
TAKUMI MINAMINO - ASNAWI MANGKUALAM
JawaPos.com - Hajime Moriyasu. Nama itu tidak pernah saya lupakan. Dia sosok luar biasa. Baik ketika menjadi pelatih, ataupun dulu saat masih bermain.
Saya dan Hajime pernah tergabung di dalam satu tim J-League, yakni Sanfrecce Hiroshima. Tepatnya ketika saya bermain di sana sekitar tahun 1995-1996.
Satu musim saja, tapi dia memberikan saya banyak kenangan. Hajime adalah kapten tim. Di sepak bola Jepang, bisa menjabat sebagai kapten tim bukan hal yang main-main. Kapten sosok yang sangat dihormati, punya peran penting.
Hajime benar-benar mencerminkan sosok ’kapten’ tersebut. Dia mampu menjadikan Sanfrecce Hiroshima saat itu menjadi satu kesatuan yang luar biasa. Pemain lokal dan asing seperti keluarga.
Saat latihan maupun pertandingan, dia sangat membuat kami semua nyaman. Kami semua sering diundang ke rumahnya, makan malam bersama.
Saat masih bermain, Hajime adalah tipikal pemain yang mau belajar. Dia memperhatikan dengan serius arahan pelatih. Tak sungkan pula bertanya jika merasa tidak jelas.
Ketika jadi pelatih, yang saya tahu, keinginan untuk terus belajar itu tetap ada. Dia bahkan datang ke Eropa untuk mempelajari taktikal sepak bola yang baik. Hajime sosok yang sangat terbuka dengan pengetahuan baru.
Sukses? Saya rasa iya. Buktinya dia cukup lama menangani timnas Jepang. Tentu tidaklah mudah. Persaingan di posisinya sangat ketat.
Di tangannya, Jepang menjelma menjadi kekuatan yang disegani di level dunia. Hajime sukses memadukan, memotivasi, dan memberi pemahaman kepada para pemain kapan mereka harus bermain dan duduk di bench untuk jadi cadangan.
Soal Piala Asia, benar Jepang bermain di bawah standar dalam dua pertandingan awal. Menurut saya, pertandingan melawan Iraq menunjukkan kelemahan mereka: kerap terlambat panas.
Jepang harus mengubah itu jika ingin jadi juara. Perlu diingat, tampil buruk di pertandingan awal bukan berarti bakal gagal.
Soal lawan Indonesia malam ini, jika Jepang masih terlambat panas, bisa jadi keuntungan bagi Indonesia. Indonesia bisa memanfaatkan itu untuk mencetak gol.
Yang terpenting, Indonesia harus percaya diri. Jika pemain Indonesia menampilkan semua kemampuan, habis-habisan, mungkin saja skor akhir bisa 0-0 ataupun 1-1.
Kalian (Indonesia) punya kesempatan lolos ke babak berikutnya. Penting untuk terus bersemangat tanpa kenal takut. (*/ttg)

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
