Patung singa di Stadion Kanjuruhan. (Rafika Yahya/JawaPos.com)
JawaPos.com — Tragedi Kanjuruhan menjadi catatan kelam dalam sejarah sepak bola Indonesia dan dunia. Sebanyak 135 nyawa melayang dalam laga Arema FC kontra Persebaya Surabaya pada Sabtu, 1 Oktober 2022 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang.
Pertandingan Liga 1 Indonesia itu berakhir dengan skor 3-2 untuk kemenangan tim tamu, Persebaya Surabaya. Seusai laga, kerusuhan pecah saat ratusan suporter turun ke lapangan dan memicu kepanikan massal.
Gas air mata ditembakkan aparat sebagai respons atas penonton yang mulai memadati area lapangan. Tindakan tersebut justru membuat ribuan penonton panik dan berdesakan menuju pintu keluar.
Sebagian besar korban terhimpit di pintu 10, 11, 12, dan 13 Tribun Selatan Stadion Kanjuruhan. Banyak yang tewas akibat asfiksia, patah tulang, hingga cedera berat di bagian kepala.
Tragedi ini mengakibatkan 135 orang meninggal, 96 luka berat, dan 484 luka ringan.
Insiden ini menjadi peristiwa kedua paling mematikan dalam sejarah sepak bola dunia setelah Tragedi Estadio Nacional di Peru.
Kejadian tragis ini tak hanya mengguncang Indonesia, namun juga mendapat sorotan internasional. Dunia sepak bola dikejutkan oleh tragedi yang semestinya bisa dicegah sejak awal.
Kronologi dimulai pada 12 September 2022, ketika Panitia Pelaksana Arema FC meminta rekomendasi pertandingan kepada Polres Malang. Polres meminta laga digelar lebih awal pada pukul 15.30 WIB dengan alasan keamanan.
Namun, permintaan itu ditolak oleh PT Liga Indonesia Baru (LIB) karena alasan siaran langsung dan potensi kerugian ekonomi.
Akhirnya, pertandingan tetap digelar sesuai rencana pada pukul 20.00 WIB dan hanya dihadiri oleh suporter Arema FC.
Polres Malang menyiagakan 2.034 personel dan melarang kehadiran suporter tim tamu. Usai laga, kondisi di stadion tak terkendali saat suporter masuk lapangan untuk mengekspresikan kekecewaan.
Empat unit barakuda dikerahkan untuk mengamankan pemain dan ofisial Persebaya Surabaya. Namun, langkah represif dilakukan dengan penembakan gas air mata ke tribun selatan dan utara serta lapangan.
Sebanyak 11 personel menembakkan gas air mata ke arah tribun yang penuh sesak. Tujuh tembakan diarahkan ke tribun selatan, satu ke tribun utara, dan tiga ke lapangan.
Aksi tersebut memicu gelombang kepanikan luar biasa di kalangan penonton. Penonton berdesakan menuju pintu keluar yang justru menjadi titik jatuhnya banyak korban.

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Foto Prabowo-Gibran Dipasang di Salib Merah saat Demo di Monas, PMKRI: Simbol Dua Pendosa
