
TERTINGGAL: Strategi Shin Tae-yong tidak berjalan baik di babak pertama ketika Indonesia menghadapi Libya dalam laga uji coba di Turki. (PSSI)
JawaPos.com – Babak pertama pertandingan seru antara Timnas Indonesia dan Libya diwarnai oleh strategi direct ball yang mematikan dari pasukan Libya.
Dengan keunggulan 1-0 melalui gol Ahmed Ekrawa, Indonesia harus mengejar ketertinggalan di babak kedua. Berikut ini adalah liputan eksklusif jawapos.com tentang pertandingan sengit tersebut.
Pressing Tinggi dan Taktik Direct Ball, Ancaman Nyata dari Libya
Pertandingan dimulai dengan Timnas Indonesia mengenakan jersey merah-merah, sementara Libya tampil dengan jersey putih-hitam. Dalam babak pertama, formasi 4-4-2 diterapkan, tetapi tekanan tinggi dari Libya membuat Indonesia kesulitan mengembangkan permainan.
Pada menit 0-15, Indonesia memberikan tekanan awal melalui flank kiri mereka. Peluang dari Rafael Struick dan Saddil Ramdani menjadi ancaman nyata, namun barisan Libya berhasil menahan serangan tersebut. Hasilnya, Timnas Indonesia lebih dominan dalam penguasaan bola.
Namun, kecepatan dan taktik direct ball menjadi senjata utama Libya. Pada menit keenam, peluang emas dari Ekrawa mengguncang pertahanan Indonesia, tetapi masih menyamping dari gawang Syahrul Trisna. Para pemain Libya terus memanfaatkan kekosongan di antara lini belakang dan kiper Indonesia, menghasilkan peluang berbahaya.
Strategi Direct Ball Membuat Indonesia Kewalahan
Pertandingan berjalan semakin sengit di menit 16-30. Ekrawa dan Khoja terus merepotkan lini belakang Indonesia, dengan tembakan ke gawang yang cukup mengancam. Hasilnya, pada menit ke-25, Libya berhasil unggul 1-0 melalui gol Ekrawa yang tak terantisipasi.
Selain itu, Fadel Ali Salama dan para pemain Libya terus menekan dan memanfaatkan setiap celah di pertahanan Indonesia. Meskipun terdapat pelanggaran di luar kotak penalti yang memberikan tendangan bebas bagi Indonesia, upaya untuk menyamakan kedudukan belum membuahkan hasil.
Kesulitan Menerobos Pressing Tinggi Libya
Memasuki menit 31-45, pelatih Milutin Sredojevic berhasil menerapkan strategi direct ball dengan baik, mengatur tempo serangan untuk mengungguli taktik yang diterapkan oleh Shin Tae-yong bagi Indonesia. Pressing tinggi dari Libya membuat Indonesia kesulitan keluar dari tekanan, sementara umpan-umpan tidak akurat menjadi masalah utama bagi Garuda.
Dendi Sulistyawan dan Yacob Sayuri mencoba menciptakan peluang dari flank kiri Indonesia, namun belum mampu membobol gawang lawan. Umpan-umpan yang tidak akurat dan kebingungan saat masuk ke final third membuat peluang-peluang tersebut berakhir sia-sia.
Terlalu Naik atau Terlambat Turun, Masalah Dua Fullback Indonesia
Selain itu, terlihat bahwa dua fullback Indonesia terlalu naik dan terlambat turun, meninggalkan jalur serangan terbuka bagi pemain-pemain Libya. Strategi direct ball yang dimainkan dengan kecepatan membuat Indonesia harus waspada terhadap serangan balik yang cepat dan tajam.
Kesimpulan Babak Pertama: Indonesia Tertinggal 1-0

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
