
DULU DAN SEKARANG: Pelatih kiper Persebaya Benny Van Breukelen
Nama di belakang pelatih kiper Persebaya Benny Van Breukelen berbau Belanda. Sama dengan nama kiper legendaris Belanda, Hans Van Breukelen yang membawa Belanda juara Piala Eropa 1988. Seperti apa silsilahnya?
Sidiq Prasetyo, Surabaya
"Kami ada hubungan darah dari jalur kakek. Saya juga pernah bertemu dengan Hans," ungkap Benny Van Breukelen, pelatih kiper Persebaya musim ini kepada JawaPos.com.
Dia bertemu dengan Hans pada 1989 saat dirinya dipanggil Timnas Indonesia untuk Pra Piala Dunia 1989. Bahkan, ingat Benny, dia mendapatkan kaos tangan dari mantan kiper klub PSV Eindhoven, Belanda, tersebut.
"Sayang foto kami hancur saat rumah Mami terkena banjir di Jakarta," ujarnya.
Saat itu, Benny adalah segelintir sosok pesepak bola Indonesia yang mempunyai darah Belanda. Hanya bedanya dengan pemain Timnas Indonesia sekarang, lelaki kelahiran 1963 itu tidak perlu naturalisasi.
"Karena saya lahir di Indonesia dan tinggal di Indonesia. Hanya saat saya lahir, papi masih statusnya warga negara Belanda," ujar Benny. Papi Benny bernama Hainz Van Breukelen.
Benny menceritakan, dia lahir di Rumah Sakit Kisaran Sumut. Ketika itu sang papi masih menjadi administrator di perkebunan Sokfindo, Sumatera Utara.
Karir sepak bola Benny dimulai juga dari Medan. Kali pertama, dia diajak bergabung rekan-rekannya di klub Trisula di Lapangan Gajah Mada. Bakat dan kemampuan menjadi kiper terpantau klub internal PSMS Medan.
"Dari situ saya bisa ikut seleksi PSMS Junior Piala Suratin. Setelah gagal, PSMS melakukan persiapan jangka panjang pada 1979 dan akhirnya menjadi juara dengan mengalahkan Persebaya pada 1980," jelas Benny.
Penampilan di Piala Suratin membuat Benny mulai berani merantau. Jakarta menjadi pilihan.
"Saya masuk klub Galatama waktu itu ikut seleksi di Tunas Inti dengan pelatih Sinyo Aliando. Setelah itu saya pindah Tempo Utama yg manajemennya sama dengan Tunas Inti," papar Benny.
Pada 1983, dia dipanggil PSSI Garuda 1. Hanya Tempo Utama tidak memberikan izin.
"Klub minta saya kembali terus tidak lama Tempo Bubar. Saya balik ke Tunas Inti lagi sampai saya di transfer sama Niac Mitra Galatama," jelas Benny.
Di klub legendaris dari Surabaya itu, Benny bergabung selama tiga musim 1986/1987, 1987/1988,dan 1988/1989. Di musim 1987/1988, Benny menjadi sosok penting ketika NIAC Mitra juara Galatama.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
Live Streaming PSS Sleman vs Garudayaksa FC Final Liga 2 dan Prediksi Skor: Trofi Bergengsi Menanti Pemenang!
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Prancis Hari Ini: Momentum Veda Ega Rebut Pole Position!
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
