,” ungkapnya. (rid/c19/ttg)

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
