
Rendi Irwan ketika latihan bersama Deltras Sidoarjo. Liga 2 Indonesia 2024/2025 akan digelar pada September 2024. (Instagram/@deltras.official)
Oleh: Rendi Irwan, Mantan pemain sepak bola Jatim di PON 2008
’’Ren, nek sido juara, awakmu njaluk opo?’’ Saya ditanya seperti itu oleh Ketua Pengprov PSSI Jatim Haruna Soemitro. Tepat sehari sebelum laga final sepak bola PON XVII/2008 digelar.
Saya jawab ngawur saja: ’’Saya mau sepeda motor Yamaha Mio.’’ Motor matik memang sedang booming saat itu. Permintaan saya dikabulkan. Semua pemain bakal mendapatkan motor Yamaha Mio. Asal, Jatim bisa keluar sebagai juara.
Babak final dimulai. Jatim menghadapi tim kuat, Papua. Kami keluar sebagai juara. Menang dengan skor tipis 1-0. Dan, tebak siapa yang mencetak gol kemenangan. Saya! Usai laga, saya dapat motor plus bonus pribadi dari Pak Haruna.
Selama PON 2008, Haruna sudah seperti bapak bagi semua pemain. Sosok seperti itu memang dibutuhkan dalam tim. Termasuk bagi skuad sepak bola Jatim di PON XXI/2024. Apalagi, mereka akan menghadapi Jabar di babak final malam nanti.
Saya tidak asal bicara. Ini semua berdasar pengalaman. Saya tahu betul bagaimana sosok ’’bapak’’ yang bisa memengaruhi mental pemain. Saya kasih contoh, ya. Di akhir babak penyisihan, kami kalah 1-2 oleh Papua Barat. Mental teman-teman down.
Tapi, ada saja cara Pak Haruna mengangkat mental pemain. Kami diajak pengajian. Salat jemaah bareng dengan ustad. Lalu, menyambangi panti asuhan. Memberi sumbangan. Secara perlahan, mental pemain terangkat. Acara seperti itu juga menambah chemistry antar pemain. Sampai kami bangkit dan menjadi juara.
Sosok bapak itu mungkin sekarang diemban coach Fakhri Husaini. Beliau membawa Jatim jadi tim yang solid. Cuma, ada satu pertanyaan besar: Apakah mereka mampu membawa pulang medali emas setelah 16 tahun? Saya sih cukup yakin.
Ada satu pertanda. Yakni, jalan menuju final yang nyaris sama. Pada 2008, kami mengalahkan tuan rumah Kaltim 2-0. Setelah itu main di final dan bablas jadi juara. Kemarin, Jatim mengalahkan Aceh sebagai tuan rumah dengan skor 3-2. Saya harap kali ini juga sama: main di babak final dan bablas juara.
Pesan saya cuma satu: jadilah petarung sejati. Itu adalah simbol dari sepak bola Jatim. Jangan sampai hilang di babak final. Kalau mau menjadi juara, memang harus wani. Ingat, jangan pernah grogi saat masuk lapangan. Jangan mikir musuh sebagai tim kuat. Lawan saja!
Oh iya, sekalian saya wanti-wanti. Buat adik-adik, jangan egois ya. Saya tahu laga nanti akan menarik banyak perhatian. Dilihat banyak pelatih top. Baik dari Liga 1 maupun Liga 2. Kemudian berharap tawaran datang setelah gelaran PON selesai.
Tapi, pesan saya, fokus dulu di laga final. Fokus untuk membawa pulang emas. Setelah itu, terserah kalian. Mau main di Liga 1, Liga 2, atau mau jadi PNS sekalipun, tidak ada masalah. Saya hanya berharap satu hal penting untuk kalian: Jadilah juara untuk mengembalikan status Jatim sebagai barometer sepak bola nasional. (gus/c17/bas)

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
