Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 25 Juli 2025 | 06.39 WIB

Tegas! Persebaya Surabaya Tolak Rasisme, Minta Maaf dan Siap Bersih-bersih Jelang Super League 2025/2026

Suporter Persebaya, Bonek saat laga uji coba melawan PSS Sleman sekaligus launching tim kompetisi Super League musim 2025/2026 di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) Sabtu (19/6). (Riana Setiawan/ Jawa Pos) - Image

Suporter Persebaya, Bonek saat laga uji coba melawan PSS Sleman sekaligus launching tim kompetisi Super League musim 2025/2026 di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) Sabtu (19/6). (Riana Setiawan/ Jawa Pos)

JawaPos.com — Persebaya Surabaya menyampaikan pesan tegas jelang bergulirnya Super League 2025/2026. Klub kebanggaan Bonek ini menyatakan sikap nol toleransi terhadap segala bentuk tindakan rasisme.

Pernyataan itu dikeluarkan menyusul insiden tak pantas yang terjadi saat Team Launching Game melawan PSS Sleman pada 19 Juli lalu. Dalam momen tersebut, terdengar nyanyian bernada rasis dari sejumlah oknum suporter.

Manajemen Persebaya Surabaya langsung merespons kejadian itu dengan permintaan maaf secara terbuka.

Mereka menegaskan hal tersebut tidak mencerminkan semangat dan nilai yang dijunjung oleh Persebaya Surabaya selama ini.

"Persebaya meminta maaf secara luas kepada kelompok, kota, atau etnis lain yang menjadi korban nyanyian rasis dan kebencian," tulis klub dalam pernyataan resminya.

Mereka juga berkomitmen untuk melawan tindakan buruk serupa di musim ini dan seterusnya.

Surabaya sebagai rumah besar bagi masyarakat yang heterogen menjadi dasar dari sikap tegas ini. Kota Pahlawan sudah lama dikenal sebagai tempat bersatunya berbagai suku dan etnis dalam harmoni yang kuat.

Warga Jawa, Madura, Melayu, Sunda, Bugis, Ambon, Papua, Arab, hingga Tionghoa hidup berdampingan dan tumbuh bersama di Surabaya. Inilah nilai-nilai keberagaman yang seharusnya menjadi identitas Arek-Arek Suroboyo.

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan pun, Surabaya tidak berjuang sendiri.

Bung Tomo bersama pejuang dari berbagai latar belakang seperti Madura, Ambon, Papua, Arab, hingga Tionghoa, turut mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Fakta historis itu menunjukkan Surabaya adalah simbol keberanian sekaligus kebersamaan. Maka dari itu, tidak pantas jika ada perilaku diskriminatif atau superioritas etnis di tengah atmosfer sepak bola.

Persebaya Surabaya menegaskan sepak bola seharusnya jadi ruang inklusif bagi siapa pun. Tidak boleh ada tempat bagi nyanyian bernada provokatif yang merendahkan atau mengajak membenci kelompok lain.

Rasisme bukanlah bagian dari kreativitas tribun. Justru hal itu mencoreng semangat persaudaraan yang seharusnya diusung oleh suporter sejati.

Sebagai klub yang lahir dari perjuangan rakyat dan didukung masyarakat luas, Persebaya Surabaya merasa perlu memberikan teladan. Termasuk dalam menciptakan atmosfer stadion yang aman, damai, dan bebas diskriminasi.

Komitmen Persebaya Surabaya untuk memberantas rasisme ditegaskan menjelang musim baru Super League 2025/2026. Klub akan memastikan tidak ada lagi ruang untuk tindakan intoleran, baik di lapangan maupun di tribun.

Editor: Hendra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore