Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 Maret 2024 | 17.50 WIB

Kisah Muhammad "Mamak"’ Zein Alhadad, Gabung dari Berdiri hingga NIAC Mitra Surabaya Bubar

DULU DAN SEKARANG: Mamak bersama kapten NIAC Mitra Wayan Diana dengan trofi juara Galatama 1983. Foto kanan, Mamak saat bermain bersama Persija Old Star.

Di sepak bola internasional ada nama Franco Baresi. Dia dikenal karena membela satu klub sepanjang karirnya yakni di AC Milan, Italia. Di Indonesia juga ada yang seperti itu. Namanya Muhammad Zein Alhadad.

Sidiq Prasetyo, Surabaya

DARI muda, rasanya tidak ada yang berubah dari seorang Muhammad Zeil Alhadad. Rambutnya ikal dan panjang. Seperti ketika lelaki yang akrab disapa Mamak ini masih aktif sebagai pesepak bola.

Lelaki kelahiran Surabaya 19 September 1961 itu juga berbeda dengan rekan-rekan seprofesinya. Bagaimana tidak, selama karirnya di lapangan hijau, Mamak hanya membela satu klub.

"Saya ini hanya membela NIAC Mitra dari junior sampai senior. Mulai klub itu berdiri bergabung kompetisi internal Persebaya, kemudian masuk Galatama, hingga NIAC Mitra bubar," kata Mamak.

Bergabungnya Mamak ke Mitra Muda, klub junior milik Mitra yang menjadi cikal bakal NIAC Mitra, dimulai pada 1977. Saat usianya masih 16 tahun. Keputusan yang cukup mengejutkan.

Sebab, sebagai warga keturunan Arab, di lingkungannya tinggal di kawasan Ampel, seharusnya Mamak bergabung dengan Assyabaab.

"Saya diajak pengurus Mitra, Ali Aidit. Saya dinilai punya potensi besar jadi pesepak bola," kenang Mamak.

Ajakan itu tak salah. Mamak mampu menunjukan potensi yang dimiliki. Bahkan, di saat usia yang masih muda, Mamak sudah masuk dalam daftar pemain NIAC Mitra yang berlaga di kompetisi profesional Galatama.

Hanya, kesempatan turun ke lapangan sangat minim. Wajar karena di klub milik A. Wenas tersebut di barisan depan diisi pemain-pemain kenyang pengalaman sekelas Syamsul Arifin dan Djoko Malis.

"Saya ikut membawa NIAC Mitra juara tiga kali yakni Kompetisi 1980/1982 dan 1982/1983 serta 1987/1988. Bahkan bisa disebut sebagai juara tanpa mahkota di musim 1989," ungkap Mamak.

Gelarnya semakin lengkap pada 1987/1988 karena dia dinobatkan juga sebagai pencetak gol terbanyak atau top scorer.

Selain itu, lanjut Mamak, dia pun sukses mengantarkan NIAC Mitra menjuarai turnamen bergengsi Piala Tugu Muda di Kota Semarang, Jawa Tengah, dua kali. Pertama pada 1981 dan berikutnya pada 1987.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore