
Carlos de Mello.
JawaPos.com — Sejak awal kemunculan kompetisi Galatama hingga era Liga 1, pemain asing selalu menjadi daya tarik besar sepak bola Indonesia. Di antara ratusan nama yang pernah berkarier di Tanah Air, pemain asal Amerika Latin mendominasi dengan bakat luar biasa dan kontribusi signifikan.
Pemain dari Amerika Latin tidak hanya menghadirkan skill tinggi, tetapi juga menjadi ikon bagi klub-klub yang mereka bela. Salah dua di antaranya adalah Jacksen F. Tiago dan Carlos de Mello, yang membela Persebaya Surabaya dan meninggalkan jejak heroik.
Jacksen F. Tiago tiba di Indonesia pada 1994 sebagai bagian dari angkatan pertama legiun asing di era Liga Indonesia. Striker asal Brasil ini pertama kali bergabung dengan Petrokimia Putra dan langsung mencicipi final Liga Indonesia I, meskipun harus kalah 0-1 dari Persib Bandung.
Setelah dua musim tanpa gelar, Jacksen memutuskan hijrah ke Persebaya Surabaya pada musim 1996/1997. Keputusan ini terbukti tepat, karena Jacksen berhasil mengantarkan Green Force meraih gelar juara sekaligus menjadi top scorer dengan torehan 26 gol.
Musim tersebut menjadi puncak karier Jacksen sebagai pemain di Indonesia. Selain mencetak banyak gol, ia juga menjadi simbol kejayaan Persebaya Surabaya pada masa itu dan idola suporter Persebaya Surabaya, Bonek.
Namun, kontribusi Jacksen tidak berhenti setelah gantung sepatu pada 2002. Ia melanjutkan kariernya sebagai pelatih dan membawa Persebaya juara Divisi I pada 2003 serta Divisi Utama pada 2004.
Prestasi sebagai pelatih terus berlanjut ketika Jacksen bergabung dengan Persipura Jayapura. Bersama Mutiara Hitam, ia meraih tiga gelar Indonesia Super League (ISL) dan membawa tim ini konsisten bersaing di level Asia.
Keberhasilan Jacksen tidak hanya soal gelar, tetapi juga kedekatannya dengan Indonesia. Selama belasan tahun di sini, ia menguasai bahasa Jawa dan akrab dengan budaya lokal, termasuk menjadi penggemar rawon, makanan khas Jawa Timur.
Legenda lain yang tidak bisa dilepaskan dari cerita heroik Persebaya Surabaya adalah Carlos de Mello. Playmaker Brasil ini bergabung dengan Green Force pada musim 1996/1997 dan langsung mencetak sejarah bersama klub.
Carlos menjadi tandem ideal bagi Jacksen F. Tiago, menciptakan kombinasi mematikan yang sulit dihentikan lawan. Umpan terukur dan teknik samba khas Brasil membuatnya menjadi pusat permainan Persebaya Surabaya.
Jacksen F Tiago (kiri) legenda Persebaya dari Brasil. (Istimewa)
Pada musim 1996/1997, Carlos dan Jacksen mengantarkan Persebaya menjadi juara Liga Indonesia. Gelar ini semakin istimewa karena Green Force juga menjadi tim dengan gaya bermain atraktif yang disegani di seluruh Indonesia.
Setelah meninggalkan Persebaya Surabaya, Carlos melanjutkan kariernya di klub lain, termasuk PSM Makassar, di mana ia kembali meraih gelar juara pada musim 1999/2000. Meski begitu, namanya tetap dikenang sebagai salah satu ikon Persebaya Surabaya.
Kehadiran pemain seperti Jacksen dan Carlos menunjukkan pemain asing dari Amerika Latin tidak hanya datang untuk mencari nafkah. Mereka juga menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah klub-klub Indonesia.
Selain dua nama tersebut, ada banyak pemain Amerika Latin lainnya yang juga meninggalkan jejak di Liga Indonesia. Misalnya, Luciano Leandro yang menjadi playmaker legendaris PSM Makassar dan Persija Jakarta.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
