
TABAH: Gilang Putra Yuliansyah salah satu korban selamat Tragedi Kanjuruhan saat berbincang dengan aremania yang berkunjung ke rumahnya di kawasan Pakis Sabtu (29/10). FOTO: ALFIAN RIZAL/JAWA POS
JawaPos.com-Mata merah, pinggul retak, dan trauma. Itulah yang dirasakan Gilang Putra Yuliansyah setelah tragedi Kanjuruhan (1/10). Kondisi itu belum juga membaik hingga sekarang.
----Bagus Putra Pamungkas, Kabupaten Malang---
Glimbang-glimbung. Hanya itu aktivitas yang bisa dilakukan Gilang Putra Yuliansyah setiap malam tiba. Saat yang lain terlelap, dia justru terjaga.
Dia merasa masih mendengar teriakan minta tolong. Dia dihantui momen-momen mengerikan saat korban terinjak-injak. Segar dalam ingatan Gilang saat dia melewati tumpukan jenazah. Bayangan itu datang setiap malam.
’’Setiap mau tidur pasti ndredek. Makanya, kalau malam saya susah tidur. Saya baru bisa tidur kalau minum obat pemberian dokter,’’ kata Gilang saat ditemui Jawa Pos di rumahnya di kawasan Pakisaji, Kabupaten Malang (29/10).
Memori kelam itu berasal dari insiden Kanjuruhan (1/10). Dia ingat betul saat senapan polisi meletup. Gas air mata melayang tepat di atas kepalanya.
Pemuda 19 tahun itu berada di tribun berdiri gate 12. Dari atas, asap langsung mengepul.
Tiba-tiba, bruk! ’’Suporter dari tribun atas berjatuhan ke bawah,’’ kenangnya.
Gilang panik. Dia berusaha kabur. Tapi, matanya terasa perih. Pandangannya tidak jelas. Dia langsung semaput. ’’Pas sadar, saya sudah pakai oksigen di ruang VIP. Badan basah semua,’’ ungkapnya.
Matanya masih merah. Tapi, Gilang langsung bangun. Dia wira-wiri mencari kakak sepupunya, M. Ubaidillah. Dia melihat ada banyak jenazah ditumpuk. Disambati teriakan minta tolong. Beberapa rumah sakit dia datangi.
’’Ternyata kakak sudah meninggal. Jenazahnya ketemu di Rumah Sakit Wava Husada,’’ tuturnya.
Momen mencari sepupunya itulah yang selalu muncul setiap malam. Sang ayah, Bambang Siswanto, sampai bingung.
’’Sampai kapan anakku bergantung sama obat tidur terus?’’ keluhnya. Sebab, obat tidur juga dianggap kurang efektif. ’’Kadang baru tidur tiga jam, sudah bangun lagi. Habis itu susah tidur lagi,’’ tambahnya.
Bambang kini lebih banyak begadang menemani buah hatinya. Apalagi, kondisi Gilang masih lemah. Pascainsiden, dia memang sempat dirawat lima hari di RSUD Saiful Anwar.
Mendapat perawatan intens. Mulai mata sampai rontgen paru-paru. Tapi, ada satu yang terlewat. ’’Pas pulang, pinggulnya hitam. Kalau dipakai aktivitas sakit,’’ kata Bambang.
Dia tidak berani membawa Gilang kembali ke rumah sakit. Sebab, ada beberapa korban yang cover biayanya ruwet. Infonya, sudah tidak ditanggung kalau pasien sudah pulang ke rumah. Bambang akhirnya membawa Gilang ke sangkal putung.
’’Sudah tiga kali terapi. Alhamdulillah sudah agak baikan,’’ sambung Gilang.
Pinggul boleh membaik, tapi tidak begitu dengan kondisi mata. ’’Mata saya yang sebelah kiri sekarang rabun, Mas,’’ kata Gilang. Dia hanya mengandalkan obat tetes mata dari rumah sakit. ’’Saya teteskan setiap 12 jam sekali,’’ imbuhnya.
Obatnya sudah hampir habis. Tidak ada cover biaya lagi. Sampai saat ini Gilang tidak pernah berobat ke spesialis mata.
Gilang hanya bisa pasrah. Dia masih ingat ucapan dokter RSUD Saiful Anwar yang merawatnya. ’’Dokter tanya, ini gas apa kok matanya seperti mau copot? Kalau gas air mata nggak mungkin seperti ini,’’ kata Gilang menirukan ucapan sang dokter.
Bagi sulung tiga bersaudara itu, dia pernah merasakan efek gas air mata. Tepatnya saat Arema FC melawan Persib Bandung pada musim 2018.
’’Dulu saya cukup tutup mulut dan hidung pakai tangan aja sudah cukup. Yang kemarin nggak. Rasanya pedas dan perih. Bahkan sampai ke tenggorokan,’’ ucap pria yang bekerja sebagai salah satu penjaga pemandian di Pakisaji itu.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
