Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Maret 2024 | 20.52 WIB

Mengingat Rudy William Keeltjes: Pemain Berdarah Belanda Pertama di Persebaya Surabaya

Rudy Keeltjes - Image

Rudy Keeltjes

Nama Rudy Keeltjes masuk dalam jajaran pemain top di Indonesia. Dia sukses membawa tiga klub juara, yakni Persebaya, NIAC Mitra, dan Yanita Utama.

Sidiq Prasetyo, Surabaya

Seorang lelaki dengan postur tinggi menuju sebuah tenda utama dalam sebuah kejuaraan sepak bola kelompok umur di Lapangan Dewaruci, Kodiklatal, pada Minggu (3/3). Tapi sebelum sampai ke tenda, sudah banyak penonton dan pelatih menyalami.

Sosok berkaos merah muda dan bertopi tersebut memang salah satu legenda sepak bola Kota Surabaya dan Indonesia. Namanya, Rudy William Keeltjes. ''Saya datang ke sini mau lihat cucu saya bermain. Dia ikut akademi sepak bola yang saya adalah pembinanya,’’ ungkap Rudy.

Akademi yang dimaksud bernama Keeljes Soccer Academy yang didirikan oleh putranya Stefan Keeltjes yang menjadi asisten pelatih Bali United. Kini, hari-harinya lebih banyak dihabiskan menunggui akademi sepak bola tersebut. Dia ingin mengajari pemain-pemain muda usia tersebut bermain sepak bola yang benar.

Tak salah memang. Semasa menjadi pesepak bola, Rudy dikenal sarat dengan prestasi. Lelaki yang kini berusia 72 tahun tersebut memulai karir sepak bola dari kampung halamannya di Situbondo, Jawa Timur. Menariknya, dia mempunyai darah Belanda.

''Kakek saya asli Belanda, nenek dari Afrika, tepatnya Uganda dan kakek merupakan Kepala Pelabuhan Panarukan (Pelabuhan lama di Situbondo). Sedang Papi Teodores Keeltjes menjadi salah satu kepala pabrik gula di Situbondo,’’ kenang Rudy.

Di masa kecilnya, Rudy tampil menonjol dan membuatnya dipanggil membela PSSS, klub perserikatan Situbondo. Di level junior dengan Rudy di tim, PSSS diantarkan menembus final Piala Soeratin 1972 sebelum takluk di tangan Persija Jakarta di Stadion Menteng. Dari salah pula, bakatnya terendus hingga ke Kota Surabaya.

''Saya bergabung dengan klub Surabaya (klub anggota internal Persebaya) dan bisa masuk Persebaya pada 1975,’’ jelas Rudy yang lahir pada 12 Februari 1952 itu.

''Saya balik ke NIAC Mitra dan menjadi asisten pelatih M. Basri dan ada saat juara kembali Galatama,’’ jelasnya. Basri adalah sosok yang menangani Rudy saat menjadi pemain di Persebaya dan NIAC Mitra

Usai dari NIAC Mitra, dia kemudian dipercaya banyak klub dengan menjadi pelatih kepala. Mulai dari Bentoel Jember, Lampung Putra, Barito Putera, PSS Sleman, dan terakhir sebagai penasihat tim PON Jatim dan Persikab Kabupaten Bandung.

''Saya juga pernah di Tim Indonesia U-19 yang berlatih di Spanyol pada 2014,’’ ungkapnya.

Namun dari semua itu, Persebaya menjadi tim yang paling berkesan ditangani. Apalagi, dia dua kali periode memoles Green Force yakni 2000-2001 dan 2010.

''Pas gak ada uang, saya yang dipilih jadi pelatih. Tapi bagi saya itu bukan masalah karena melatih Persebaya menjadi kepuasan tersendiri,’’ ungkap Rudy.

Pertimbangan lain karena sejak 1975, dia sudah tinggal dan menjadi warga Kota Pahlawan. Itu pula salah satu alasan Rudy menyetujui ketika namanya dipakai sang anak menjadi nama akademi sepak bola.

''Sekarang, saya mau lihat cucu saya bermain. Lain waktu kita lanjutin ngobrolnya,’’ pungkas Rudy. (*)

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore